Daur Ulang Puing Bangunan untuk Jalan Raya Tangguh dan Rendah Emisi

Last Updated: 6 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Material bangunan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Di banyak negara, limbah konstruksi menjadi masalah besar karena volumenya sangat tinggi dan seringkali hanya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur seperti jalan, bendungan, dan fondasi memerlukan material dalam jumlah besar. Kondisi ini mendorong para peneliti mencari cara agar limbah konstruksi bisa dimanfaatkan kembali. Tujuannya bukan hanya demi menghemat biaya, tetapi juga untuk melindungi lingkungan.

Salah satu material yang sedang dikembangkan adalah roller compacted concrete atau RCC. Ini adalah jenis beton kering yang dipadatkan menggunakan alat berat. Beton ini biasanya digunakan untuk membangun fondasi lebar, jalan beton besar, atau bendungan. Kandungannya sederhana saja: campuran batu, pasir, air dalam jumlah sedikit, dan semen. Namun penelitian terbaru mencoba mengganti sebagian besar bahan alam tersebut dengan bahan daur ulang. Di sinilah penelitian tentang RCC ramah lingkungan ini menjadi menarik.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Para peneliti mencoba menggunakan tiga jenis bahan limbah: agregat daur ulang dari puing bangunan, abu biomassa yang berasal dari pembakaran limbah organik, serta serat polipropilena yang merupakan sejenis plastik. Bahan-bahan ini kemudian dicampurkan dalam berbagai komposisi untuk melihat apakah masih bisa menghasilkan beton yang kuat, tahan lama, dan aman digunakan.

Pertanyaannya sederhana tetapi penting. Bisakah beton yang terbuat dari limbah memiliki kualitas yang baik, sekaligus membantu mengurangi pencemaran dan biaya konstruksi?

Jawaban penelitian ini cukup optimistis.

Ketika limbah agregat dan abu biomassa digunakan dalam jumlah besar, memang terjadi penurunan kekuatan mekanik beton dibandingkan beton biasa. Namun penurunan ini tidak serta merta membuat beton menjadi buruk. Justru dalam beberapa kombinasi, terutama ketika ditambah dengan serat polipropilena, kekuatannya tetap berada pada tingkat yang layak digunakan untuk konstruksi tertentu. Bahkan, pada usia 90 hari, beton yang diperkuat 1 persen serat polipropilena masih mampu mencapai kekuatan tekan sekitar 41 megapascal. Angka ini masuk dalam kategori material struktural yang cukup kuat.

Selain itu, beton berbasis limbah ini ternyata memiliki sifat lain yang sangat menguntungkan. Beton tersebut tahan terhadap serangan bahan kimia dan mampu bertahan pada kondisi pembekuan dan pencairan berulang. Sifat ini sangat penting untuk jalan raya atau bangunan yang berada di lingkungan ekstrem.

Namun tentu saja tidak ada material yang sempurna. Beton ramah lingkungan ini memiliki berat jenis yang lebih rendah karena banyaknya limbah yang digunakan. Akibatnya, daya serap airnya meningkat. Artinya, air lebih mudah masuk ke dalam struktur beton. Hal ini bisa menimbulkan risiko dalam jangka panjang jika tidak dikontrol. Meski begitu, para peneliti menilai bahwa kelemahan ini masih dapat diatasi melalui rekayasa material dan perlindungan permukaan beton.

Keuntungan lain yang sangat nyata adalah pengurangan jejak karbon. Produksi semen menyumbang emisi karbon yang sangat besar secara global. Dengan mengganti sebagian semen dan agregat alam menggunakan limbah, jumlah emisi karbon otomatis berkurang. Begitu pula kebutuhan energi dan biaya yang ikut turun. Konsep ini dikenal sebagai pendekatan ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali limbah agar kembali masuk ke sistem produksi.

Penggunaan abu biomassa juga memberikan nilai tambah. Biomassa berasal dari sumber alami seperti kayu atau sisa tanaman. Saat dibakar, abu yang tersisa biasanya tidak dimanfaatkan. Padahal abu ini bisa berfungsi sebagai bahan tambahan dalam beton. Selain membantu mengurangi limbah, abu biomassa juga dapat meningkatkan ketahanan beton terhadap serangan kimia.

Serat polipropilena pun bukan sekadar campuran pelengkap. Serat ini membantu menjaga struktur beton tetap stabil, mengurangi retakan, dan meningkatkan ketahanan. Dengan kombinasi yang tepat, beton ramah lingkungan ini bisa menjadi alternatif layak untuk penggunaan skala besar.

Inovasi ini sangat relevan untuk negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kegiatan konstruksi yang pesat menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Jika limbah tersebut bisa disulap menjadi bahan bangunan baru, maka dampaknya luar biasa. Tempat pembuangan sampah bisa berkurang bebannya. Pengambilan sumber daya alam baru bisa ditekan. Biaya material bangunan pun lebih terjangkau.

Namun penerapan teknologi ini membutuhkan regulasi, standar mutu, serta kesadaran industri. Insinyur, kontraktor, pemerintah, dan masyarakat harus memahami bahwa bahan daur ulang bukan berarti kalah kualitas. Justru, di masa depan, inilah yang disebut material cerdas: efisien, ekonomis, dan rendah emisi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa dunia konstruksi sebenarnya memiliki peluang besar untuk berubah. Beton yang selama ini dianggap kaku, berat, dan boros sumber daya, ternyata bisa berevolusi menjadi material yang lebih ramah lingkungan. Kita hanya perlu keberanian untuk mengubah cara lama menuju masa depan yang lebih hijau.

Bayangkan jalan raya yang dibangun dari bekas puing bangunan lama. Bayangkan fondasi bendungan yang berasal dari abu biomassa dan limbah plastik. Semua itu bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah diuji secara ilmiah. Teknologi ini masih akan terus dikembangkan, tetapi langkah awalnya sudah terbukti menjanjikan.

Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita tetap ingin hidup dalam sistem yang menghasilkan limbah tanpa henti, atau mulai membangun ulang dunia dengan bahan yang berasal dari sisa jejak kita sendiri?

Ilmu pengetahuan telah membuka jalannya. Kini saatnya industri dan masyarakat berjalan bersama menuju konstruksi yang lebih hijau.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Bayraktar, Oguzhan Yavuz dkk. 2025. Application of recycled aggregates and biomass ash in fibre-reinforced green roller compacted concrete pavement-technical and environmental assessment. International Journal of Pavement Engineering 26 (1), 2458140.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment