Daftar isi
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence kini hadir di mana mana. Ia membantu kita memesan makanan, memprediksi cuaca, mengatur lalu lintas, hingga mengelola jaringan listrik. Banyak orang berharap AI juga bisa menjadi alat penting untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim. Namun sebuah pertanyaan besar muncul dari para ilmuwan. Apakah AI benar benar membuat dunia menjadi lebih hijau atau justru diam diam memperparah polusi.
Pertanyaan ini menjadi inti dari riset terbaru yang diterbitkan di jurnal Energy Policy pada tahun 2026 oleh Angel Melguizo dan timnya. Mereka menganalisis data dari 23 negara menengah dan maju untuk melihat hubungan antara perkembangan AI, penggunaan energi terbarukan, dan emisi karbon dioksida. Hasilnya mengejutkan dan sekaligus memberi harapan.
Baca juga artikel tentang: Merek, Harga, Dan Rasa Ragu: Rahasia Di Balik Penjualan Material Bangunan Ramah Lingkungan
Banyak orang mengira bahwa AI otomatis membantu menghemat energi. Contohnya, AI bisa mematikan lampu dan pendingin ruangan saat ruangan kosong, mengatur lalu lintas agar kendaraan tidak macet, atau mengoptimalkan jaringan listrik. Semua ini memang mengurangi pemborosan energi. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahap awal, adopsi AI justru membuat konsumsi energi dan emisi karbon meningkat.
Alasannya sederhana tetapi sering terlupakan. AI membutuhkan infrastruktur besar untuk bekerja. Pusat data atau data center harus menyala dua puluh empat jam sehari untuk memproses jutaan perhitungan. Komputer super dan server membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Selain itu, pelatihan model AI canggih seperti sistem pengenalan gambar atau bahasa membutuhkan energi setara dengan ratusan bahkan ribuan rumah tangga.
Di banyak negara, listrik masih berasal dari batu bara, gas, dan minyak. Ketika AI berkembang pesat, permintaan listrik ikut naik. Jika listrik ini berasal dari bahan bakar fosil, maka emisi karbon ikut melonjak. Itulah sebabnya pada tahap awal, negara yang mulai serius mengembangkan AI sering melihat kenaikan emisi.
Para peneliti menemukan bahwa hubungan antara AI dan lingkungan tidak berjalan lurus. Mereka menggunakan konsep yang disebut kurva Kuznets lingkungan. Dalam versi klasiknya, kurva ini menggambarkan bahwa saat sebuah negara mulai tumbuh secara ekonomi, polusi meningkat. Namun setelah mencapai tingkat pendapatan tertentu, negara itu mulai berinvestasi dalam teknologi bersih, regulasi, dan energi terbarukan sehingga polusi menurun.

Hal yang sama ternyata berlaku untuk AI. Pada tahap awal, AI meningkatkan konsumsi energi dan emisi. Namun setelah investasi AI mencapai tingkat tertentu, arah dampaknya berbalik. AI mulai membantu negara mengurangi emisi dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai green AI Kuznets curve.
Menurut hasil riset, titik balik ini terjadi ketika belanja AI per kapita berada di kisaran sekitar dua ratus dua puluh hingga lima ratus delapan puluh dolar Amerika per orang. Di atas angka ini, AI mulai memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Ketika sebuah negara sudah cukup maju dalam pengembangan AI, teknologi ini mulai digunakan untuk hal hal yang lebih canggih dan berdampak besar. AI dapat memprediksi kapan panel surya akan menghasilkan listrik maksimal, kapan angin bertiup paling kuat, dan bagaimana menyeimbangkan jaringan listrik agar tidak ada energi terbuang. Ini sangat penting karena energi terbarukan bersifat tidak stabil. Matahari tidak selalu bersinar dan angin tidak selalu bertiup.
AI juga membantu industri mengurangi limbah dan menghemat bahan baku. Pabrik dapat menggunakan AI untuk mengatur mesin agar bekerja lebih efisien, mengurangi produk gagal, dan menekan konsumsi energi. Di sektor transportasi, AI mengoptimalkan rute sehingga kendaraan menggunakan bahan bakar lebih sedikit.
Di bidang gedung dan kota pintar, AI mengatur pemanasan, pendinginan, dan pencahayaan berdasarkan jumlah orang, cuaca, dan kebiasaan penghuni. Semua ini berkontribusi pada pengurangan emisi.
Dengan kata lain, ketika AI sudah cukup matang dan terintegrasi ke dalam sistem energi dan industri, manfaat lingkungannya mulai melampaui biaya energinya sendiri.
Riset ini juga menunjukkan adanya kesenjangan besar antarnegara. Saat ini, hanya negara yang benar benar memimpin dalam AI seperti Amerika Serikat dan Singapura yang sudah berada di sisi hijau dari kurva tersebut. Banyak negara lain masih berada di tahap awal, di mana AI justru memperburuk jejak karbon mereka.
Ini menciptakan semacam kesenjangan teknologi hijau. Negara kaya yang mampu berinvestasi besar dalam AI dan energi terbarukan menikmati manfaat lingkungan, sementara negara lain menanggung biaya lingkungan tanpa mendapatkan keuntungan yang sama.
Para peneliti memperingatkan bahwa tanpa kerja sama internasional, ketimpangan ini bisa semakin lebar. Negara maju akan menjadi semakin hijau dan efisien, sementara negara berkembang terjebak dalam sistem energi kotor yang diperparah oleh teknologi baru.
Studi ini membawa pesan penting bagi para pembuat kebijakan. Pertama, AI tidak boleh dikembangkan tanpa strategi energi yang jelas. Negara yang ingin memajukan AI harus memastikan bahwa listrik yang memberi makan pusat data dan infrastruktur digital berasal dari sumber yang bersih.
Kedua, investasi dalam AI dan energi terbarukan harus berjalan bersama. Jika sebuah negara hanya membangun pusat data tanpa membangun panel surya, turbin angin, atau jaringan listrik pintar, maka AI akan menjadi beban bagi lingkungan.
Ketiga, transparansi sangat penting. Perusahaan teknologi dan operator pusat data perlu melaporkan berapa banyak energi yang mereka gunakan dan dari mana energi itu berasal. Tanpa data ini, sulit menilai apakah AI benar benar menjadi bagian dari solusi iklim.
Keempat, dunia membutuhkan kerja sama global dalam tata kelola AI dan energi. Emisi karbon tidak mengenal batas negara. Jika satu negara menggunakan listrik kotor untuk melatih AI yang kemudian digunakan secara global, dampaknya tetap dirasakan oleh semua orang.
Penelitian ini tidak mengatakan bahwa AI itu baik atau buruk bagi lingkungan. AI lebih mirip pisau yang tajam. Ia bisa membantu memotong pemborosan dan emisi, tetapi juga bisa melukai bumi jika digunakan tanpa arah yang tepat.
Masa depan AI yang hijau bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini. Apakah kita akan membiarkan pusat data tumbuh di atas energi batu bara, atau kita akan mengaitkan kemajuan digital dengan revolusi energi bersih.
Jika dunia berhasil melewati fase awal yang boros energi dan mencapai fase AI yang matang dan terintegrasi dengan energi terbarukan, maka AI bisa menjadi salah satu alat terkuat dalam melawan perubahan iklim. Namun tanpa kebijakan yang tepat, AI justru berisiko menjadi mesin pemanas global yang baru.
Studi ini memberi peringatan sekaligus harapan. Teknologi saja tidak cukup. Arah dan tata kelola menentukan apakah masa depan digital kita akan menjadi masa depan yang hijau atau justru semakin kelabu.
Baca juga artikel tentang: Fosfogipsum: Limbah Berbahaya Yang Bisa Menjadi Bahan Bangunan Masa Depan
REFERENSI:
Melguizo, Angel dkk. 2026. Can AI grow green? Evidence of a Kuznets curve among AI, renewable energies and emissions. Energy Policy 208, 114883.





