Bagaimana Perangkat Pintar Berbagi Data dan Mengapa Itu Bisa Berbahaya?
Internet of Things telah mengubah dunia dengan menghubungkan miliaran perangkat, mulai dari ponsel, kamera, hingga alat rumah tangga. Namun kini muncul tahap baru yang lebih menarik, yaitu Social Internet of Things atau SIoT. Dalam sistem ini, perangkat tidak hanya terhubung secara teknis, tetapi juga membentuk hubungan seperti jejaring sosial. Perangkat dapat mengenali, merekomendasikan, dan bekerja sama dengan perangkat lain berdasarkan tujuan dan kepercayaan. Konsep ini membuat dunia digital semakin menyerupai dunia manusia, di mana hubungan dan interaksi menjadi kunci.
Bayangkan sebuah kota pintar di mana kamera lalu lintas, lampu jalan, dan kendaraan otonom saling mengenal dan bertukar informasi. Kamera dapat memberi tahu kendaraan tentang kondisi jalan, sementara kendaraan memberi tahu sistem kota tentang kemacetan atau kecelakaan. Semua ini terjadi dalam kerangka sosial digital yang membuat layanan menjadi lebih cepat dan lebih relevan. SIoT membuka peluang besar bagi efisiensi dan kenyamanan, tetapi juga membawa risiko baru yang tidak bisa diabaikan.
Baca juga artikel tentang: Teknologi Pintar Yang Mengubah Cara Gedung Menggunakan Listrik
Dalam SIoT, setiap perangkat memiliki identitas dan hubungan. Sebuah sensor di rumah dapat memiliki hubungan dengan ponsel pemiliknya, dengan termostat, dan dengan layanan kota. Hubungan ini memungkinkan perangkat untuk saling berbagi data dan membuat keputusan bersama. Namun semakin banyak hubungan yang terbentuk, semakin kompleks pula sistemnya. Kompleksitas ini menciptakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berniat jahat.

Kerangka Social Internet of Things di mana perangkat pintar, manusia, dan layanan saling berinteraksi melalui jaringan internet dengan mempertimbangkan identitas, kepercayaan, lokasi, dan proaktivitas (Kakulapati, 2026).
Salah satu tantangan terbesar adalah kepercayaan. Dalam jejaring sosial manusia, kita memilih dengan siapa kita berbagi informasi. Dalam SIoT, perangkat juga harus menentukan perangkat mana yang dapat dipercaya. Jika sebuah perangkat palsu berhasil masuk ke dalam jaringan sosial ini, ia dapat menyebarkan informasi yang salah atau mencuri data dari perangkat lain. Serangan semacam ini bisa menyebabkan kekacauan dalam sistem yang bergantung pada kerja sama antar perangkat.
Privasi juga menjadi isu penting. Perangkat SIoT mengumpulkan dan berbagi data yang sangat rinci tentang aktivitas manusia. Data ini dapat mencakup lokasi, kebiasaan, dan bahkan preferensi pribadi. Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa sangat merugikan. Oleh karena itu, sistem SIoT harus memiliki mekanisme untuk melindungi data dan membatasi siapa yang dapat mengaksesnya.
Keamanan jaringan dalam SIoT juga lebih rumit dibandingkan IoT biasa. Dalam jaringan tradisional, biasanya ada pusat kendali yang mengatur segalanya. Dalam SIoT, hubungan bersifat lebih terdistribusi dan dinamis. Perangkat dapat bergabung dan keluar dari jaringan sosial kapan saja. Kondisi ini membuat pengawasan dan pengendalian menjadi lebih sulit. Sistem keamanan harus mampu mengikuti perubahan ini tanpa mengganggu kinerja.
Para peneliti mengusulkan berbagai pendekatan untuk mengatasi tantangan ini. Salah satunya adalah penggunaan model kepercayaan. Setiap perangkat dapat diberi skor kepercayaan berdasarkan riwayat interaksi dan perilakunya. Perangkat dengan skor rendah dapat dibatasi aksesnya atau bahkan dikeluarkan dari jaringan. Pendekatan ini mirip dengan cara manusia menilai reputasi di jejaring sosial.
Enkripsi juga tetap menjadi alat penting. Data yang dibagikan antar perangkat harus dilindungi agar tidak dapat dibaca atau diubah oleh pihak luar. Selain itu, mekanisme autentikasi memastikan bahwa perangkat yang bergabung dalam jaringan benar benar adalah perangkat yang sah. Tanpa autentikasi yang kuat, jaringan sosial perangkat akan mudah disusupi.
Kecerdasan buatan dapat membantu mengelola keamanan SIoT. Dengan menganalisis pola komunikasi dan perilaku perangkat, sistem dapat mendeteksi aktivitas yang mencurigakan. Misalnya, jika sebuah perangkat tiba tiba mengirimkan data dalam jumlah besar ke banyak perangkat lain, sistem dapat menandainya sebagai potensi ancaman. Deteksi dini seperti ini penting untuk mencegah penyebaran serangan.
SIoT juga membawa tantangan etika. Ketika perangkat membuat keputusan berdasarkan data dan hubungan sosial digital, pertanyaan muncul tentang siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Jika sebuah sistem otomatis menyebabkan kerugian atau membahayakan keselamatan, siapa yang harus bertanggung jawab. Pertanyaan ini perlu dijawab melalui kebijakan dan regulasi yang jelas.
Meskipun tantangannya besar, potensi SIoT juga sangat besar. Dalam lingkungan seperti bangunan pintar, SIoT dapat membuat sistem keamanan lebih adaptif. Kamera, sensor, dan sistem akses dapat bekerja sama untuk mendeteksi dan merespons ancaman secara lebih efektif. Dalam kota pintar, SIoT dapat meningkatkan layanan publik dengan memungkinkan perangkat untuk berkoordinasi secara otomatis.
Masa depan dunia yang semakin terhubung kemungkinan akan semakin sosial, bahkan bagi mesin. SIoT menunjukkan arah baru di mana perangkat tidak hanya berfungsi secara individual, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan sosial yang kompleks. Keamanan menjadi fondasi utama agar sistem ini dapat dipercaya. Dengan pendekatan yang tepat, SIoT dapat membawa manfaat besar tanpa mengorbankan privasi dan keselamatan.
Ketika benda pintar mulai bersosialisasi, manusia perlu memastikan bahwa hubungan digital ini dibangun di atas dasar yang aman dan etis. Dunia yang saling terhubung dapat menjadi lebih cerdas dan efisien, tetapi hanya jika kita mampu mengelola risiko yang menyertainya.
Baca juga artikel tentang: Bagaimana Machine Learning Mengubah Cara Gedung Menggunakan Energi?
REFERENSI:
Kakulapati, V. 2026. Security Challenges in Social Internet of Things Systems (SIoT). Social Internet of Things (SIoT) and Machine Learning—Enhancing Interconnectivity and Intelligence, 259-273.








