Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

Last Updated: 1 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 45

 

Para peneliti terus mencari cara agar gedung modern tidak hanya hemat energi, tetapi juga benar benar siap menjadi gedung pintar. Artinya, sebuah gedung tidak sekadar memiliki lampu otomatis atau pendingin ruangan yang bisa dikendalikan dari ponsel, tetapi juga mampu bekerja secara efisien, aman, nyaman, dan ramah lingkungan. Di Eropa, berkembang sebuah konsep yang disebut Smart Readiness Indicator atau SRI. Konsep ini membantu menilai seberapa siap sebuah bangunan untuk memanfaatkan teknologi pintar.

Sebuah studi terbaru mencoba mengembangkan dan menguji metode audit SRI yang lebih jelas, terukur, dan praktis untuk diterapkan langsung di lapangan. Tujuannya sederhana namun sangat penting, yaitu memastikan penilaian kesiapan teknologi pintar di sebuah gedung dapat berjalan berdampingan dengan audit energi yang sudah lama diterapkan. Dengan begitu, gedung tidak hanya dinilai dari seberapa hemat energinya, tetapi juga dari seberapa siap teknologi pintarnya mendukung efisiensi dan kenyamanan penghuni.

Baca juga artikel tentang: Mengintip Teknologi Bangunan Hijau Tercanggih di Dunia Tahun 2025

Selama ini audit energi di Eropa mengacu pada standar EN 16247. Audit tersebut berfokus pada bagaimana energi digunakan dan bagaimana cara menguranginya. Namun audit energi tradisional belum cukup untuk menangkap aspek teknologi pintar yang semakin mendominasi dunia bangunan modern. Di sinilah SRI masuk sebagai pelengkap.

Alur sembilan tahap evaluasi kecerdasan bangunan, mulai dari kontak awal, pengumpulan data, perencanaan pengukuran, metode sampling, kerja lapangan, analisis, hingga laporan akhir untuk menilai efisiensi energi dan Smart Readiness Indicator (SRI) bangunan (Martinez, dkk. 2025).

Peneliti dalam studi ini membandingkan langkah langkah audit energi yang sudah ada dengan kebutuhan khusus audit SRI. Mereka memodifikasi prosedur audit agar mencakup penilaian sistem otomasi bangunan dan sistem kendali seperti Building Automation and Control Systems. Sistem ini mencakup teknologi yang mengatur pencahayaan, ventilasi, pendingin ruangan, keamanan, dan bahkan produksi energi terbarukan dalam sebuah gedung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode audit SRI yang sudah diperbarui ini dapat diterapkan bersamaan dengan audit energi tradisional. Artinya, dalam satu proses pemeriksaan, auditor bisa menilai dua hal sekaligus: apakah gedung sudah efisien dalam penggunaan energi, dan apakah gedung tersebut siap menerima dan memanfaatkan teknologi pintar.

Metode ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kinerja sebuah gedung. Tidak hanya angka konsumsi energi yang terlihat, tetapi juga potensi pengembangan teknologi di masa depan. Misalnya, apakah gedung tersebut sudah bisa mengotomatiskan penggunaan pendingin ruangan berdasarkan keberadaan orang di dalam ruangan. Atau apakah sistemnya mampu beradaptasi dengan harga listrik yang berubah ubah. Dan apakah teknologi yang ada mendukung kenyamanan penghuni, seperti menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan Uni Eropa yang ingin mendorong bangunan yang lebih berkelanjutan dan lebih pintar. Gedung tidak lagi dilihat hanya sebagai struktur fisik, tetapi sebagai sistem hidup yang terus berinteraksi dengan penghuninya dan lingkungan sekitarnya.

Bagi pemilik dan pengelola properti, metode audit ini sangat berguna. Mereka dapat mengetahui seberapa baik kinerja gedung saat ini, sekaligus mendapatkan panduan tentang area mana yang perlu ditingkatkan. Misalnya, audit mungkin menemukan bahwa gedung sudah hemat energi, tetapi belum memiliki sistem kendali otomatis yang mampu mengoptimalkan pemakaian energi secara real time. Dari sini, pemilik gedung bisa merencanakan investasi yang lebih tepat sasaran.

Selain itu, metode ini membantu investor properti. Mereka bisa menilai apakah sebuah gedung memiliki prospek jangka panjang sebagai aset yang siap menghadapi perkembangan teknologi. Dengan begitu, risiko penurunan nilai akibat ketertinggalan teknologi bisa berkurang.

Bagi pemerintah dan regulator, metode audit SRI yang terstandarisasi memberikan alat penting untuk memantau perkembangan smart building secara lebih objektif. Regulasi yang berbasis data yang konsisten akan lebih mudah diterapkan dan dievaluasi dampaknya.

Ada manfaat lain yang sering terlupakan, yaitu kenyamanan dan kesejahteraan penghuni. Gedung pintar yang dirancang dengan baik dapat menjaga suhu nyaman, menyediakan udara bersih, meningkatkan keamanan, dan mempermudah penghuni dalam menggunakan fasilitas. Dengan audit SRI, aspek ini tidak lagi dianggap tambahan, melainkan bagian penting dalam penilaian.

Namun tentu saja penerapan metode ini tidak berjalan tanpa tantangan. Diperlukan pelatihan auditor, penyelarasan standar antar negara, serta integrasi data yang akurat dari berbagai sistem bangunan. Meski begitu, penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan tersebut bisa diatasi dengan metodologi yang jelas dan terstruktur.

Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan perubahan cara pandang terhadap bangunan. Jika dulu gedung hanya dilihat dari kekuatan struktur dan efisiensi energi, kini gedung juga dinilai dari kecerdasannya. Bukan berarti gedung akan menggantikan manusia, tetapi teknologi di dalamnya akan menjadi mitra bagi penghuni dan pengelola untuk mencapai efisiensi dan kenyamanan yang lebih tinggi.

Masa depan kota di dunia kemungkinan besar akan dipenuhi gedung gedung seperti ini. Gedung yang mampu beradaptasi, belajar dari data, dan bekerja sama dengan sistem energi yang lebih besar. Audit SRI memberikan bahasa yang sama bagi semua pihak untuk memahami, mengukur, dan meningkatkan kecerdasan bangunan.

Dengan kata lain, penelitian ini bukan hanya soal dokumen audit, tetapi tentang bagaimana kita mempersiapkan lingkungan binaan untuk memasuki era kota pintar yang sesungguhnya. Ketika setiap bangunan tidak hanya berdiri, tetapi juga berpikir dan berperan aktif dalam menjaga bumi serta mendukung kehidupan penghuninya.

Baca juga artikel tentang: Focus Group Discussion Lintas Sektor Bahas Teknologi Prefabrikasi untuk Percepatan Hunian Layak dan Hijau di Indonesia

REFERENSI:

Martinez, Laura dkk. 2025. Advancing building intelligence: Developing and implementing standardized Smart Readiness Indicator (SRI) on-site audit procedure. Energy 316, 134538.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment