Daftar isi
Kebijakan renovasi energi rumah memainkan peran penting dalam upaya dunia mengurangi emisi karbon dan menekan biaya energi rumah tangga. Pemerintah di banyak negara mendorong masyarakat untuk memperbaiki isolasi bangunan, mengganti jendela lama, atau memasang sistem pemanas yang lebih efisien agar konsumsi energi turun secara signifikan. Spanyol menjadi salah satu negara yang mencoba menerapkan berbagai kebijakan ini, namun hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Sebuah penelitian besar yang dilakukan pada ribuan warga Spanyol mencoba memahami bagaimana masyarakat memandang kebijakan tersebut dan apakah mereka benar benar merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari hari.
Penelitian ini menggunakan survei nasional yang melibatkan lebih dari lima ribu responden dari berbagai latar belakang, termasuk pemilik rumah, penyewa, dan penjual properti. Para peneliti tidak hanya mengumpulkan data tentang kondisi rumah dan tingkat pendapatan, tetapi juga menggali bagaimana orang memahami kebijakan pemerintah tentang renovasi energi. Dengan pendekatan ini, mereka ingin mengetahui bukan hanya apakah kebijakan tersedia, tetapi juga apakah kebijakan itu terasa relevan dan berguna bagi masyarakat.
Baca juga artikel tentang: Bagaimana Machine Learning Mengubah Cara Gedung Menggunakan Energi?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tempat tinggal sangat memengaruhi cara orang menilai kebijakan renovasi. Orang yang tinggal di rumah dengan isolasi buruk, suhu yang tidak nyaman, atau tagihan listrik yang tinggi cenderung melihat kebijakan pemerintah sebagai sesuatu yang penting dan bermanfaat. Mereka merasakan secara langsung ketidaknyamanan dan beban biaya sehingga melihat renovasi sebagai solusi nyata. Sebaliknya, orang yang tinggal di rumah yang relatif nyaman sering menganggap kebijakan tersebut kurang mendesak karena mereka tidak merasakan masalah besar dalam keseharian mereka.
Kesadaran tentang manfaat tambahan rumah hemat energi juga berperan besar. Banyak orang awalnya berpikir bahwa renovasi hanya berkaitan dengan penghematan energi atau pengurangan emisi karbon. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang memahami manfaat lain seperti kenyamanan termal, kualitas udara yang lebih baik, dan suasana rumah yang lebih sehat cenderung lebih mendukung kebijakan tersebut. Informasi tentang manfaat ini meningkatkan minat masyarakat untuk mempertimbangkan renovasi sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas hidup mereka.

Faktor usia dan lamanya tinggal di rumah juga memengaruhi persepsi masyarakat. Orang yang lebih tua dan mereka yang sudah lama tinggal di satu rumah biasanya lebih peduli pada kenyamanan jangka panjang. Mereka juga memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dengan rumahnya, sehingga lebih tertarik pada perbaikan yang meningkatkan kualitas tempat tinggal. Sebaliknya, banyak penyewa muda merasa bahwa renovasi bukan prioritas karena mereka tidak yakin akan tinggal lama di satu tempat. Mereka juga sering tidak melihat keuntungan langsung dari investasi pada rumah yang bukan milik mereka.
Penelitian ini menemukan perbedaan menarik antara kelompok sosial. Perempuan dan orang yang lebih tua cenderung lebih menyukai kebijakan berbasis informasi seperti kampanye kesadaran dan penjelasan manfaat renovasi. Mereka menghargai pengetahuan yang membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik. Kelompok dengan pendapatan lebih tinggi, di sisi lain, lebih tertarik pada insentif finansial seperti potongan pajak atau subsidi karena mereka memiliki kemampuan untuk berinvestasi lebih besar dalam renovasi rumah.
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah rendahnya respons dari penyewa muda. Banyak dari mereka tidak mengetahui manfaat rumah hemat energi atau tidak merasa bahwa kebijakan pemerintah ditujukan kepada mereka. Hal ini berbahaya bagi target jangka panjang karena kelompok ini akan menjadi generasi utama penghuni rumah di masa depan. Jika mereka tidak terlibat sejak sekarang, laju perbaikan bangunan akan tetap lambat.
Penelitian ini juga menyoroti peran penting hambatan administratif. Banyak responden merasa bahwa proses untuk mendapatkan subsidi atau potongan pajak terlalu rumit. Mereka harus mengisi banyak formulir, memahami aturan yang berbeda, dan berurusan dengan berbagai lembaga. Kerumitan ini membuat banyak orang menyerah bahkan sebelum memulai. Kebijakan yang secara teori sangat menarik dapat kehilangan daya tariknya jika prosedurnya terasa menyulitkan.
Selain itu, fragmentasi lembaga dan aturan memperburuk keadaan. Ketika informasi tersebar di banyak sumber dan tidak konsisten, masyarakat merasa bingung dan ragu. Mereka tidak yakin apakah mereka memenuhi syarat, bagaimana cara mendaftar, atau berapa besar manfaat yang akan mereka terima. Situasi ini mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dan menurunkan tingkat partisipasi.
Temuan dari Spanyol ini memberikan pelajaran penting bagi negara lain. Banyak negara menghadapi tantangan serupa, yaitu tingkat renovasi rumah yang rendah meskipun mereka memiliki target iklim yang ambisius. Penelitian ini menawarkan kerangka berpikir yang berguna untuk mengevaluasi apakah kebijakan yang ada benar benar menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan memahami siapa yang merasa terbantu dan siapa yang tertinggal, pemerintah dapat menyesuaikan strategi mereka.
Kebijakan yang efektif harus mempertimbangkan keragaman situasi sosial dan ekonomi. Pemilik rumah berpenghasilan tinggi mungkin membutuhkan insentif keuangan untuk bergerak lebih cepat, sedangkan keluarga berpenghasilan rendah membutuhkan dukungan tambahan dalam bentuk informasi yang jelas dan bantuan administratif. Penyewa membutuhkan pendekatan khusus yang melibatkan pemilik properti agar renovasi juga menguntungkan bagi mereka.
Penelitian ini menegaskan bahwa transisi menuju rumah hemat energi tidak hanya bergantung pada teknologi atau dana. Faktor manusia memainkan peran yang sangat besar. Persepsi, kepercayaan, dan pemahaman masyarakat menentukan apakah kebijakan berhasil atau gagal. Ketika orang melihat renovasi sebagai sesuatu yang rumit atau tidak relevan, mereka cenderung mengabaikannya.
Masa depan perumahan yang rendah emisi karbon memerlukan pendekatan yang lebih manusiawi. Pemerintah perlu menyampaikan kebijakan dalam bahasa yang mudah dipahami dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari hari. Orang ingin tahu bagaimana kebijakan itu membuat rumah mereka lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih murah untuk ditinggali.
Dengan menggabungkan insentif keuangan yang adil, informasi yang jelas, dan prosedur yang sederhana, pemerintah dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Ketika kebijakan terasa dekat dengan kebutuhan nyata, orang akan lebih siap untuk berinvestasi dalam rumah mereka. Pada akhirnya, rumah yang lebih hemat energi tidak hanya membantu mencapai target iklim, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup jutaan keluarga.
Baca juga artikel tentang: ACP, Material Ringan Yang Mengubah Wajah Arsitektur Kota
REFERENSI:
Marmolejo-Duarte, Carlos dkk. 2026. Households’ perceptions of the efficacy of retrofit policies to boost efficient homes in Spain. Energy Policy 210, 115059.





