CeDSGreeB Ikuti In-House Training Pengukuran Solar Reflectance Index di UPI
Bandung, 7 Oktober 2026 — Tim Centre of Development for Smart and Green Building (CeDSGreeB) mengikuti In-House Training bertajuk “Metode Pengukuran Solar Reflectance Index (SRI) sesuai ASTM E1980″ di Gedung Baru Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.
Pelatihan ini diselenggarakan Balai Teknik Sains Bangunan, Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, bersama Pusat Unggulan Universitas Material dan Energi Bangunan Rendah Emisi (PUU MEB) UPI. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengukuran SRI pada material penutup atap dan perkerasan jalan untuk mendukung penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau (BGH) di Indonesia.
Peserta yang diundang berasal dari Balai Teknik Sains Bangunan, berbagai perguruan tinggi, GBCI, serta produsen material bangunan. Materi disampaikan oleh Dr. Eng. Ar. Beta Paramita, IAI, GP., bersama Haipan Salam, M.Si., Ph.D., melalui sesi paparan, praktik laboratorium, dan diskusi.
Mengapa SRI Penting bagi Bangunan Tropis
Dr. Eng. Beta Paramita, Associate Professor Arsitektur UPI sekaligus pendiri BeCool Indonesia, membuka sesi dengan menjelaskan besarnya paparan radiasi matahari pada bangunan di wilayah tropis. Melalui platform Sustainable Buildings, Cities and Communities (SBCC) dan program Rumah Reflektif Surya Indonesia (RAFLESIA), inisiatifnya telah menghasilkan lebih dari 100 penerapan atap reflektif surya dan meraih pengakuan seperti Million Cool Roofs Challenge serta SEforALL Energy Heroes Award.
Menurutnya, material dengan reflektansi rendah menyerap lebih banyak radiasi matahari sehingga permukaannya memanas dan melepaskan panas ke sekitarnya. Pada skala bangunan, hal ini menambah beban pendinginan dan pada skala kota dapat turut memicu fenomena urban heat island.
SRI menggambarkan kemampuan suatu permukaan menahan kenaikan temperatur saat terkena sinar matahari, dibandingkan dengan permukaan hitam dan putih standar. Nilainya bergantung pada dua sifat, yakni kemampuan memantulkan radiasi matahari dan kemampuan melepaskan kembali panas yang telah diserap
Beta menekankan bahwa material yang tampak serupa belum tentu memberikan respons termal yang sama. Karena itu, pemilihan material atap dan selubung bangunan tidak cukup didasarkan pada warna atau estetika semata.
Dari Spektrum Cahaya ke Angka SRI
Peserta kemudian diajak ke laboratorium untuk melihat langsung pengukuran reflektansi menggunakan spektrofotometer UV–Vis–NIR. Alat ini mampu memindai rentang sekitar 300–2500 nm, mencakup ultraviolet, cahaya tampak, hingga near-infrared yang ikut memanaskan material.

Setelah pengukuran baseline, sampel dipindai untuk memperoleh kurva reflektansi terhadap panjang gelombang. Data ini lalu diberi bobot sesuai spektrum irradiansi matahari standar, karena energi matahari tidak sama besar di setiap panjang gelombang.
Hasil pembobotan berupa solar reflectance kemudian dipadukan dengan thermal emittance dan koefisien konveksi untuk menghitung temperatur permukaan dan nilai SRI. Pada contoh yang diperagakan, material dengan solar reflectance 0,82 dan thermal emittance 0,90 menghasilkan SRI sekitar 103, sedikit di atas permukaan putih referensi.
Pesan pentingnya, kinerja material terhadap panas matahari tidak bisa disimpulkan dari warnanya saja. Material yang tampak terang belum tentu memantulkan energi near-infrared dengan baik.
SRI dan U-Value: Dua Parameter yang Saling Melengkapi
Pada sesi siang, Beta menjelaskan bahwa SRI dan U-value menjawab persoalan yang berbeda. SRI menggambarkan bagaimana permukaan merespons panas matahari, sedangkan U-value menunjukkan seberapa mudah panas menembus elemen bangunan.

Peserta juga melihat demonstrasi pengukuran U-value pada sampel semen, gypsum, dan resin menggunakan perangkat greenTEG gSKIN. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai U dipengaruhi ketebalan dan komposisi sampel, bukan hanya jenis materialnya. Karena durasi pengukuran praktikum hanya sekitar tiga jam, angka yang diperoleh diposisikan sebagai contoh pembelajaran, bukan nilai uji standar.
Menurut Beta, industri membutuhkan lebih dari sekadar angka SRI. Nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi dampak nyata, mulai dari temperatur ruang, kenyamanan termal, hingga kebutuhan AC dan konsumsi energi. Untuk bangunan tanpa AC, indikator kenyamanan seperti PMV dan SET menjadi lebih relevan.
Demonstrasi simulasi energi pada model bangunan 3D memperlihatkan kontribusi konduksi dinding, kaca, infiltrasi, dan solar gain terhadap beban pendinginan. Bangunan dengan bukaan terlalu kecil, misalnya, membutuhkan lampu sekaligus AC, sehingga keputusan desain sejak awal sangat menentukan.
Diskusi juga menyinggung kemungkinan pengetatan persyaratan reflektansi dalam SNI. Perubahan semacam ini akan berdampak pada formulasi, produksi, sertifikasi, dan biaya produk, sehingga perlu mempertimbangkan hasil riset, iklim Indonesia, dan kesiapan industri.
Bekal untuk Pengembangan BENTRO
Bagi CeDSGreeB, pelatihan ini menjadi masukan teknis penting bagi pengembangan konsep Bangunan Niremisi Tropis (BENTRO). Pesannya jelas bahwa bangunan rendah emisi di iklim tropis tidak cukup hanya memakai material dengan SRI tinggi atau U-value rendah.
Karakteristik material perlu dihubungkan dengan desain pasif, orientasi, bukaan, selubung bangunan, sistem pendinginan, dan energi terbarukan. Semuanya kemudian dibuktikan melalui simulasi dan pengukuran kinerja.
Wawasan ini akan dibawa ke agenda FGD CeDSGreeB berikutnya, yang mempertemukan akademisi, pengembang, produsen material, dan pemerintah. Dengan begitu, riset material di laboratorium dapat diterjemahkan menjadi bangunan tropis yang benar-benar hemat energi dan rendah emisi.








