Daftar isi
Warga Eropa menyambut isu lingkungan dengan kepedulian yang tinggi dan semakin sadar bahwa perubahan iklim memengaruhi kesehatan ekonomi, keamanan pangan, dan kualitas hidup. Uni Eropa lalu merancang European Green Deal sebagai strategi besar untuk menurunkan emisi karbon, memperluas energi terbarukan, dan mengubah cara industri serta kota beroperasi. Namun dukungan publik terhadap kebijakan ini tidak selalu setara dengan kepedulian terhadap lingkungan. Banyak orang ingin udara bersih dan iklim yang stabil tetapi tetap merasa ragu ketika kebijakan hijau hadir dalam bentuk pajak, subsidi, dan aturan baru yang menyentuh kehidupan sehari hari.
Penelitian yang dilakukan oleh Markus Kollberg dan rekan rekan mencoba memahami mengapa sikap ini muncul. Mereka mempelajari bagaimana warga di Jerman, Prancis, dan Polandia menilai paket kebijakan hijau Uni Eropa. Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tidak hanya memikirkan dampak iklim saat mengambil keputusan. Mereka juga mempertimbangkan soal keadilan ekonomi, distribusi biaya, dan peran Uni Eropa dalam mengatur negara negara anggotanya.
Baca juga artikel tentang: Merek, Harga, Dan Rasa Ragu: Rahasia Di Balik Penjualan Material Bangunan Ramah Lingkungan
European Green Deal sebenarnya bukan hanya tentang menanam lebih banyak pohon atau memasang panel surya. Program ini mencakup investasi besar untuk membangun kembali sistem energi, memperbaiki gedung agar lebih hemat listrik, serta mendukung industri agar lebih bersih. Semua itu membutuhkan dana publik yang besar. Dana tersebut berasal dari pajak dan anggaran bersama Uni Eropa. Di sinilah muncul pertanyaan penting di benak warga. Siapa yang membayar dan siapa yang menikmati manfaatnya.
Peneliti merancang sebuah eksperimen survei yang meminta ribuan responden memilih antara berbagai paket kebijakan hijau. Setiap paket memiliki ciri berbeda. Ada yang lebih fokus pada daerah tertinggal. Ada yang memasukkan program pelatihan ulang pekerja. Ada juga yang mengandalkan anggaran Uni Eropa atau anggaran nasional. Dengan cara ini para peneliti bisa melihat kombinasi kebijakan mana yang paling menarik bagi publik.

Hasilnya menunjukkan bahwa warga Eropa pada dasarnya tidak menolak kebijakan iklim. Mereka bahkan menyambut investasi hijau jika kebijakan itu membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan meningkat tajam ketika dana hijau diarahkan ke wilayah yang tertinggal. Orang merasa lebih adil ketika daerah yang selama ini kurang berkembang ikut mendapatkan peluang dari transisi hijau. Ini memberi kesan bahwa kebijakan lingkungan bukan hanya untuk kota kaya atau perusahaan besar tetapi juga untuk komunitas kecil dan daerah pedesaan.
Dukungan juga naik ketika kebijakan mencakup program pelatihan ulang bagi pekerja. Banyak industri lama seperti pertambangan atau manufaktur berat akan berubah atau menyusut akibat transisi hijau. Pekerja di sektor tersebut khawatir kehilangan pekerjaan. Namun ketika kebijakan menawarkan pelatihan dan jalur karier baru, rasa takut itu berkurang. Orang lebih bersedia menerima perubahan ketika mereka melihat masa depan yang lebih aman untuk diri mereka dan keluarga mereka.
Masalah utama muncul ketika kebijakan hijau bergantung pada redistribusi dana di tingkat Uni Eropa. Banyak warga merasa tidak nyaman jika pajak dari negara mereka mengalir ke negara lain. Perasaan ini lebih berkaitan dengan sikap terhadap integrasi Eropa daripada dengan isu iklim itu sendiri. Di beberapa negara orang mendukung kerja sama Eropa. Di negara lain orang lebih berhati hati dan ingin mempertahankan kendali nasional. Ketika kebijakan hijau terlihat memperkuat kekuasaan Uni Eropa, sebagian pemilih menjadi ragu.
Penelitian ini menunjukkan bahwa warga melakukan perhitungan untung dan rugi yang sangat rumit. Mereka menimbang manfaat lingkungan dengan biaya ekonomi. Mereka membandingkan keuntungan bagi negara mereka dengan manfaat bagi Eropa secara keseluruhan. Mereka memikirkan apakah kebijakan tersebut menciptakan peluang kerja atau justru membebani industri lokal. Dengan kata lain mereka tidak bertanya hanya apakah kebijakan itu hijau tetapi juga apakah kebijakan itu adil dan masuk akal.
Temuan ini membawa pelajaran penting bagi pembuat kebijakan. Jika pemerintah ingin masyarakat mendukung transisi hijau, mereka perlu merancang kebijakan yang juga menyentuh kebutuhan sosial dan ekonomi. Menjelaskan bahaya perubahan iklim memang penting. Namun orang juga ingin tahu bagaimana kebijakan tersebut akan memengaruhi dompet mereka, pekerjaan mereka, dan masa depan daerah tempat mereka tinggal.
Para peneliti menemukan bahwa cara pemerintah mengomunikasikan kebijakan juga berpengaruh besar. Ketika Green Deal disajikan sebagai proyek lingkungan semata, sebagian orang merasa kebijakan itu jauh dari kehidupan mereka. Namun ketika pemerintah menekankan bahwa investasi hijau bisa menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kemandirian energi, dan memperkuat ekonomi lokal, dukungan meningkat. Orang lebih mudah menerima kebijakan ketika mereka melihat manfaat langsung di sekitar mereka.
Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya kepercayaan politik. Warga yang percaya pada lembaga Uni Eropa lebih cenderung mendukung kebijakan hijau tingkat Eropa. Sebaliknya warga yang merasa jauh dari pusat kekuasaan atau tidak yakin dengan cara dana dibelanjakan cenderung bersikap hati hati. Oleh karena itu transparansi dan akuntabilitas memainkan peran penting dalam keberhasilan kebijakan iklim.
Meski fokus penelitian ini berada di Eropa, pelajarannya berlaku di banyak tempat. Di berbagai negara orang menghadapi dilema serupa. Mereka menginginkan udara bersih dan iklim yang stabil tetapi juga mengkhawatirkan biaya hidup dan pekerjaan. Transisi hijau akan berhasil hanya jika kebijakan mampu menjembatani kepentingan lingkungan dan kebutuhan sosial.
Penelitian ini mengingatkan bahwa isu iklim bukan sekadar persoalan teknis. Isu ini menyentuh cara masyarakat memandang keadilan, identitas, dan masa depan. Ketika kebijakan hijau mampu menjawab pertanyaan tersebut, dukungan publik bisa tumbuh kuat. Ketika kebijakan mengabaikannya, resistensi akan muncul meski tujuannya baik.
Warga Eropa tidak menolak perubahan demi lingkungan. Mereka menuntut agar perubahan itu berjalan dengan adil dan masuk akal. Mereka ingin ikut serta dalam masa depan hijau tanpa merasa tertinggal. Inilah kunci agar European Green Deal dan kebijakan iklim di mana pun bisa benar benar berhasil.
Baca juga artikel tentang: Fosfogipsum: Limbah Berbahaya Yang Bisa Menjadi Bahan Bangunan Masa Depan
REFERENSI:
Kollberg, Markus dkk. 2026. Green but cautious. How preferences on European integration shape public opinion on the European Green Deal. Journal of European Public Policy 33 (2), 555-582.





