Mengapa Blockchain Akan Menjadi Standar Baru Green Building?
Perusahaan membutuhkan informasi yang akurat untuk menghasilkan produk yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Sayangnya, informasi mengenai asal bahan baku, proses produksi, pengujian kualitas, hingga distribusi sering tersebar di banyak perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok. Kondisi ini membuat pengambilan keputusan menjadi lebih sulit karena setiap pelaku hanya memiliki sebagian informasi. Akibatnya, risiko kesalahan meningkat, biaya operasional bertambah, dan kualitas produk menjadi lebih sulit dijaga. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi blockchain dapat menjadi solusi untuk meningkatkan transparansi dalam green supply chain. Dengan memanfaatkan sistem pencatatan digital yang aman dan sulit dimanipulasi, seluruh pihak dalam rantai pasok dapat melihat informasi yang sama sehingga keputusan bisnis menjadi lebih tepat, kualitas produk lebih terjamin, dan tujuan pembangunan berkelanjutan lebih mudah dicapai.
Gagasan tersebut dibahas dalam penelitian yang dilakukan oleh Qin Su bersama rekan penelitinya mengenai pengambilan keputusan berdasarkan keterlihatan kualitas dalam green supply chain menggunakan teknologi blockchain. Penelitian ini mengkaji bagaimana sistem transparansi berbasis blockchain mampu membantu perusahaan mengurangi ketidakpastian mengenai kualitas produk. Peneliti menggunakan pendekatan teori permainan untuk memahami bagaimana pemasok, produsen, dan pengecer mengambil keputusan ketika mereka memiliki tingkat informasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blockchain mampu meningkatkan keterlihatan kualitas produk sehingga membantu perusahaan memilih strategi yang lebih tepat, meningkatkan keuntungan, mengurangi risiko kualitas, serta memperkuat efisiensi operasional seluruh rantai pasok.
Baca juga artikel tentang: Hemat Biaya Hingga 26 Persen: Strategi Cerdas Pengelolaan Energi Di Gedung Modern
Green supply chain merupakan konsep yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh proses rantai pasok. Perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga berusaha mengurangi emisi karbon, menggunakan energi secara lebih efisien, memilih material yang lebih ramah lingkungan, serta mengurangi limbah pada setiap tahapan produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses manufaktur, distribusi, hingga pengelolaan produk setelah masa pakainya berakhir, seluruh aktivitas dirancang agar memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil.
Mewujudkan tujuan tersebut ternyata tidak mudah. Sebuah produk biasanya melewati banyak perusahaan sebelum sampai ke tangan konsumen. Sebagai contoh, sebuah panel surya yang dipasang pada bangunan hijau dapat melibatkan perusahaan penambang bahan baku, produsen sel surya, pabrik perakitan, perusahaan logistik, distributor, hingga kontraktor yang memasangnya di lapangan. Setiap perusahaan menyimpan data masing masing mengenai kualitas produk, proses produksi, maupun hasil pengujian. Ketika data tersebut tidak saling terhubung, perusahaan lain kesulitan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi produk.
Penelitian ini memperkenalkan konsep quality visibility atau keterlihatan kualitas. Konsep tersebut menggambarkan kemampuan seluruh pelaku dalam rantai pasok untuk melihat informasi mengenai kualitas produk secara lengkap dan tepat waktu. Semakin tinggi tingkat keterlihatan kualitas, semakin mudah perusahaan mengetahui apakah suatu produk memenuhi standar yang telah ditentukan. Informasi tersebut juga membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih baik mengenai pembelian, distribusi, maupun pengendalian kualitas.
Blockchain menjadi teknologi yang sangat menjanjikan untuk mendukung tujuan tersebut. Berbeda dengan basis data konvensional yang biasanya dikelola oleh satu organisasi, blockchain menyimpan data secara terdistribusi sehingga seluruh pihak yang memiliki izin dapat mengakses informasi yang sama. Setiap transaksi dicatat secara permanen dan tidak mudah diubah tanpa persetujuan jaringan. Karakteristik tersebut membuat blockchain memiliki tingkat keamanan dan kepercayaan yang sangat tinggi.
Dalam konteks green supply chain, blockchain dapat merekam perjalanan suatu produk sejak awal hingga sampai kepada pengguna akhir. Informasi mengenai asal bahan baku, proses produksi, hasil inspeksi kualitas, sertifikasi lingkungan, hingga proses distribusi dapat tersimpan dalam satu sistem yang saling terhubung. Ketika terjadi masalah kualitas, perusahaan dapat menelusuri penyebabnya dengan cepat tanpa harus mencari data dari berbagai sumber yang berbeda.
Sebagai contoh, bayangkan sebuah proyek pembangunan gedung hijau yang menggunakan baja rendah karbon. Melalui blockchain, seluruh perjalanan baja tersebut dapat dicatat secara digital. Informasi mengenai lokasi penambangan bijih besi, proses peleburan, konsumsi energi selama produksi, hasil pengujian kualitas, hingga proses pengiriman menuju lokasi proyek dapat diakses oleh seluruh pihak yang memiliki kewenangan. Jika ditemukan cacat material pada saat konstruksi, penyebabnya dapat ditelusuri secara lebih cepat sehingga tindakan perbaikan dapat segera dilakukan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kebutuhan informasi tidak selalu sama untuk setiap produk. Produk dengan kualitas yang relatif stabil tidak membutuhkan sistem informasi yang sangat kompleks. Sebaliknya, produk yang memiliki variasi kualitas tinggi atau mudah mengalami perubahan memerlukan tingkat transparansi yang lebih besar. Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan perlu menyesuaikan investasi pada sistem informasi dengan karakteristik produknya agar biaya yang dikeluarkan tetap efisien.

Ilustrasi ini menunjukkan bagaimana teknologi blockchain meningkatkan visibilitas kualitas dalam green supply chain dengan menyediakan data yang transparan, dapat ditelusuri, aman, dan real time dari bahan baku hingga konsumen sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara biaya sistem keterlihatan kualitas dengan keputusan perusahaan. Ketika manfaat transparansi lebih besar dibandingkan biaya implementasi, perusahaan cenderung bersedia berinvestasi pada sistem blockchain. Namun dalam beberapa kondisi, kepentingan pemasok tidak selalu sejalan dengan kepentingan seluruh rantai pasok. Oleh karena itu, perusahaan utama atau pengecer dapat memberikan insentif kepada pemasok agar mereka bersedia berbagi informasi secara lebih terbuka. Pendekatan tersebut terbukti mampu meningkatkan keuntungan bersama sekaligus memperbaiki kualitas pengambilan keputusan.
Temuan penelitian ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan perkembangan smart building. Sebuah bangunan pintar terdiri atas ribuan komponen yang berasal dari berbagai pemasok. Material seperti baja, semen, kaca, panel surya, sensor, kabel, pendingin udara, hingga sistem otomatisasi diproduksi oleh perusahaan yang berbeda. Pengembang perlu memastikan bahwa seluruh komponen tersebut memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan yang telah ditetapkan. Blockchain memberikan sarana untuk menyimpan seluruh informasi tersebut dalam satu sistem yang mudah ditelusuri.
Sebagai contoh, sensor yang dipasang pada smart building dapat memiliki identitas digital yang mencatat tanggal produksi, hasil pengujian, lokasi pemasangan, hingga riwayat pemeliharaan. Ketika sensor mengalami gangguan, pengelola gedung dapat mengetahui penyebabnya dengan lebih cepat tanpa harus melakukan pemeriksaan secara manual terhadap seluruh sistem. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi biaya pemeliharaan.
Green building juga memperoleh manfaat yang sangat besar dari penerapan blockchain. Saat ini berbagai sertifikasi bangunan hijau semakin menekankan pentingnya transparansi mengenai asal usul material, kandungan karbon, serta proses produksi setiap komponen bangunan. Blockchain menyediakan bukti digital yang lebih terpercaya karena seluruh data tersimpan secara permanen dan sulit dimanipulasi. Hal ini mempermudah proses audit sekaligus meningkatkan kepercayaan investor, penghuni, maupun pemerintah terhadap bangunan hijau.
Teknologi blockchain juga dapat dikombinasikan dengan Internet of Things dan sensor pintar. Sensor dapat mengirimkan data secara otomatis mengenai kondisi material, suhu penyimpanan, kelembapan, atau proses distribusi. Seluruh informasi tersebut kemudian dicatat ke dalam blockchain sehingga setiap perubahan kondisi produk dapat dipantau secara waktu nyata. Integrasi seperti ini menciptakan rantai pasok yang jauh lebih transparan dibandingkan sistem konvensional.
Bagi Indonesia, hasil penelitian ini memiliki arti yang sangat penting. Pembangunan gedung hijau, kawasan industri, dan infrastruktur terus meningkat setiap tahun. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap transparansi rantai pasok juga semakin besar. Pengembang, kontraktor, produsen material, dan pemerintah membutuhkan sistem yang mampu memastikan bahwa seluruh material benar benar memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan. Blockchain memberikan peluang untuk membangun sistem tersebut sehingga proses pembangunan menjadi lebih efisien dan lebih dapat dipercaya.
Masyarakat juga akan memperoleh manfaat langsung dari perkembangan teknologi ini. Penghuni bangunan dapat mengetahui asal usul material yang digunakan, jejak karbon setiap komponen, hingga sertifikasi lingkungan yang dimiliki hanya melalui informasi digital yang tersedia. Transparansi seperti ini akan meningkatkan kepercayaan terhadap konsep green building sekaligus mendorong perusahaan untuk terus menjaga kualitas produknya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan green supply chain tidak hanya bergantung pada penggunaan material ramah lingkungan atau penerapan teknologi produksi yang efisien. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak untuk berbagi informasi secara terbuka, akurat, dan dapat dipercaya. Blockchain menghadirkan fondasi baru yang memungkinkan setiap produk memiliki riwayat digital yang lengkap sejak awal hingga akhir siklus hidupnya. Dalam dunia smart building dan green building, kemampuan tersebut akan menjadi salah satu pilar penting untuk menciptakan industri konstruksi yang lebih transparan, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan bagi masa depan.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Mengubah Limbah Telur Menjadi Material Bangunan Masa Depan
REFERENSI:
Su, Qin dkk. 2026. Decision-Making for Quality Visibility in Green Supply Chain Based on Blockchain Technology. International Game Theory Review 28 (01), 2440018.








