Arsitektur Cerdas yang Bisa Mengurangi Emisi dan Penggunaan Energi
Arsitektur masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang keindahan bangunan. Dunia kini menuntut gedung yang mampu berdiri lama, hemat energi, ramah lingkungan, tetapi tetap nyaman dihuni. Para peneliti kemudian mulai menggabungkan ilmu arsitektur dengan kecerdasan buatan agar bangunan bisa dirancang dengan lebih cerdas sejak awal. Salah satu penelitian terbaru menunjukkan bagaimana teknologi pembelajaran mesin membantu arsitek memilih desain yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan dan efisien.
Penelitian ini berfokus pada apa yang disebut sebagai smart sustainable architecture, yaitu pendekatan merancang bangunan yang memprioritaskan efisiensi penggunaan energi, air, material, serta menekan emisi karbon. Tantangannya muncul karena seorang arsitek harus mempertimbangkan banyak sekali variabel sekaligus. Misalnya penggunaan listrik, kebutuhan air, biaya material, fleksibilitas bentuk bangunan, hingga dampak terhadap lingkungan. Mengambil keputusan yang tepat dari banyaknya faktor ini bukan pekerjaan mudah.
Baca juga artikel tentang: Mengintip Teknologi Bangunan Hijau Tercanggih di Dunia Tahun 2025
Disinilah kecerdasan buatan hadir membantu. Penelitian tersebut menggunakan sebuah teknik pembelajaran mesin bernama Light Gradient Boosting Machine atau LightGBM. Singkatnya, ini adalah model komputer yang belajar dari data untuk memprediksi hasil terbaik berdasarkan pola yang ditemukan. Namun model ini masih bisa dioptimalkan lagi dengan bantuan algoritma unik bernama Fruit Fly Optimization Algorithm atau FOA.
Nama algoritma ini terdengar lucu karena terinspirasi dari perilaku lalat buah dalam mencari makanan. Lalat buah memiliki cara mencari sumber bau yang semakin kuat hingga menemukan lokasi makanan. Para ilmuwan meniru pola pencarian ini menjadi algoritma matematika yang bisa membantu komputer mencari kombinasi terbaik dari berbagai variabel. Dalam penelitian ini, FOA berfungsi memilih faktor yang paling penting untuk dimasukkan dalam model perancangan bangunan berkelanjutan.
Sebagai contoh, dari sekian banyak data yang ada, algoritma ini membantu menentukan mana yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan bangunan. Beberapa faktor utama yang ditemukan antara lain konsumsi energi, penggunaan air, biaya material, emisi karbon, serta fleksibilitas desain. Dengan memilih variabel yang tepat, model menjadi lebih akurat karena komputer tidak lagi “kebingungan” oleh data yang kurang relevan.

Grafik ROC ini membandingkan kinerja model sebelum dan sesudah optimasi FOA, menunjukkan peningkatan akurasi prediksi dari AUC 0,76 menjadi 0,86 setelah FOA (Abu-shaikha, 2025).
Hasilnya terlihat jelas. Model yang memakai bantuan FOA menunjukkan peningkatan akurasi dalam memprediksi performa bangunan berkelanjutan. Bukan hanya akurasi, kemampuan model dalam membedakan data yang benar dan salah juga meningkat. Nilai kesalahan prediksi pun menurun. Ini menunjukkan bahwa teknologi ini tidak sekadar pintar, tetapi juga lebih dapat dipercaya.
Mengapa ini penting bagi dunia nyata? Bayangkan seorang arsitek yang harus menentukan desain sebuah kampus, rumah sakit, atau gedung perkantoran. Jika keputusan diambil hanya berdasarkan pengalaman atau intuisi, selalu ada kemungkinan salah perhitungan. Akibatnya, bangunan bisa menjadi boros energi, tidak efisien, atau mahal dalam jangka panjang. Dengan bantuan AI, arsitek bisa mensimulasikan berbagai skenario sebelum bangunan dibangun. Komputer akan menghitung kombinasi paling efisien yang menekan energi, menurunkan emisi, dan tetap menjaga kenyamanan pengguna.
Teknologi ini juga membantu dalam penghematan sumber daya. Penggunaan air yang lebih hemat, material yang lebih ringan, serta desain yang lebih fleksibel akan memberi dampak positif terhadap lingkungan. Emisi karbon yang lebih rendah berarti udara yang lebih bersih. Jika diterapkan secara luas, kota bisa menjadi lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan.
Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa teknologi pembelajaran mesin bukan hanya alat hitung. Teknologi ini menjadi bagian penting dalam proses kreatif perancangan arsitektur modern. Arsitek kini dapat bekerja berdampingan dengan algoritma komputer. Komputer membantu mengolah data dan memberi rekomendasi, sementara arsitek tetap mengambil keputusan berdasarkan nilai estetika, fungsi sosial, serta konteks budaya.
Namun teknologi tentu memiliki tantangan. Penerapan model seperti ini membutuhkan data yang lengkap dan akurat. Selain itu, para profesional di bidang arsitektur perlu memahami dasar kerja AI agar dapat memanfaatkannya secara tepat. Kolaborasi lintas disiplin menjadi sangat penting, mulai dari insinyur, ilmuwan data, hingga perencana kota.
Walaupun begitu, masa depan arsitektur tampak semakin cerah. Smart sustainable architecture memungkinkan bangunan menjadi lebih adaptif terhadap perubahan. Misalnya, desain dapat disesuaikan dengan kondisi iklim yang berubah, kebutuhan penghuni yang berkembang, atau kebijakan lingkungan yang semakin ketat. Dengan kata lain, bangunan tidak lagi statis. Teknologi membuatnya lebih responsif dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Keuntungan lainnya adalah peningkatan keandalan perhitungan. Ketika model dirancang dengan baik, risiko kesalahan manusia dapat ditekan. Ini sangat krusial dalam proyek bernilai besar yang melibatkan investasi jangka panjang. Setiap keputusan perancangan akan berdampak pada keuangan, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat selama puluhan tahun.
Pada akhirnya, penelitian ini memberi gambaran bahwa integrasi AI dalam arsitektur bukan lagi mimpi masa depan. Teknologi sudah hadir dan mulai digunakan untuk menciptakan bangunan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Dunia membutuhkan solusi seperti ini karena populasi terus bertambah, kebutuhan ruang meningkat, dan tekanan terhadap lingkungan semakin besar.
Arsitektur tidak lagi dipandang hanya sebagai seni membangun. Kini arsitektur juga menjadi ilmu pengelolaan sumber daya, kenyamanan manusia, serta keberlanjutan bumi. Pembelajaran mesin dan algoritma optimasi seperti FOA membantu mempercepat proses menuju tujuan tersebut. Dengan penggunaan yang bijak, teknologi ini bisa menjadi salah satu alat terpenting dalam membentuk kota yang manusiawi, efisien, dan ramah lingkungan.
Masa depan arsitektur akan dipenuhi kolaborasi antara manusia dan mesin. Para arsitek tetap menjadi perancang utama yang memahami rasa, ruang, dan fungsi. AI hadir sebagai asisten yang setia menghitung, memprediksi, dan memberikan gambaran pilihan terbaik. Jika keduanya berjalan bersama, kita bisa berharap hadirnya bangunan yang bukan hanya indah, tetapi juga membawa kebaikan bagi planet ini.
Baca juga artikel tentang: Focus Group Discussion Lintas Sektor Bahas Teknologi Prefabrikasi untuk Percepatan Hunian Layak dan Hijau di Indonesia
REFERENSI:
Abu-shaikha, Ma’in. 2025. Smart sustainable architecture: leveraging machine learning for adaptive digital design and resource optimization. Asian Journal of Civil Engineering 26 (1), 147-158.








