LEED: Rapor Hijau yang Mengubah Dunia Arsitektur Modern
Saat ini dunia arsitektur tidak hanya bicara soal keindahan bentuk bangunan. Dunia arsitektur juga bicara soal bagaimana sebuah gedung bisa lebih ramah lingkungan, hemat energi, serta memberi manfaat bagi manusia dan bumi. Tekanan global untuk menerapkan praktik berkelanjutan semakin besar, sehingga banyak perusahaan arsitektur mulai mencari cara agar desain mereka memenuhi standar hijau. Salah satu cara yang paling dikenal adalah melalui sertifikasi LEED atau Leadership in Energy and Environmental Design.
LEED dapat dianggap sebagai “rapor hijau” untuk bangunan. Sertifikasi ini menilai apakah sebuah bangunan telah dirancang dan dibangun dengan memperhatikan lingkungan, seperti efisiensi energi, penggunaan air, kualitas udara dalam ruangan, pengelolaan limbah, hingga material yang digunakan. Semakin baik performa bangunan terhadap lingkungan, semakin tinggi nilai sertifikasinya.
Baca juga artikel tentang: Dinamika Fluida Komputasional (CFD) untuk Optimalisasi Desain Ventilasi Bangunan Hijau
Sebuah penelitian baru yang diterbitkan pada tahun 2025 mencoba melihat bagaimana perusahaan arsitektur besar di dunia mengadopsi sertifikasi LEED dalam rentang waktu panjang, yaitu dari tahun 2000 hingga 2023. Penelitian ini tidak hanya menghitung jumlah proyek bersertifikat, tetapi juga menganalisis dampaknya terhadap strategi bisnis, reputasi perusahaan, serta kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.
Untuk melakukannya, para peneliti memanfaatkan teknik pengolahan data dalam skala besar. Mereka memindai ribuan data proyek dan profil perusahaan arsitektur terkemuka. Dari situ, mereka mengembangkan dua ukuran utama. Yang pertama disebut Weighted LEED Achieved Score atau WLAS. Ukuran ini membantu melihat seberapa jauh keberhasilan perusahaan dalam mencapai standar keberlanjutan pada setiap proyeknya. Yang kedua adalah Green Impact Ratio atau GIR. Ukuran ini menilai seberapa besar usaha keberlanjutan perusahaan bila dibandingkan dengan ukuran pasar dan skala proyek yang mereka tangani.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya bertanya “berapa banyak proyek hijau yang dibuat perusahaan”, tetapi juga “seberapa besar dampak hijau tersebut terhadap keseluruhan kegiatan perusahaan”.
Hasilnya cukup menarik. Penelitian ini menemukan bahwa semakin banyak perusahaan arsitektur besar yang mengadopsi standar LEED dari tahun ke tahun. Tren ini menunjukkan adanya komitmen yang makin kuat terhadap bangunan berkelanjutan. Pada awal tahun 2000an, proyek LEED masih tergolong langka dan dianggap sebagai inovasi. Namun mendekati tahun 2023, sertifikasi ini mulai menjadi standar baru di industri arsitektur global.
Alasan di balik tren ini cukup jelas. Pertama, masyarakat semakin sadar akan krisis iklim dan dampak lingkungan. Konsumen, pemerintah, hingga investor kini lebih menyukai bangunan yang efisien energi, rendah emisi, dan lebih sehat untuk penghuninya. Kedua, perusahaan yang mampu menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan cenderung memiliki citra yang lebih baik, terlihat lebih bertanggung jawab, dan lebih dipercaya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa sertifikasi LEED bukan hanya alat untuk menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi strategi bisnis. Perusahaan arsitektur yang aktif menggarap proyek bersertifikat hijau seringkali memiliki keunggulan kompetitif. Mereka lebih mudah mendapatkan proyek bergengsi, bekerja sama dengan klien internasional, dan masuk dalam jaringan global pembangunan berkelanjutan.
Namun keberlanjutan bukan hanya tentang citra. Penelitian ini juga menekankan dampak nyata terhadap lingkungan. Dengan mematuhi standar LEED, perusahaan harus memikirkan ulang bagaimana merancang bangunan. Mereka perlu mempertimbangkan sirkulasi udara, pencahayaan alami, bahan bangunan rendah emisi, pengelolaan limbah konstruksi, penggunaan energi terbarukan, hingga kenyamanan penghuni dalam jangka panjang. Semua itu pada akhirnya membantu mengurangi penggunaan energi dan air, menekan gas rumah kaca, dan meningkatkan kualitas hidup.
Selain itu, penelitian ini memberi kerangka evaluasi yang lebih objektif bagi dunia arsitektur. Selama ini, keberlanjutan sering terasa abstrak. Dengan adanya ukuran seperti WLAS dan GIR, peneliti dan praktisi bisa melihat data konkret mengenai kinerja keberlanjutan perusahaan arsitektur. Data ini juga membantu perusahaan mengevaluasi diri. Mereka bisa mengetahui apakah upaya yang dilakukan sudah berdampak besar, atau masih sebatas simbolik.
Penelitian ini juga punya nilai penting bagi pembuat kebijakan. Pemerintah di berbagai negara kini gencar mendorong pembangunan hijau. Dengan memahami bagaimana perusahaan arsitektur mengintegrasikan standar LEED, pembuat kebijakan bisa merancang insentif, regulasi, serta program pendidikan yang lebih efektif. Tujuannya jelas, yaitu mempercepat transisi menuju pembangunan yang rendah karbon.
Meski begitu, perjalanan menuju arsitektur berkelanjutan bukan tanpa tantangan. Membangun bangunan ramah lingkungan sering memerlukan biaya awal yang lebih tinggi. Selain itu, tidak semua pihak memahami manfaat jangka panjangnya. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa semakin lama, semakin banyak perusahaan yang melihat keberlanjutan bukan sebagai beban, tetapi sebagai investasi strategis.
Bagi masyarakat umum, temuan ini membawa harapan. Kita bisa membayangkan masa depan kota dengan bangunan yang lebih hemat energi, udara dalam ruangan yang lebih bersih, penggunaan cahaya alami yang lebih optimal, serta lingkungan yang lebih nyaman dihuni. Anak anak akan belajar di sekolah yang lebih sehat. Pasien akan dirawat di rumah sakit dengan kualitas udara yang lebih baik. Karyawan akan bekerja di gedung yang lebih nyaman secara termal dan visual. Semua itu adalah bagian dari visi arsitektur berkelanjutan.
Penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur memegang peran besar dalam menjaga bumi. Bangunan bukan sekadar tempat tinggal atau bekerja. Bangunan juga menjadi bagian dari ekosistem planet. Dengan mendorong semakin banyak perusahaan arsitektur untuk mengadopsi standar hijau seperti LEED, kita sedang melangkah menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab, lebih sehat, dan lebih selaras dengan alam.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Tetapi tren selama lebih dari dua dekade menunjukkan arah yang jelas. Arsitektur masa depan adalah arsitektur yang peduli lingkungan. Dan dengan alat ukur yang semakin baik, dunia kini punya cara yang lebih jelas untuk melihat sejauh mana komitmen itu benar benar diterapkan.
Baca juga artikel tentang: Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Xu, Jingyi dkk. 2025. Assessing sustainable practices in architecture: A data-driven analysis of LEED certification adoption and impact in top firms from 2000 to 2023. Frontiers of Architectural Research 14 (3), 784-796.








