Kampus Ramah Lingkungan, Masa Depan Pendidikan: Pelajaran dari Dua Negara Asia

Last Updated: 6 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Kampus masa kini tidak lagi hanya berbicara soal gedung tinggi, laboratorium modern, atau fasilitas lengkap. Perhatian dunia sekarang mengarah pada satu pertanyaan penting: bagaimana cara membuat kampus yang bukan hanya nyaman untuk belajar, tetapi juga ramah terhadap lingkungan. Inilah yang disebut sebagai konsep sustainable campus atau kampus berkelanjutan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bifeng Zhu dan Gebing Liu mencoba membandingkan pengembangan kampus berkelanjutan antara dua negara besar di Asia, yaitu Jepang dan China. Keduanya sama sama negara maju dalam bidang teknologi dan pendidikan, tetapi memiliki pendekatan yang berbeda dalam membangun kampus hijau. Penelitian ini berusaha melihat apa saja strategi yang mereka gunakan, apa yang bisa dipelajari, dan bagaimana hal itu bisa menjadi contoh bagi kampus di seluruh dunia.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Penelitian ini menggunakan kasus kampus Kitakyushu Science and Research Park di Jepang sebagai fokus utama. Kampus ini dikenal sebagai salah satu contoh penerapan green building yang baik. Para peneliti kemudian membandingkan pendekatan yang dilakukan Jepang dengan pendekatan yang berkembang di China. Perbandingan ini membantu memahami bagaimana perbedaan budaya, kebijakan, dan praktik pembangunan memengaruhi keberhasilan kampus berkelanjutan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini adalah standar penilaian green building. Jepang dan China memiliki kriteria yang mirip tetapi penekanannya berbeda. Jepang lebih fokus pada kenyamanan pengguna gedung dan dampak lingkungan di dalam kampus. Misalnya, mereka memperhatikan kualitas udara dalam ruangan, efisiensi penggunaan energi, pencahayaan alami, serta kesehatan penghuni gedung. Dengan kata lain, prioritas utama mereka adalah menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman sekaligus ramah lingkungan.

Sementara itu, China lebih banyak menekankan pada pengaruh pembangunan kampus terhadap lingkungan yang lebih luas. Tidak hanya soal bangunan, tetapi juga bagaimana kampus berhubungan dengan transportasi, tata kota, dan masyarakat sekitar. Kampus di China sering dihadapkan pada tantangan polusi, kepadatan penduduk, dan kebutuhan energi yang besar. Karena itu, pendekatan mereka lebih bersifat makro dan menyentuh berbagai aspek.

Dari penelitian ini, terdapat tiga poin penting mengenai bagaimana kampus berkelanjutan dikembangkan.

Pertama, Jepang menaruh perhatian besar pada aspek dalam ruangan dan penggunaan energi. Mereka melihat kampus sebagai ruang hidup yang harus nyaman, sehat, dan efisien. Sistem pencahayaan diatur agar memaksimalkan sinar matahari. Ventilasi dirancang supaya udara tetap bersih. Material bangunan dipilih agar tidak menghasilkan polusi kimia. Semua itu bertujuan agar mahasiswa, dosen, dan staf dapat beraktivitas dengan kualitas hidup yang baik.

Kedua, China menekankan pembangunan kampus yang terhubung dengan transportasi, lingkungan kota, dan kegiatan masyarakat. Kampus tidak berdiri sendiri tetapi menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. Misalnya, kampus dirancang agar mudah dijangkau transportasi umum sehingga penggunaan kendaraan pribadi berkurang. Selain itu, kampus juga diharapkan menjadi pusat pengembangan ekonomi dan teknologi, sekaligus tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ketiga, penelitian ini menyimpulkan bahwa model pengembangan kampus berkelanjutan dapat dirangkum pada tiga unsur utama. Green building menjadi inti pengembangan. Tujuan akhirnya tetap mengarah pada Sustainable Development Goals atau SDGs. Lalu, pendidikan menjadi sarana utama untuk menanamkan kesadaran terhadap keberlanjutan. Selain itu, kolaborasi antara industri, akademisi, peneliti, dan pemerintah memainkan peran besar dalam mewujudkan kampus yang benar benar berkelanjutan.

Menariknya, penelitian ini tidak hanya berhenti pada perbandingan. Para peneliti juga mengusulkan sebuah model pembangunan yang disebut pendekatan pembangunan terintegrasi antara bangunan, wilayah, dan lingkungan. Artinya, pembangunan kampus harus mempertimbangkan keseimbangan antara desain bangunan, budaya setempat, kebutuhan wilayah, serta kelestarian alam. Kampus tidak boleh hanya mempercantik diri, tetapi juga harus memberi manfaat bagi masyarakat dan bumi.

Model ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi negara lain. Banyak kampus di dunia yang sedang berusaha menerapkan konsep kampus hijau, tetapi sering terkendala oleh biaya, kurangnya pemahaman, atau belum adanya panduan yang jelas. Dengan adanya model ini, para pengelola kampus dapat memiliki gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana langkah yang harus dilakukan.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa kampus berkelanjutan tidak hanya soal teknologi canggih. Perubahan perilaku dan kesadaran manusia menjadi kunci utama. Mahasiswa dan dosen perlu belajar untuk menggunakan energi secara bijak, mengurangi sampah, dan menjaga ruang terbuka hijau. Dengan begitu, kampus bukan hanya tempat belajar teori tetapi juga tempat praktik hidup berkelanjutan.

Selain itu, penelitian ini membuka peluang besar bagi dunia pendidikan. Kampus yang menerapkan konsep hijau dapat menjadi laboratorium hidup. Mahasiswa bisa belajar langsung dari lingkungan tempat mereka berada. Mereka bisa melihat bagaimana energi dikelola, bagaimana air didaur ulang, bagaimana desain bangunan memengaruhi iklim mikro, dan bagaimana semua itu memberi dampak pada kesehatan manusia.

Di masa depan, konsep kampus berkelanjutan akan semakin penting. Perubahan iklim, krisis energi, dan kerusakan lingkungan sudah menjadi tantangan nyata. Jika lembaga pendidikan sebagai pusat ilmu pengetahuan tidak memberi contoh, siapa lagi yang akan memulainya.

Indonesia juga memiliki peluang besar untuk mengadopsi model ini. Banyak kampus yang mulai sadar akan pentingnya lingkungan. Beberapa sudah menerapkan pengurangan plastik, penggunaan energi terbarukan, dan program penghijauan. Namun, perjalanan masih panjang. Penelitian seperti ini dapat menjadi inspirasi bahwa kampus berkelanjutan bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan dengan perencanaan yang baik.

Kampus berkelanjutan bukan hanya tentang bangunan hijau. Ini tentang cara berpikir baru. Cara yang melihat pendidikan, teknologi, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling mendukung. Jika kampus mampu menjadi contoh, maka generasi muda akan tumbuh dengan kesadaran bahwa bumi harus dijaga. Dan dari sanalah masa depan yang lebih baik bisa dimulai.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Zhu, Bifeng & Liu, Gebing. 2025. The development model of sustainable campus based on green buildings: a systematic comparative study between Japan and China. Engineering, Construction and Architectural Management 32 (2), 805-823.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment