Daftar isi
Banyak orang berpikir bahwa dunia menghadapi dua pilihan ekstrem dalam menghadapi krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Di satu sisi ada gagasan green growth, yaitu keyakinan bahwa ekonomi bisa terus tumbuh sambil menjadi lebih ramah lingkungan melalui teknologi dan inovasi. Di sisi lain ada degrowth, yaitu pandangan bahwa manusia harus mengurangi produksi dan konsumsi secara keseluruhan agar bumi bisa pulih. Penelitian terbaru dari Jacob Hasselbalch dan Mathias Larsen menunjukkan bahwa membatasi masa depan hanya pada dua pilihan ini justru menyederhanakan masalah yang jauh lebih kompleks.
Penelitian mereka berangkat dari satu pertanyaan penting. Apakah dunia benar benar harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau perlindungan lingkungan. Jawaban mereka cukup mengejutkan. Para peneliti menemukan bahwa perdebatan ini sering terjebak dalam apa yang mereka sebut sebagai “false binary”, yaitu pemisahan palsu antara dua kubu seolah olah hanya ada dua jalan yang mungkin.
Baca juga artikel tentang: Merek, Harga, Dan Rasa Ragu: Rahasia Di Balik Penjualan Material Bangunan Ramah Lingkungan
Untuk memahaminya, kita perlu melihat dulu apa yang dimaksud dengan green growth. Pendukung green growth percaya bahwa teknologi seperti energi terbarukan, mobil listrik, bangunan hemat energi, dan industri bersih bisa memungkinkan ekonomi terus berkembang tanpa merusak alam. Dalam pandangan ini, pertumbuhan ekonomi dianggap perlu untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan membiayai inovasi hijau. Negara negara maju sering menggunakan pendekatan ini dengan investasi besar pada teknologi ramah lingkungan.
Sebaliknya, degrowth berangkat dari kritik terhadap sistem ekonomi modern. Pendukungnya berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang terus menerus pada akhirnya akan menabrak batas alam. Sumber daya bumi terbatas, sementara produksi dan konsumsi manusia terus meningkat. Dalam pandangan ini, upaya membuat pertumbuhan menjadi hijau dianggap tidak cukup cepat atau tidak cukup kuat untuk menghentikan kerusakan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Karena itu, degrowth mengusulkan untuk mengurangi konsumsi, memendekkan jam kerja, dan mengubah gaya hidup agar lebih sederhana.

Masalahnya, menurut penelitian ini, dunia nyata tidak sesederhana itu. Ketika para peneliti mempelajari literatur ilmiah dan kebijakan di berbagai negara, mereka menemukan bahwa baik green growth maupun degrowth sebenarnya memiliki banyak variasi di dalamnya. Tidak semua pendukung green growth percaya pada teknologi tanpa batas, dan tidak semua pendukung degrowth menolak inovasi atau kemajuan.
Misalnya, ada pendekatan green growth yang sangat kritis terhadap konsumsi berlebihan dan menekankan perubahan gaya hidup. Ada juga pendekatan degrowth yang tetap mendukung penggunaan teknologi bersih dan sistem energi modern. Artinya, kedua kubu ini tidak sepenuhnya berlawanan seperti yang sering digambarkan dalam debat publik.
Para peneliti memetakan perbedaan dan persamaan ini dalam sembilan dimensi penting, termasuk cara negara mengatur ekonominya, bagaimana dunia internasional bekerja sama, serta bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dipahami. Dari pemetaan ini terlihat bahwa ada banyak titik temu. Keduanya sama sama ingin mengurangi emisi karbon, melindungi ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Perbedaannya lebih banyak terletak pada strategi dan penekanan.
Di sinilah muncul gagasan utama penelitian ini. Daripada memaksa dunia memilih satu kubu, kita perlu membuka ruang bagi berbagai kemungkinan masa depan ekonomi hijau. Para peneliti menyebutnya sebagai “pluralitas multidimensi masa depan pertumbuhan”. Dalam bahasa sederhana, ini berarti kita bisa membayangkan banyak cara berbeda untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan ramah lingkungan, tidak hanya satu atau dua model.
Dalam praktiknya, ini berarti kebijakan publik bisa lebih fleksibel. Negara dengan tingkat kemiskinan tinggi mungkin masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya, tetapi pertumbuhan itu bisa diarahkan ke sektor yang rendah emisi dan ramah alam. Negara kaya yang sudah memiliki tingkat konsumsi tinggi bisa fokus pada pengurangan pemborosan, daur ulang, dan ekonomi sirkular. Kedua pendekatan ini tidak harus saling meniadakan.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa perdebatan green growth versus degrowth sering menjadi sangat politis dan emosional. Ketika orang menganggap satu pendekatan sebagai satu satunya jalan yang benar, diskusi menjadi buntu. Padahal tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi sangat beragam di setiap wilayah dunia. Apa yang masuk akal untuk Eropa mungkin tidak cocok untuk Afrika atau Asia Tenggara.
Dengan melihat masa depan sebagai sesuatu yang jamak dan beragam, kita bisa lebih realistis. Misalnya, kota besar dengan teknologi tinggi bisa mengembangkan sistem transportasi listrik, bangunan pintar, dan jaringan energi terbarukan. Pada saat yang sama, komunitas pedesaan bisa memperkuat pertanian berkelanjutan, energi lokal, dan gaya hidup yang lebih sederhana. Keduanya berkontribusi pada tujuan yang sama, yaitu menurunkan tekanan terhadap planet.
Gagasan ini juga penting bagi dunia usaha dan inovasi. Perusahaan sering merasa terjebak antara tuntutan untuk tumbuh dan tekanan untuk menjadi lebih hijau. Dengan pendekatan yang lebih plural, perusahaan bisa mengejar keuntungan sambil tetap menghormati batas lingkungan, misalnya melalui efisiensi energi, desain produk yang tahan lama, dan layanan berbasis berbagi daripada kepemilikan.
Bagi masyarakat umum, pesan penelitian ini cukup membebaskan. Kita tidak harus memilih antara hidup nyaman atau hidup ramah lingkungan. Kita bisa mencari cara hidup yang seimbang, menggunakan teknologi dengan bijak, dan mengurangi hal hal yang tidak perlu. Perubahan kecil dalam pola konsumsi, seperti menghemat energi, mengurangi sampah, dan memilih produk yang lebih berkelanjutan, tetap punya dampak besar jika dilakukan bersama sama.
Penelitian ini mengajak kita untuk berpikir lebih luas tentang masa depan. Alih alih terjebak dalam pertentangan antara tumbuh atau menyusut, kita bisa membayangkan dunia di mana kesejahteraan manusia dan kesehatan planet berjalan beriringan dalam berbagai bentuk. Masa depan hijau bukan satu jalan lurus, melainkan jaringan banyak jalan yang bisa kita pilih dan kombinasikan sesuai kebutuhan.
Dengan cara pandang seperti ini, perdebatan tentang green growth dan degrowth berubah dari pertarungan ide menjadi percakapan tentang kemungkinan. Dan di tengah krisis iklim dan ketidakpastian global, membuka lebih banyak kemungkinan justru menjadi kekuatan terbesar kita.
Baca juga artikel tentang: Fosfogipsum: Limbah Berbahaya Yang Bisa Menjadi Bahan Bangunan Masa Depan
REFERENSI:
Hasselbalch, Jacob & Larsen, Mathias. 2026. Reimagining growth futures: Overcoming the false binary between green growth and degrowth. Ecological Economics 240, 108823.





