Everyday Nature: Cara Baru Menjadikan Kota Lebih Sehat dan Bahagia

Last Updated: 5 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Kota terus tumbuh. Gedung bertambah tinggi, jalan semakin padat, dan ruang kosong makin sedikit. Namun di balik megahnya beton dan baja, manusia tetaplah makhluk yang membutuhkan alam. Kita butuh udara segar, pepohonan, suara burung, atau sekadar melihat tanaman hijau di tepi jalan. Alam memberi ketenangan pada pikiran dan menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu, para ilmuwan kini mendorong konsep baru dalam perencanaan kota. Bukan sekadar menanam pohon di taman, tetapi menghadirkan alam yang bisa dinikmati setiap hari oleh semua orang, atau yang disebut sebagai everyday nature.

Gagasan ini muncul dari penelitian yang membahas bagaimana kota bisa dirancang agar terhubung lebih erat dengan alam. Bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lain seperti burung, serangga, atau hewan kecil yang sering tersingkir akibat pembangunan. Penelitian ini menekankan bahwa alam di kota bukan lagi dianggap sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari kehidupan harian.

Baca juga artikel tentang: Dinamika Fluida Komputasional (CFD) untuk Optimalisasi Desain Ventilasi Bangunan Hijau

Bayangkan ketika setiap orang bisa merasakan kehadiran alam tanpa harus pergi jauh ke hutan, gunung, atau taman kota yang besar. Anak kecil bisa melihat kupu kupu di halaman sekolah. Pekerja kantoran bisa beristirahat di ruang terbuka hijau yang teduh. Lansia bisa berjalan di jalur pejalan kaki yang dipenuhi tanaman. Inilah tujuan dari everyday nature.

Namun mewujudkan konsep ini tidak sesederhana menanam pohon. Kota harus dirancang ulang agar alam benar benar menjadi bagian dari struktur dan kehidupan kota. Para peneliti menjelaskan bahwa kita perlu mengubah cara pandang. Selama ini alam sering dipandang sebagai hambatan pembangunan. Lahan hijau dianggap tidak produktif, pohon dianggap mengganggu infrastruktur, dan satwa liar dianggap berbahaya. Padahal jika dirancang dengan tepat, alam justru meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Everyday nature berarti alam hadir dalam banyak bentuk. Bisa berupa taman kecil di sudut jalan, koridor hijau di sepanjang sungai, dinding bangunan yang ditumbuhi tanaman, danau buatan yang ramah satwa, kebun komunitas, hingga hutan kota. Yang terpenting, alam ini dapat diakses setiap hari dan bukan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja.

Prinsip desain perkotaan yang peka terhadap keanekaragaman hayati dengan menghadirkan elemen alam dalam keseharian warga, seperti koridor hijau, habitat satwa, konektivitas ekologis, interaksi manusia–alam, serta pengelolaan ancaman dan proses ekologi agar bermanfaat bagi lingkungan dan kesehatan manusia (Visintin, dkk. 2025).

Bukan hanya manusia yang diuntungkan. Kehadiran alam di kota juga melindungi satwa dan keanekaragaman hayati. Banyak spesies kehilangan habitat akibat pembangunan. Dengan menciptakan ruang hijau yang ramah keanekaragaman hayati, kota bisa menjadi tempat hidup baru bagi mereka. Misalnya, menyediakan tanaman yang menjadi sumber makanan burung atau serangga penyerbuk, atau membangun kolam yang mendukung kehidupan amfibi.

Namun peneliti juga menegaskan bahwa menghadirkan alam di kota bukan tanpa tantangan. Ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan. Misalnya, bagaimana menjaga keamanan warga ketika berada dekat habitat satwa. Bagaimana mengelola risiko penyakit dari hewan. Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Selain itu, ada pula faktor sosial dan politik. Negara di belahan dunia Utara tentu memiliki tantangan berbeda dibandingkan negara di belahan dunia Selatan. Perbedaan kondisi ekonomi juga mempengaruhi kemampuan dalam membangun ruang hijau.

Karena itu pendekatan ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi menjadi kunci. Peneliti merekomendasikan kerja sama antara ahli ekologi, perencana kota, arsitek, pemerintah, komunitas, dan masyarakat umum. Semua pihak perlu memahami manfaat everyday nature dan ikut terlibat dalam perencanaannya.

Salah satu prinsip penting dalam desain kota berbasis alam adalah melihat alam sebagai aset, bukan beban. Kota yang memberi ruang bagi alam akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Udara menjadi lebih bersih, suhu lebih sejuk, polusi suara dapat berkurang, dan masyarakat menjadi lebih sehat secara mental. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kontak rutin dengan alam menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan membantu anak berkembang lebih baik.

Selain itu, everyday nature membantu kota menjadi lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Pohon menyerap karbon, vegetasi menyerap air hujan sehingga mengurangi banjir, dan ruang hijau menurunkan efek panas berlebih di kota. Ini sangat penting di tengah peningkatan suhu global.

Namun satu hal yang ditekankan para peneliti adalah keadilan akses. Ruang hijau tidak boleh hanya ada di kawasan elite. Semua warga harus memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati alam. Kota yang berkeadilan lingkungan akan membuat warganya lebih bahagia dan lebih sehat.

Everyday nature juga memupuk hubungan emosional manusia dengan alam. Jika sejak kecil anak terbiasa melihat dan berinteraksi dengan tanaman, hewan, dan ekosistem, mereka akan lebih peduli terhadap lingkungan ketika dewasa. Ini menciptakan generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.

Penelitian ini mengajak kita membayangkan kota yang tidak lagi keras dan asing. Kota yang tetap modern, tetapi juga ramah kehidupan. Kota yang tidak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun hubungan antara manusia dan alam. Sebuah kota yang hidup berdampingan dengan pepohonan, air, burung, dan berbagai makhluk lain.

Perjalanan menuju kota seperti ini memang panjang. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada lingkungan, perencanaan matang, edukasi masyarakat, dan komitmen jangka panjang. Namun manfaatnya sangat besar, bukan hanya bagi manusia hari ini, tetapi juga bagi generasi mendatang.

Pada akhirnya, everyday nature mengingatkan kita bahwa alam bukan sesuatu yang jauh. Alam seharusnya ada di sekitar kita setiap hari, hadir dalam kehidupan, memberi kenyamanan, dan menjaga keseimbangan. Kota masa depan yang ideal bukanlah kota yang sepenuhnya terbuat dari beton. Kota masa depan adalah kota yang menyatu dengan alam, berjalan bersama, dan saling menguatkan.

Baca juga artikel tentang: Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Visintin, Casey dkk. 2025. Designing cities for everyday nature. Conservation Biology 39 (1), e14328.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment