Bukan Sekadar Canggih: Merancang Gedung yang Peka pada Kebutuhan Penghuninya
Bayangkan sebuah gedung yang tidak hanya berdiri megah, tetapi juga benar benar memahami penghuninya. Gedung itu tahu kapan kamu butuh ruang belajar yang tenang, kapan kamu merasa kepanasan, atau kapan kamu sekadar ingin duduk di tempat yang nyaman bersama teman. Gambaran ini bukan lagi mimpi fiksi ilmiah. Inilah arah baru perkembangan smart building, yaitu gedung yang dirancang dengan berpusat pada manusia.
Sebuah penelitian terbaru membahas bagaimana interaksi antara penghuni gedung dan teknologi bisa dirancang agar pengalaman pengguna menjadi jauh lebih baik. Fokusnya bukan sekadar pada kecanggihan teknologi, tetapi pada kebutuhan nyata orang orang yang menggunakan gedung tersebut setiap hari. Dalam studi ini, para peneliti menggabungkan dua bidang penting: Human Computer Interaction atau interaksi manusia dan komputer, serta Ambient Intelligence, yaitu konsep lingkungan yang cerdas dan responsif.
Baca juga artikel tentang: Teori Kompleksitas dan Adaptive Building Systems dalam Arsitektur Hijau
Untuk memperjelas konsep tersebut, para peneliti memilih gedung pendidikan sebagai contoh. Kampus menjadi lingkungan yang menarik karena ribuan mahasiswa beraktivitas di sana dengan kebutuhan yang sangat beragam. Ada yang mencari ruang belajar yang sunyi, ada yang membutuhkan tempat diskusi, ada yang ingin suasana yang terang, ada juga yang lebih nyaman di ruang yang hangat.

Kerangka Kerja Ambient Intelligence (AmI) (Roofigari-Esfahan, dkk. 2025).
Penelitian ini melibatkan mahasiswa di sebuah gedung teknik yang modern di Virginia Tech. Para mahasiswa diminta berbagi pengalaman mereka melalui diskusi kelompok dan wawancara. Cerita cerita inilah yang kemudian dianalisis untuk memahami kebutuhan penghuni secara lebih mendalam.
Hasilnya sangat menarik. Dari sekian banyak faktor, satu hal ternyata paling berpengaruh langsung terhadap pengalaman belajar mahasiswa, yaitu kemampuan mereka menemukan ruang belajar yang sesuai. Ini terdengar sederhana, tetapi siapa pun yang pernah kuliah pasti tahu betapa sulitnya mencari tempat belajar yang masih kosong, nyaman, dan cocok untuk kebutuhan tertentu. Kadang butuh ruang yang sepi untuk fokus. Di lain waktu butuh ruang yang memungkinkan kerja kelompok.

Gambar tersebut menunjukkan persentase tingkat kepentingan faktor-faktor yang memengaruhi pengalaman belajar, baik secara langsung (seperti ketersediaan sumber belajar dan ruang belajar) maupun tidak langsung (seperti kenyamanan, manajemen stres, navigasi dalam ruangan, parkir, keamanan, dan pemberitahuan acara) (Roofigari-Esfahan, dkk. 2025).
Selain itu, kualitas lingkungan dalam ruang atau Indoor Environment Quality ternyata juga memainkan peran besar, walaupun dampaknya lebih tidak langsung. Kualitas udara, suhu, pencahayaan, kebisingan, dan sirkulasi udara ikut menentukan apakah mahasiswa merasa nyaman dan bisa belajar dengan baik. Kombinasi faktor faktor ini membentuk pengalaman yang sangat personal.
Dari sini terlihat satu pesan penting. Smart building tidak cukup hanya mengandalkan sensor, perangkat otomatis, atau aplikasi canggih. Gedung baru bisa disebut benar benar cerdas jika ia memahami manusia di dalamnya. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu, bukan sekadar hiasan modern.
Para peneliti kemudian menyusun kerangka kerja konseptual yang bisa membantu arsitek, insinyur, dan perancang teknologi merancang interaksi yang manusiawi di dalam gedung. Intinya, setiap jenis gedung memiliki jenis penghuni dan kebutuhan yang berbeda. Rumah sakit tidak sama dengan kampus. Pabrik tidak sama dengan museum. Maka strategi interaksi dan teknologi juga tidak bisa disamaratakan.
Dalam kasus kampus, kerangka kerja ini menekankan pentingnya menyediakan cara bagi mahasiswa untuk menemukan ruang belajar dengan mudah. Ini bisa berarti aplikasi yang memberi tahu ruang mana yang sedang kosong, sistem reservasi ruang yang sederhana, atau tampilan digital yang memberikan panduan real time. Teknologi juga bisa membantu mengatur suhu dan pencahayaan berdasarkan tingkat kenyamanan penghuni, bukan hanya standar teknis.
Selain itu, penelitian ini menyoroti kebutuhan akan antarmuka pengguna yang cerdas. Istilahnya adalah Intelligent User Interface. Antarmuka semacam ini bertugas menjadi jembatan antara manusia dan sistem gedung yang cerdas. Bayangkan panel atau aplikasi yang tidak ribet, mudah dipahami, dan benar benar membantu pengguna menyesuaikan lingkungan sesuai kebutuhan mereka.
Namun ada poin yang tidak kalah penting. Semua rancangan ini harus berangkat dari suara penghuni. Para peneliti menekankan metode kualitatif seperti wawancara, observasi, dan diskusi. Teknologi tidak boleh dirancang dari meja kantor saja. Perancang harus turun ke lapangan, mendengarkan cerita, memahami kebiasaan, dan memetakan kebutuhan yang mungkin tidak terlihat dari angka semata.
Pendekatan ini membawa kita pada cara pandang baru tentang smart building. Selama ini, banyak orang menganggap smart building identik dengan energi yang hemat, penggunaan sensor, otomatisasi, atau pemantauan digital. Semua itu tentu tetap penting. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa pusat dari semua inovasi itu adalah manusia. Gedung ada untuk melayani penghuninya, bukan sebaliknya.
Jika pendekatan ini diterapkan secara luas, kita bisa membayangkan masa depan gedung yang lebih ramah penggunanya. Mahasiswa tidak lagi kebingungan mencari meja belajar. Pegawai kantor tidak lagi merasa stres karena pencahayaan yang terlalu silau. Pasien di rumah sakit merasa lebih tenang karena ruang terasa nyaman dan mendukung pemulihan.
Manfaat lain yang mungkin muncul adalah meningkatnya produktivitas, kesehatan mental yang lebih baik, serta penggunaan ruang yang lebih efisien. Gedung yang benar benar memahami penghuninya tentu akan lebih hidup, lebih berkelanjutan, dan lebih menyenangkan untuk digunakan.
Namun penelitian ini juga membuka ruang bagi pertanyaan baru. Bagaimana melindungi privasi penghuni jika semakin banyak data tentang perilaku dan kebutuhan mereka yang dikumpulkan. Bagaimana memastikan semua orang mendapatkan manfaat, bukan hanya mereka yang melek teknologi. Tantangan ini membutuhkan diskusi lanjutan antara ilmuwan, desainer, pembuat kebijakan, dan masyarakat.
Pada akhirnya, penelitian ini memberi kita pelajaran penting. Masa depan arsitektur dan teknologi gedung tidak hanya tentang kabel, sensor, dan algoritma. Masa depan itu tentang empati, tentang mendengarkan, dan tentang merancang ruang yang tumbuh bersama manusia yang menghuninya. Smart building yang sejati bukan hanya pintar secara teknis, tetapi juga bijak dalam memahami manusia.
Baca juga artikel tentang: Analisis dan Evaluasi Penggunaan Energi Bangunan Berbasis Data: Pelajaran Penting dari Inggris dan Strategi Penerapannya di Indonesia
REFERENSI:
Roofigari-Esfahan, N dkk. 2025. A conceptual framework for designing human-centered building-occupant interactions to enhance user experience in specific-purpose buildings. Design Science 11, e5.








