CeDSGreeB di Indonesia Green Building Festival 2026: Menakar Jalan Menuju Net Zero 2060
Jakarta, 3 September 2026 — Tim CeDSGreeB menghadiri Indonesia Green Building Festival 2026 di Patrajasa Yudistira Grand Ballroom, Jakarta Selatan. Festival yang digelar Green Building Council Indonesia (GBCI) ini mempertemukan praktisi konstruksi, arsitek, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.
Sepanjang hari, forum membahas efisiensi energi bangunan, pengurangan emisi sektor konstruksi, material ramah lingkungan, hingga transformasi menuju net-zero building. Acara dibuka oleh Wiza Hidayat selaku Steering Committee festival.
Bangunan sebagai Bagian dari Solusi Iklim
Ketua GBCI Ignesjz Kemalawarta menegaskan bahwa bangunan harus menjadi bagian dari solusi perubahan iklim, bukan sumber masalah baru. Menurutnya, transformasi sektor bangunan harus berjalan seiring dengan transformasi sektor energi.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa sekadar meniru negara lain, tetapi perlu strategi yang sesuai dengan karakter geografis, sosial, budaya, dan ekonominya. GREENSHIP, sistem penilaian bangunan hijau yang dikembangkan GBCI, menjadi alat untuk memastikan perubahan itu terukur dan benar-benar diterapkan. Gerakan ini juga terus diperluas ke daerah melalui kegiatan GBCI di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Menurut Ignesjz, kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci percepatan.
Senada dengan hal tersebut, CEO World Green Building Council Christina Gamboa mengajak semua pihak memandang bangunan sebagai investasi masa depan, bukan sekadar aset fisik. Bangunan yang efisien menurunkan biaya operasional dan emisi, sedangkan bangunan boros energi akan menjadi beban bagi generasi berikutnya.

Arah Kebijakan Bangunan Gedung Hijau
Plt. Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum memaparkan arah penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau (BGH) di Indonesia. Kebijakan ini berpijak pada komitmen penurunan emisi 31,89% dengan kemampuan sendiri dan hingga 43,5% dengan dukungan internasional pada 2030.
Kerangka regulasinya berlapis, mulai dari UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, PP Nomor 16 Tahun 2021, hingga Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja BGH. Penerapan BGH ditargetkan menghemat energi sekitar 25% dan air sekitar 10%.
Jalan menuju emisi nol ditempuh bertahap: desain berbasis iklim, sistem pasif, sistem mekanikal efisien, bangunan cerdas, lalu energi terbarukan. Sebagai contoh, Tower Universitas Diponegoro Tembalang yang tersertifikasi BGH mencatat penghematan energi sekitar 29% dan air sekitar 52%.
Pemerintah menyusun peta jalan BGH secara bertahap hingga 2030, sebagai salah satu fondasi menuju target Net Zero Emission 2060.
GREENSHIP Data Center Resmi Diluncurkan
Festival ini juga menjadi momentum peluncuran GREENSHIP Data Center. Standar ini menjawab pesatnya pertumbuhan pusat data seiring berkembangnya kecerdasan buatan, komputasi awan, dan layanan digital.
Pusat data beroperasi 24 jam serta membutuhkan pendinginan dan pasokan listrik yang stabil, sehingga konsumsi energinya sangat besar. Karena itu, penilaian GREENSHIP Data Center memadukan 60% kinerja fasilitas, meliputi infrastruktur teknologi, kelistrikan, dan pendinginan, dengan 40% aspek keberlanjutan.
Aspek keberlanjutan tersebut mencakup efisiensi energi, efisiensi air, material dan sumber daya, serta pengelolaan lingkungan. Dengan standar ini, pusat data di Indonesia diharapkan tidak hanya andal dan cepat, tetapi juga hemat energi dan rendah emisi.
Energi Hijau dan Dampak Nyata GREENSHIP
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina, Dr. Agung Wicaksono, menekankan bahwa energi harus tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan sekaligus. Pertamina menempuhnya dengan memperkuat bisnis inti sambil membangun portofolio energi baru, seperti energi surya, bioenergi, dan hidrogen.
Contoh nyatanya adalah LPG Terminal Tanjung Sekong yang meraih sertifikasi Green Terminal, serta pemasangan PLTS di berbagai fasilitas operasional. Agung juga menyoroti peluang green job yang terbuka bagi generasi muda seiring transisi energi.
Wakil Ketua GBCI Prasetyoadi kemudian memaparkan perjalanan bangunan hijau di Indonesia sejak GBCI berdiri pada 2009 dan GREENSHIP dikembangkan pada 2010. Bangunan yang menerapkan GREENSHIP disebut telah menghemat sekitar 329 juta kWh energi, mengurangi sekitar 293 ribu ton CO₂, dan menghemat sekitar 1,9 juta m³ air per tahun.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa sertifikasi bukan tujuan akhir. Yang terpenting adalah kinerja bangunan setelah digunakan, termasuk kesehatan penghuninya dan ketangguhannya menghadapi perubahan iklim.

Talk Show: Menuju Indonesia Net Zero 2060
Rangkaian acara ditutup dengan talk show “Aspek-Aspek GREENSHIP dalam Menuju Indonesia Net Zero 2060” yang dimoderatori Ignesjz Kemalawarta. Panelisnya adalah Reni Wulandari (Semen Indonesia Group), Devy Adrian Manorek Martinus (Waste4Change), Ariko Andikabina (GBCI), dan Dr. Eng. M. Donny Koerniawan (SAPPK ITB).
Diskusi menegaskan urutan yang tepat menuju net zero: kurangi kebutuhan energi, tingkatkan efisiensi, baru gunakan energi terbarukan. Net zero juga relatif lebih mudah dicapai pada bangunan kecil seperti rumah tinggal dibandingkan gedung tinggi dan kawasan komersial.
Panel turut menyoroti embodied carbon, yaitu emisi dari produksi material, transportasi, konstruksi, hingga pembongkaran bangunan. Semen Indonesia Group memaparkan inovasi semen hijau, sementara Waste4Change menjelaskan Refuse Derived Fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif bagi industri semen.
Desain berbasis iklim dan data, seperti perhitungan Overall Thermal Transfer Value (OTTV) pada fasad, disebut kunci untuk menekan kebutuhan pendinginan. Tantangan terbesar justru ada pada bangunan eksisting, yang membutuhkan retrofit energi dan pengelolaan berbasis data.
Bagi CeDSGreeB, pesan bahwa net zero paling mudah dimulai dari hunian sejalan dengan pengembangan konsep Bangunan Niremisi Tropis (BENTRO). Wawasan dari festival ini akan menjadi bekal dalam riset dan kolaborasi bangunan rendah emisi ke depan.








