Bisakah Blockchain Menjaga Kota Pintar dari Serangan Siber? Ini Jawaban Para Peneliti

Last Updated: 3 July 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Kota pintar membutuhkan sistem keamanan yang mampu melindungi jutaan data dan perangkat yang bekerja setiap saat. Ketika lampu lalu lintas, jaringan listrik, sistem transportasi, dan layanan publik saling terhubung melalui internet, risiko serangan siber ikut meningkat. Para peneliti kini mengembangkan teknologi blockchain yang lebih aman untuk menjaga infrastruktur kota pintar tetap andal di tengah ancaman digital yang semakin kompleks.

Konsep kota pintar berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kota di dunia mulai memanfaatkan sensor, jaringan komunikasi, kecerdasan buatan, dan Internet of Things untuk mengelola layanan publik secara lebih efisien. Teknologi tersebut membantu pemerintah memantau lalu lintas, mengatur distribusi energi, mengelola penggunaan air, hingga meningkatkan kualitas layanan transportasi umum.

Namun kemajuan teknologi tidak hanya menghadirkan manfaat. Semakin banyak sistem yang terhubung ke internet, semakin luas pula peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melakukan serangan. Peretas dapat mencoba mengubah data, mengganggu layanan penting, atau mencuri informasi yang bernilai tinggi. Dalam konteks kota pintar, dampak serangan seperti ini bisa jauh lebih besar dibandingkan gangguan pada sistem komputer biasa.

Baca juga artikel tentang: Arsitektur Di Era AI: Bagaimana Teknologi Membentuk Kota Yang Lebih Hijau Dan Efisien

Bayangkan jika sistem pengaturan lalu lintas mengalami manipulasi data. Lampu lalu lintas dapat memberikan sinyal yang salah sehingga memicu kemacetan atau bahkan kecelakaan. Bayangkan pula jika jaringan listrik pintar diretas dan data distribusi energinya berubah. Gangguan seperti ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga dapat mengancam keselamatan masyarakat.

Karena alasan itulah para ilmuwan terus mencari cara untuk memperkuat keamanan infrastruktur digital kota pintar. Salah satu pendekatan yang semakin menarik perhatian adalah penggunaan teknologi blockchain.

Banyak orang mengenal blockchain sebagai teknologi yang mendukung mata uang kripto. Padahal teknologi ini memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Blockchain pada dasarnya merupakan sistem pencatatan digital yang menyimpan data secara terdistribusi di banyak komputer. Setiap transaksi atau perubahan informasi harus melalui proses verifikasi sebelum masuk ke dalam sistem.

Keunggulan utama blockchain terletak pada kemampuannya menjaga integritas data. Ketika informasi sudah tercatat, pihak lain akan sangat sulit mengubahnya tanpa diketahui seluruh jaringan. Karakteristik ini membuat blockchain menarik untuk digunakan dalam berbagai aplikasi kota pintar yang membutuhkan keandalan tinggi.

Dalam praktiknya, blockchain dapat mendukung berbagai layanan perkotaan. Sistem ini dapat digunakan untuk mencatat transaksi energi pada jaringan listrik pintar, mengelola identitas digital warga, memantau distribusi logistik, hingga mendukung pembayaran otomatis dalam transportasi publik. Semua proses tersebut membutuhkan data yang akurat dan terlindungi dari manipulasi.

Ilustrasi ini menunjukkan infrastruktur blockchain konsorsium pada smart city yang memverifikasi setiap transaksi secara kolaboratif antar pemangku kepentingan untuk menjamin keamanan, integritas, transparansi, dan keandalan layanan perkotaan.

Meskipun memiliki banyak keunggulan, blockchain tetap menghadapi sejumlah tantangan keamanan. Salah satu ancaman yang paling dikenal adalah serangan mayoritas. Dalam situasi tertentu, kelompok penyerang dapat memperoleh kendali atas sebagian besar mekanisme verifikasi jaringan. Jika hal itu terjadi, mereka berpotensi memengaruhi proses pencatatan transaksi.

Masalah tersebut menjadi perhatian utama dalam penelitian yang dilakukan oleh Nikita M. Okhlopkov dan Maxim O. Kalinin. Penelitian mereka memperkenalkan pendekatan baru yang bertujuan meningkatkan keamanan blockchain pada infrastruktur kota pintar. Fokus utama penelitian ini adalah pengembangan sistem verifikasi transaksi berbasis konsorsium.

Untuk memahami konsep tersebut, bayangkan sebuah dewan yang terdiri atas sejumlah organisasi terpercaya. Setiap keputusan penting harus memperoleh persetujuan dari anggota dewan sebelum dianggap sah. Pendekatan serupa diterapkan dalam blockchain konsorsium.

Berbeda dengan blockchain publik yang memungkinkan siapa saja bergabung sebagai validator, blockchain konsorsium hanya memberikan hak verifikasi kepada pihak tertentu yang telah memenuhi syarat. Anggota jaringan biasanya berasal dari organisasi yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan memiliki tanggung jawab dalam menjaga sistem.

Pendekatan ini memberikan beberapa keuntungan penting. Jumlah peserta yang lebih terbatas membuat proses verifikasi berlangsung lebih cepat. Risiko penyalahgunaan juga lebih rendah karena tidak semua pihak dapat ikut serta dalam pengambilan keputusan. Selain itu, sistem dapat beroperasi dengan konsumsi energi yang lebih efisien dibandingkan beberapa model blockchain tradisional.

Penelitian ini tidak berhenti pada konsep konsorsium saja. Para peneliti menambahkan mekanisme reputasi dinamis yang berfungsi untuk menilai tingkat kepercayaan setiap anggota jaringan.

Setiap anggota memperoleh skor reputasi berdasarkan perilaku dan kinerjanya. Jika suatu organisasi secara konsisten menjalankan tugas dengan baik dan mematuhi aturan keamanan, nilainya akan meningkat. Sebaliknya, jika terdeteksi melakukan tindakan mencurigakan atau melanggar prosedur, reputasinya akan menurun.

Prinsip ini mirip dengan sistem penilaian pada layanan perdagangan digital atau aplikasi transportasi daring. Pengguna yang memiliki rekam jejak baik akan mendapatkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan pengguna yang sering menerima keluhan. Dalam blockchain konsorsium, reputasi menjadi alat penting untuk menjaga kualitas dan keamanan jaringan.

Selain mekanisme reputasi, penelitian ini juga memanfaatkan teknologi tanda tangan ambang. Teknologi tersebut mengharuskan sejumlah pihak memberikan persetujuan sebelum transaksi dapat disahkan.

Konsepnya dapat diibaratkan sebagai brankas yang membutuhkan beberapa kunci untuk dibuka. Tidak ada satu orang pun yang dapat mengakses isi brankas sendirian. Dengan cara ini, peluang terjadinya manipulasi oleh individu atau kelompok tertentu menjadi jauh lebih kecil.

Keunggulan lain yang ditawarkan adalah kemampuan menghadapi gangguan sistem. Dalam dunia teknologi informasi, kemampuan tersebut dikenal sebagai toleransi terhadap kesalahan. Sistem tetap mampu beroperasi meskipun sebagian komponennya mengalami kerusakan atau tidak dapat berfungsi secara normal.

Kemampuan ini sangat penting bagi kota pintar karena berbagai layanan publik harus tersedia sepanjang waktu. Jaringan listrik, sistem pengelolaan air, transportasi umum, dan layanan darurat tidak boleh berhenti hanya karena satu komponen mengalami masalah.

Menariknya, para peneliti berhasil meningkatkan keamanan tanpa mengorbankan efisiensi sistem. Selama ini, banyak solusi keamanan digital membutuhkan sumber daya komputasi yang besar sehingga memperlambat proses kerja dan meningkatkan konsumsi energi. Kondisi tersebut tidak ideal bagi perangkat Internet of Things yang umumnya memiliki kapasitas terbatas.

Melalui pendekatan konsorsium, reputasi dinamis, dan tanda tangan ambang, sistem yang dikembangkan mampu mempertahankan latensi rendah sekaligus menjaga tingkat keamanan yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa perlindungan data dan efisiensi operasional tidak harus saling bertentangan.

Temuan tersebut memiliki arti penting bagi masa depan kota pintar. Jumlah perangkat yang terhubung ke internet terus bertambah setiap tahun. Sensor, kamera, kendaraan pintar, dan berbagai perangkat otomatis akan menghasilkan data dalam jumlah sangat besar. Semua data itu membutuhkan perlindungan yang andal agar dapat dimanfaatkan secara aman.

Keberhasilan kota pintar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan. Kepercayaan masyarakat juga memegang peranan penting. Warga harus yakin bahwa data mereka terlindungi dan layanan publik dapat beroperasi secara aman tanpa gangguan. Penelitian ini menunjukkan bahwa blockchain yang dirancang dengan mekanisme keamanan yang tepat berpotensi menjadi fondasi penting bagi kota pintar masa depan yang lebih tangguh, efisien, dan terpercaya.

Baca juga artikel tentang: Arsitektur Front End Cerdas Untuk Aplikasi Cepat, Aman, Dan Siap Masa Depan

REFERENSI:

Okhlopkov, Nikita M & Kalinin, Maxim O. 2026. Comprehensive Security for Smart City Blockchain Infrastructures through Advanced Consortium-Based Transaction Verification. 2026 ElCon Conference of Young Researchers in Computing & Processing, and Information Security (ElCon-CP), 179-184.

About the Author: Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave A Comment