Membangun Kota Cerdas dengan Beton yang Lebih Bersahabat dengan Alam

Last Updated: 7 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 2

Kota modern tumbuh semakin cepat. Gedung baru berdiri di mana mana, jalan terus dibangun, dan trotoar semakin luas. Semua ini membutuhkan beton dalam jumlah besar. Selama ini, beton dikenal sebagai bahan bangunan utama yang kuat dan tahan lama. Namun, ada satu masalah besar. Produksi beton menyumbang emisi karbon yang sangat tinggi ke atmosfer. Selain itu, permukaan beton yang luas bisa meningkatkan panas di perkotaan dan mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.

Karena itu, muncul pertanyaan penting. Apakah mungkin membangun kota yang tetap kuat, aman, dan modern, tetapi sekaligus ramah lingkungan. Jawaban yang mulai berkembang dalam dunia penelitian adalah beton berkelanjutan atau sustainable concrete. Beton jenis ini tidak hanya berfungsi sebagai struktur bangunan, tetapi juga ikut menjaga keseimbangan lingkungan.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Sebuah kajian ilmiah terbaru membahas secara mendalam bagaimana beton berkelanjutan dapat digunakan dalam pengembangan infrastruktur hijau. Infrastruktur hijau berarti sistem pembangunan kota yang dirancang agar tetap berfungsi secara ekologis. Contohnya yaitu atap hijau, taman kota, jalur air alami, saluran air yang ditanami vegetasi, dan beton yang bisa menyerap air. Semua ini bertujuan mengurangi banjir, menurunkan suhu kota, serta menjaga keanekaragaman hayati.

Salah satu konsep utama dalam penelitian ini adalah beton yang dapat menyerap air atau permeable concrete. Beton jenis ini memiliki rongga kecil di dalamnya, sehingga air hujan bisa meresap masuk ke tanah. Jika dibandingkan dengan beton biasa, air tidak lagi tergenang di permukaan. Hal ini sangat membantu mengurangi banjir, terutama di kota kota besar yang sering mengalami curah hujan tinggi. Air yang meresap juga membantu mengisi kembali cadangan air tanah.

Skema lapisan perkerasan PWR yang terdiri dari lapisan permukaan berpori, bedding layer, base, geotekstil opsional, tanah dasar alami, dan berada di atas muka air tanah (Siddiqui, dkk. 2025).

Selain itu, penelitian ini juga membahas tentang atap hijau atau green roofs. Atap sebuah bangunan ditanami tumbuhan sehingga fungsinya tidak hanya sebagai pelindung, tetapi juga ruang hijau yang menyerap karbon, meredam panas, dan menyaring udara. Beton yang digunakan harus dirancang kuat menahan tanaman, air, dan media tanam. Jika berhasil diterapkan dalam skala besar, atap hijau dapat membantu menurunkan suhu kota secara signifikan.

Inovasi lain yaitu sistem bioswale dan vegetated channels. Ini adalah saluran air yang dipadukan dengan tanaman. Beton tetap digunakan sebagai struktur, tetapi dirancang agar air bisa mengalir secara alami bersama tumbuhan yang membantu menyaring polutan. Jadi, air yang masuk kembali ke lingkungan menjadi lebih bersih.

Keberlanjutan beton bukan hanya soal desain fisik, tetapi juga bahan penyusunnya. Beton tradisional memakai semen dalam jumlah besar. Padahal, produksi semen melepaskan karbon dalam jumlah besar. Para peneliti kini menguji penggunaan bahan alternatif seperti limbah bangunan yang dihancurkan, abu hasil pembakaran industri, atau material tambahan lain yang lebih ramah lingkungan. Dengan cara ini, beton tetap kuat tetapi jejak karbonnya turun.

Selain mengurangi emisi, beton campuran baru juga bisa meningkatkan daya tahan bangunan. Misalnya, beton dengan bahan tambahan tertentu menjadi lebih awet, tahan cuaca ekstrem, dan tidak cepat retak. Artinya, bangunan tidak perlu sering diperbaiki. Ini berarti penghematan sumber daya dalam jangka panjang.

Penelitian ini juga menyoroti cara kerja konstruksi yang lebih efisien. Dengan teknik pengecoran dan formwork yang tepat, konsumsi material bisa ditekan. Limbah selama pembangunan pun berkurang. Semua langkah ini mendukung pengurangan sampah konstruksi yang selama ini menjadi masalah besar.

Mengapa semua ini penting. Kota besar di dunia kini menghadapi tiga tekanan utama. Pertama, urbanisasi yang terus meningkat membuat kebutuhan infrastruktur melonjak. Kedua, perubahan iklim memicu suhu yang makin panas dan risiko banjir yang makin tinggi. Ketiga, masyarakat menuntut lingkungan yang lebih sehat dan hijau. Beton berkelanjutan menawarkan jalan tengah antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Manfaatnya pun sangat luas. Dengan beton yang ramah lingkungan, konsumsi energi berkurang karena bangunan menjadi lebih sejuk. Penggunaan air hujan bisa diatur dengan lebih baik. Emisi gas rumah kaca turun. Keanekaragaman hayati perkotaan juga terjaga karena keberadaan ruang hijau dan ekosistem mikro. Pada akhirnya, kualitas hidup masyarakat meningkat.

Namun, perjalanan menuju penggunaan beton berkelanjutan tidak selalu mudah. Beberapa tantangan muncul seperti biaya awal yang mungkin lebih tinggi, kurangnya pengetahuan teknis di lapangan, dan perlu adanya standar khusus. Meski begitu, penelitian ini menekankan bahwa manfaat jangka panjang jauh lebih besar daripada hambatan awalnya.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri konstruksi, dan masyarakat sangat penting. Kebijakan yang mendukung, edukasi teknis, serta pembiayaan yang tepat akan mempercepat penerapan beton berkelanjutan dalam pembangunan kota masa depan.

Bayangkan sebuah kota yang penuh bangunan kuat tetapi tetap sejuk, tidak mudah banjir, dan memiliki banyak area hijau. Jalan setapak menyerap air hujan, atap gedung dipenuhi tanaman, dan udara terasa lebih bersih. Semua itu bukan mimpi, melainkan hasil dari inovasi pada material sederhana yang selama ini kita kenal yaitu beton. Dengan pendekatan yang tepat, beton tidak lagi menjadi beban bagi lingkungan, melainkan menjadi bagian dari solusi.

Cerita tentang beton berkelanjutan adalah cerita tentang harapan. Kita tetap bisa membangun masa depan, tetapi dengan cara yang lebih bijaksana bagi bumi.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Siddiqui, Abdur Rahman dkk. 2025. Sustainable concrete solutions for green infrastructure development: A review. Journal of Sustainable Construction Materials and Technologies 10 (1), 108-141.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment