Gedung Publik Bisa Menjadi Motor Utama Gerakan Ramah Lingkungan

Last Updated: 7 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 3

Gedung publik memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari kantor pemerintahan, rumah sakit, sekolah, hingga kampus, semua bangunan ini menjadi tempat aktivitas sehari hari jutaan orang. Namun ada satu kenyataan yang perlu kita sadari bersama. Sektor bangunan, termasuk gedung publik, masih menjadi salah satu penyumbang besar emisi gas rumah kaca di dunia. Artinya, semakin banyak bangunan yang beroperasi tanpa prinsip keberlanjutan, semakin besar pula dampaknya terhadap perubahan iklim.

Beberapa negara maju sudah berhasil menerapkan praktik pembangunan dan pengelolaan gedung yang ramah lingkungan. Mereka memasang sistem hemat energi, mengatur sirkulasi udara dengan baik, menggunakan bahan bangunan ramah lingkungan, serta memperhatikan perilaku pengguna bangunan. Namun kondisi ini belum merata di seluruh dunia. Banyak negara berkembang masih menghadapi berbagai kendala saat mencoba menerapkan konsep keberlanjutan di gedung publik.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Sebuah penelitian yang dilakukan pada gedung publik di Indonesia mencoba mengulas persoalan ini secara mendalam. Penelitian tersebut melibatkan para pemangku kepentingan seperti pengambil kebijakan, profesional konstruksi, pengelola gedung, hingga pengguna bangunan. Wawancara dilakukan pada dua periode waktu berbeda yaitu tahun 2019 dan 2023 untuk melihat konsistensi pola temuan.

Hasilnya cukup menarik. Para responden memiliki pandangan yang relatif sama mengenai tantangan dan peluang penerapan keberlanjutan di gedung publik.

Salah satu tantangan terbesar terletak pada aspek regulasi. Aturan mengenai penerapan konsep bangunan berkelanjutan sebenarnya sudah mulai muncul. Namun penerapannya masih belum konsisten. Ada gedung yang sudah menerapkan standar tertentu, sementara gedung lain masih berjalan seperti biasa tanpa pendekatan keberlanjutan yang jelas. Kondisi ini sering terjadi karena perbedaan prioritas, keterbatasan dana, atau kurangnya pemahaman mengenai manfaat jangka panjang.

Selain regulasi, perilaku pengguna gedung juga memainkan peran yang sangat penting. Teknologi hemat energi tidak akan memberikan hasil maksimal jika penggunanya tidak memiliki kesadaran. Misalnya, lampu hemat energi tetap boros jika selalu dibiarkan menyala saat ruangan kosong. Pendingin ruangan tetap membuang energi besar jika pintu dan jendela terus terbuka. Penggunaan air pun bisa tetap berlebihan meskipun sistem instalasinya sudah efisien.

Penelitian ini menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi faktor penentu. Pengguna gedung perlu memiliki rasa memiliki terhadap bangunan yang mereka gunakan. Kesadaran sederhana seperti mematikan lampu, menggunakan tangga jika memungkinkan, menutup kran air, atau menjaga ventilasi tetap berfungsi akan memberikan dampak besar jika dilakukan bersama sama.

Di sisi lain, teknologi tetap memegang peran penting. Banyak gedung publik di negara berkembang yang masih menggunakan sistem lama. Peralatan listrik belum efisien, tata udara belum optimal, isolasi panas bangunan kurang baik, dan pencahayaan alami belum termanfaatkan secara maksimal. Investasi pada teknologi keberlanjutan sering dianggap mahal, padahal manfaatnya terasa dalam jangka panjang melalui penghematan energi dan biaya operasional.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa gedung publik memiliki posisi yang sangat strategis sebagai contoh bagi masyarakat. Jika pemerintah mampu menunjukkan komitmen pada praktik keberlanjutan melalui fasilitas umum, maka masyarakat akan lebih mudah percaya dan mengikuti. Gedung publik yang ramah lingkungan tidak hanya memberikan manfaat pada pengguna, tetapi juga membangun budaya keberlanjutan.

Namun proses menuju perubahan ini tidaklah mudah. Banyak pihak masih menganggap isu keberlanjutan sebagai beban tambahan, bukan kebutuhan utama. Ada yang beranggapan bahwa praktik ramah lingkungan hanya cocok untuk negara maju. Ada pula yang merasa bahwa penghematan energi tidak terlalu berdampak besar. Padahal, setiap langkah kecil memberikan kontribusi nyata pada pengurangan emisi global.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya mendorong keberlanjutan di gedung publik perlu dilakukan melalui kolaborasi. Pemerintah memegang peran dalam menyusun kebijakan yang jelas dan tegas. Profesional konstruksi bertanggung jawab memastikan desain dan teknis pembangunan berjalan sesuai prinsip berkelanjutan. Pengelola gedung harus mampu menjaga operasional yang efisien dan ramah lingkungan. Sementara itu, pengguna gedung memegang peran kunci melalui perubahan perilaku.

Salah satu rekomendasi penting dari penelitian ini adalah perlunya intervensi yang lebih besar pada perilaku pengguna gedung. Edukasi harus berjalan terus menerus. Kampanye hemat energi, penggunaan air secara bijak, dan kesadaran membuang sampah dengan benar perlu menjadi bagian dari budaya organisasi. Program pelatihan dan sosialisasi bisa membantu menjembatani kesenjangan pemahaman.

Ke depan, gedung publik dapat menjadi motor penggerak keberlanjutan. Jika seluruh fasilitas milik negara mampu menjalankan prinsip hemat energi, efisiensi sumber daya, dan kenyamanan bagi pengguna, maka keberlanjutan bukan lagi sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari hari.

Keberlanjutan bukan hanya soal teknologi canggih atau desain arsitektur modern. Keberlanjutan adalah tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang. Gedung publik menjadi salah satu titik awal yang sangat baik untuk memulai perubahan tersebut.

Dengan memahami tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada, negara berkembang seperti Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mempercepat langkah dalam mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan. Kita semua memegang peran dalam perjalanan ini, baik sebagai pembuat kebijakan, pelaku industri, maupun pengguna bangunan.

Karena bumi yang sehat tidak hanya membutuhkan gedung yang kokoh, tetapi juga membutuhkan kesadaran manusia yang tinggal di dalamnya.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Atmoko, Darmawan dkk. 2025. Challenges and Opportunities for Promoting Sustainability in Public Buildings. Sustainability 17 (2), 403.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment