Daftar isi
Jakarta, 28 Oktober 2026 — CeDSGreeB Universitas Gadjah Mada (UGM) diundang sebagai narasumber dalam forum GREEN × SMART BUILDINGS — From Sustainable Buildings to Intelligent Buildings yang diselenggarakan S-IMEX Indonesia bersama bGrid di Lune Ballroom, Mövenpick Hotel Jakarta City Centre, Rabu (28/10). Melalui forum ini, CeDSGreeB membawa perspektif akademis mengenai penerapan bangunan cerdas di Indonesia sekaligus menawarkan pendekatan kolaborasi yang menghubungkan kemampuan industri, penelitian perguruan tinggi, dan kebutuhan pengguna bangunan.
CeDSGreeB diwakili oleh Dr. Nur Abdillah Siddiq dan Dr. Thomas Oka Pratama, yang mengisi sesi UGM/CeDSGreeB mengenai Smart Building in Indonesia. Keduanya menyajikan pembahasan yang saling melengkapi: bagaimana teknologi sensor dan otomasi dapat mendukung kinerja bangunan, serta bagaimana kampus dapat membantu memastikan bahwa teknologi tersebut relevan, terukur manfaatnya, dan berpeluang diterapkan lebih luas.
Forum ini mempertemukan perspektif organisasi bangunan hijau, penyedia teknologi, dan akademisi. Rangkaian agendanya mencakup pembahasan bangunan hijau dan sertifikasi oleh Green Building Council Indonesia (GBCI), presentasi teknologi bGrid oleh CEO Karl Van Ginderdeuren, pemaparan UGM/CeDSGreeB, serta sesi demonstrasi bGrid.Ai. Agenda tanya jawab dan jejaring melengkapi pertukaran pengetahuan mengenai hubungan antara keberlanjutan, data bangunan, dan pengelolaan gedung.
Tema yang diangkat menempatkan bangunan hijau dan bangunan cerdas dalam satu pembahasan yang berkesinambungan. Prinsip keberlanjutan memberi arah mengenai kinerja yang ingin dicapai, sedangkan pengukuran, pengolahan data, dan pengendalian membantu pengelola memahami kondisi bangunan serta menentukan tindakan yang diperlukan. Hubungan keduanya menjadi penting ketika penerapan teknologi harus diterjemahkan menjadi manfaat bagi pemilik, pengelola, dan penghuni.
Dalam presentasi berjudul Green Building to Smart Building, Thomas Oka Pratama membahas fondasi teknis bangunan cerdas, mulai dari penggunaan sensor, integrasi sistem, hingga pengendalian yang mempertimbangkan kebutuhan penghuni. Pembahasannya menempatkan data sebagai dasar untuk memantau dan mengoptimalkan operasi bangunan, termasuk pencahayaan, kondisi termal, kualitas udara dalam ruang, dan sistem tata udara.

Sensor menyediakan informasi mengenai kondisi lingkungan dan aktivitas di dalam bangunan. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada pengendali dan platform pengelolaan, seperti Building Automation System (BAS) dan Building Management System (BMS). Agar proses ini menghasilkan keputusan yang tepat, pemilihan sensor, lokasi pemasangan, dan cara menafsirkan hasil pengukuran perlu diperhatikan sejak tahap perancangan.
Salah satu contoh yang dibahas adalah penggunaan sensor gerak untuk mendeteksi keberadaan penghuni. Sensor yang dipasang pada posisi yang kurang sesuai dapat kesulitan menangkap aktivitas tertentu. Demikian pula, pembacaan sensor cahaya di plafon perlu dikaitkan dengan kondisi pencahayaan pada bidang kerja, tempat penghuni membaca atau melakukan kegiatan. Perbedaan lokasi pengukuran ini dapat memengaruhi kesesuaian respons sistem dengan kebutuhan pengguna.
Pada pengendalian kenyamanan termal, data juga perlu mewakili kondisi yang benar-benar dialami penghuni. Materi Thomas menyoroti pentingnya penempatan sensor dan pengembangan algoritma kendali yang mempertimbangkan iklim, perilaku, serta pola aktivitas. Pengaturan tata udara berdasarkan jadwal tetap dapat dikembangkan menjadi pengendalian yang lebih responsif apabila informasi lingkungan dan penggunaan ruang terhubung dengan sistem kendali.
Perspektif tersebut turut dikaitkan dengan evaluasi pascahuni atau post-occupancy evaluation, yang digunakan untuk memahami kinerja bangunan setelah digunakan. Dalam materi yang mengangkat Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, pembahasan mencakup simulasi aliran udara serta evaluasi kondisi penggunaan bangunan. Pendekatan ini menunjukkan hubungan antara analisis teknis, pengukuran lapangan, dan pengalaman penghuni sebagai masukan bagi pengelolaan gedung.
Thomas juga mengangkat kebutuhan integrasi data, keamanan siber, pencatatan riwayat operasi, konektivitas jarak jauh, dan antarmuka yang mudah digunakan. Sistem yang menghubungkan sensor, pengolahan data, dan kendali perlu dapat dipahami oleh operator maupun manajer bangunan. Dengan demikian, pengembangan bangunan cerdas mencakup kesiapan teknologi sekaligus kemampuan manusia untuk mengoperasikan dan memanfaatkannya.
Melengkapi pembahasan tersebut, Nur Abdillah Siddiq menyampaikan presentasi Universities as Market Enablers. Ia mengangkat peran perguruan tinggi dalam membantu mempertemukan teknologi bangunan cerdas dengan kebutuhan masyarakat dan bukti kinerja di Indonesia. Dalam pendekatan ini, kampus dapat membantu menerjemahkan persoalan pengguna menjadi kebutuhan teknis yang dapat diukur, kemudian menyusun evaluasi yang dapat dipahami bersama oleh penyedia teknologi dan calon pengguna.
Materi Siddiq mengidentifikasi adanya kesenjangan dalam proses adopsi teknologi. Industri membutuhkan kejelasan mengenai persyaratan lokasi, kendala integrasi, dan bukti kinerja produk. Di sisi pengguna, pertimbangan mencakup kesesuaian solusi dengan persoalan yang dihadapi, keterjangkauan biaya operasi, dan keyakinan terhadap hasil yang akan diperoleh. Penelitian dan pengukuran dapat membantu memperjelas pertimbangan tersebut sebelum keputusan penerapan diperluas.
Untuk menggambarkan kontribusi riset, Siddiq memperkenalkan pengembangan jendela cerdas aktif dengan dua fungsi yang dapat dikendalikan, yaitu perubahan transparansi dan pengaturan bukaan. Materi presentasi turut menampilkan aplikasi pemantauan dan kendali jarak jauh yang mencakup pemantauan kondisi ruang, status perangkat, serta pilihan pengoperasian manual atau otomatis. Pengembangan ini memperlihatkan hubungan antara material atau komponen bangunan, perangkat kendali, dan antarmuka pengguna.

Salah satu hasil yang dipaparkan adalah potensi penghematan energi sebesar 16,85 persen pada model bangunan perkantoran di Jakarta, berdasarkan simulasi EnergyPlus yang dirujuk dalam materi presentasi. Angka tersebut merupakan perbandingan skenario D terhadap kaca bening pada model dengan rasio luas jendela terhadap dinding sebesar 70 persen. Hasil ini masih memerlukan validasi lapangan, sehingga menjadi dasar untuk pengujian lebih lanjut terhadap manfaat teknologi dalam kondisi operasi nyata.
Kebutuhan validasi tersebut menjadi bagian penting dari tawaran kolaborasi CeDSGreeB. Kampus dapat berkontribusi melalui audit energi, inventarisasi beban, pengukuran kondisi awal, dan perbandingan kinerja setelah pemasangan teknologi. Evaluasi juga perlu mencakup biaya, kenyamanan, serta keandalan operasi agar keputusan penggunaan teknologi mempertimbangkan manfaat yang dirasakan pengelola dan penghuni.
CeDSGreeB turut membawa pengalaman kemitraan masyarakat melalui pelatihan audit dan manajemen energi yang berlangsung sejak 2024. Dalam materi presentasi, jejaring kegiatan tersebut disebut melibatkan lebih dari 89 institusi, dengan cakupan sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, masjid, dan perkantoran. Kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan memberi konteks mengenai keragaman bangunan, kapasitas pengelola, dan kebutuhan pendampingan dalam upaya meningkatkan efisiensi energi.
Pengalaman ini relevan bagi pengembangan bangunan cerdas karena kebutuhan setiap institusi dapat berbeda. Pengukuran awal membantu mengidentifikasi persoalan yang paling mendesak, sementara pelatihan operator mendukung pemanfaatan teknologi setelah dipasang. Umpan balik dari pengguna selanjutnya dapat menjadi masukan bagi penyempurnaan produk dan sistem.
Untuk menghubungkan pihak-pihak tersebut, Siddiq memaparkan pembagian kontribusi antara industri, kampus, dan masyarakat. Industri menyediakan teknologi, integrasi sistem, instalasi, dan layanan. Perguruan tinggi berkontribusi melalui metode audit, instrumen pengukuran, evaluasi kinerja, dan pelatihan operator. Institusi pengguna membawa kebutuhan, konteks bangunan, data operasi, serta umpan balik yang diperlukan untuk menilai kesesuaian solusi.
Bagi industri, pola kerja ini membuka peluang untuk memperoleh kebutuhan teknis yang lebih jelas, calon mitra uji coba, dan bukti kinerja yang dapat digunakan dalam pengembangan produk maupun pertimbangan investasi. Bagi pengguna, proses evaluasi membantu memperjelas manfaat, biaya, serta kebutuhan pengoperasian teknologi. Sementara bagi kampus, kerja sama tersebut menyediakan ruang penelitian terapan yang berkaitan langsung dengan persoalan lapangan.
Jalur kolaborasi yang ditawarkan terdiri atas diagnosis kebutuhan dan penetapan kondisi awal, demonstrasi solusi pada lokasi yang sesuai, verifikasi hasil beserta biaya operasinya, kemudian replikasi apabila hasil evaluasi mendukung. Dengan urutan ini, perluasan penerapan didasarkan pada pengalaman uji coba dan hasil pengukuran. Setiap proyek percontohan maupun keputusan replikasi tetap memerlukan kesepakatan bersama para pihak.
Partisipasi CeDSGreeB dalam forum bGrid dan S-IMEX Indonesia membawa pembahasan bangunan cerdas ke persoalan penerapan yang konkret: data apa yang perlu dikumpulkan, bagaimana sistem merespons kebutuhan penghuni, siapa yang mengoperasikannya, dan bagaimana manfaatnya dinilai. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghubungkan pengembangan teknologi dengan tujuan peningkatan kinerja bangunan.
Melalui forum GREEN × SMART BUILDINGS, CeDSGreeB UGM menawarkan kontribusi akademis sekaligus membuka peluang penelitian dan pengujian bersama industri. Arah kerja sama yang dibawa adalah pengembangan solusi berdasarkan kebutuhan pengguna, pengujian pada kondisi nyata, dan perluasan penerapan berdasarkan bukti. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung bangunan di Indonesia yang lebih efisien, nyaman, dan mudah dikelola.





