Daftar isi
Kota modern terus bertumbuh dan berubah. Gedung bertambah tinggi, jalan semakin ramai, dan ruang terbuka semakin berharga. Di tengah perubahan itu, orang tetap menginginkan satu hal yang sederhana yaitu berjalan di jalan kota yang terasa nyaman, aman, dan menyenangkan. Wajah jalan atau streetscape menjadi bagian penting dari kualitas hidup di kota. Streetscape mencakup bangunan di sepanjang jalan, pepohonan, trotoar, bangku, papan nama, pencahayaan, dan ruang terbuka yang terlihat oleh mata ketika seseorang berjalan atau berkendara.
Penelitian terbaru dari Taichung City di Taiwan menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat membantu mengukur dan memahami kualitas streetscape secara lebih objektif dan efisien. Para peneliti menggunakan teknik deep learning, yaitu cabang dari kecerdasan buatan yang mampu mengenali pola dalam gambar, untuk menilai seberapa baik kualitas lingkungan jalan di berbagai kawasan kota. Tujuannya sederhana namun penting yaitu membantu perencana kota menciptakan jalan yang lebih nyaman bagi warganya.
Baca juga artikel tentang: Merek, Harga, Dan Rasa Ragu: Rahasia Di Balik Penjualan Material Bangunan Ramah Lingkungan
Selama ini, penilaian kualitas jalan biasanya mengandalkan survei manual atau pendapat ahli. Metode ini sering memakan waktu lama, mahal, dan cenderung subjektif karena bergantung pada persepsi manusia. Dengan bantuan komputer yang mampu melihat dan menganalisis ribuan gambar, penilaian bisa menjadi lebih konsisten dan cepat.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengumpulkan foto-foto jalan dari berbagai area di Taichung. Mereka lalu melatih sistem kecerdasan buatan untuk mengenali elemen elemen penting dalam sebuah streetscape. Sistem ini mampu mengidentifikasi bangunan, pohon, ruang terbuka, warna fasad, lebar jalan, hingga seberapa luas langit yang terlihat. Semua elemen itu berperan dalam membentuk kesan visual dan kenyamanan sebuah jalan.

Agar penilaian tidak hanya bergantung pada komputer, peneliti juga menggunakan metode Delphi dan Analytic Hierarchy Process atau AHP. Metode ini melibatkan para ahli untuk menentukan faktor apa saja yang paling penting dalam kualitas streetscape. Dari proses ini, mereka menetapkan lima kategori utama dan enam belas faktor penilaian. Lima kategori tersebut mencakup penghijauan jalan, proporsi jalan dan bangunan, keterbukaan ruang, elemen visual, dan fasilitas jalan.

Hasilnya cukup menarik. Penghijauan atau keberadaan tanaman dan pepohonan di sepanjang jalan muncul sebagai faktor paling penting, dengan kontribusi lebih dari tiga puluh tiga persen terhadap kualitas keseluruhan. Ini berarti manusia secara alami sangat menghargai keberadaan alam di tengah lingkungan perkotaan. Pohon memberi keteduhan, udara lebih segar, dan rasa tenang yang tidak bisa digantikan oleh beton.
Sebaliknya, proporsi jalan dan bangunan memiliki pengaruh paling kecil. Faktor ini tetap penting, tetapi orang ternyata lebih sensitif terhadap warna, cahaya, dan kehadiran hijau daripada sekadar ukuran jalan atau tinggi bangunan.
Peneliti juga menemukan bahwa seberapa luas langit yang terlihat dari jalan dan keserasian warna bangunan menjadi faktor visual yang sangat menentukan. Jalan yang memungkinkan orang melihat langit dengan jelas terasa lebih terbuka dan tidak menekan. Warna bangunan yang serasi juga membuat mata lebih nyaman dan suasana lebih rapi.
Untuk menguji sistem kecerdasan buatan, para peneliti menerapkannya pada tiga area terkenal di Taichung. Area di sekitar National Taichung Theater mendapat skor kualitas tertinggi sekitar delapan puluh dua persen. Kawasan ini terkenal dengan ruang terbuka, desain bangunan modern, dan penghijauan yang baik. Sebaliknya, Shuren Business District mencatat skor terendah sekitar lima puluh sembilan persen. Kawasan bisnis ini lebih padat, minim ruang hijau, dan terasa lebih tertutup. Audit New Village berada di tengah dengan skor sekitar enam puluh tiga persen.
Menariknya, hasil dari kecerdasan buatan sejalan dengan hasil kuesioner yang diisi oleh warga dan pengunjung. Analisis statistik menunjukkan hubungan positif yang kuat antara penilaian manusia dan skor dari sistem komputer. Ini membuktikan bahwa teknologi ini mampu menangkap persepsi manusia secara cukup akurat.
Apa arti semua ini bagi kota masa depan. Pertama, teknologi seperti ini memberi alat baru bagi pemerintah dan perencana kota. Mereka bisa memetakan kualitas streetscape di seluruh kota tanpa harus mengirim tim survei ke setiap sudut. Kamera dan kecerdasan buatan dapat melakukan tugas ini secara terus menerus dan memperbarui data ketika lingkungan berubah.
Kedua, sistem ini membantu mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan. Jika suatu jalan memiliki skor rendah karena kurang pohon atau warna bangunan yang tidak serasi, pemerintah dapat merancang intervensi yang lebih tepat. Misalnya menambah pepohonan, memperlebar trotoar, atau mendorong renovasi fasad bangunan.
Ketiga, teknologi ini mendukung konsep kota berkelanjutan dan kota hijau. Streetscape yang baik bukan hanya soal estetika, tetapi juga kesehatan dan lingkungan. Jalan yang lebih hijau menurunkan suhu, menyerap polusi, dan mendorong orang untuk berjalan kaki atau bersepeda. Semua itu berkontribusi pada pengurangan emisi dan peningkatan kualitas hidup.
Bagi masyarakat umum, manfaatnya terasa dalam kehidupan sehari hari. Orang akan lebih menikmati berjalan di lingkungan yang rindang, terang, dan tertata. Anak anak bisa bermain lebih aman, lansia merasa lebih nyaman, dan aktivitas ekonomi lokal bisa berkembang karena orang betah berlama lama di ruang publik.
Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat bekerja bersama manusia. Komputer memberikan analisis cepat dan objektif, sementara manusia tetap berperan dalam menentukan nilai dan prioritas. Kolaborasi ini menciptakan pendekatan yang lebih seimbang dalam merancang kota.
Ke depan, pendekatan seperti ini dapat diterapkan di banyak kota lain. Setiap kota memiliki karakter unik, tetapi prinsip dasarnya sama. Orang ingin lingkungan yang ramah, hijau, dan menyenangkan. Dengan data visual dan kecerdasan buatan, kota bisa belajar dari dirinya sendiri dan terus memperbaiki ruang publiknya.
Wajah jalan kota bukan sekadar latar belakang kehidupan urban. Ia membentuk pengalaman, kesehatan, dan kebahagiaan warganya. Penelitian dari Taichung menunjukkan bahwa teknologi modern dapat membantu kita memahami dan merancang streetscape dengan cara yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Di masa depan, kota pintar bukan hanya kota yang penuh sensor dan data, tetapi kota yang benar benar terasa nyaman untuk dihuni.
Baca juga artikel tentang: Fosfogipsum: Limbah Berbahaya Yang Bisa Menjadi Bahan Bangunan Masa Depan
REFERENSI:
Ou, Shengjung dkk. 2026. Building Models to Assess Streetscape Quality Preferences Using Deep Learning Techniques: Comparative Analysis of Different Street Types in Taichung City. Sage Open 16 (1), 21582440251411031.





