Panel Surya: Teknologi Hijau yang Dikenal Banyak Orang, Namun Jarang Dipasang
Perubahan menuju energi hijau terus berkembang di berbagai negara, termasuk di kawasan Timur Tengah. Salah satu teknologi yang dianggap paling menjanjikan adalah panel surya, atau secara teknis dikenal sebagai solar photovoltaic. Teknologi ini mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik yang bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Banyak orang membayangkan masa depan di mana setiap atap rumah terpasang panel surya, sehingga kita tidak lagi tergantung sepenuhnya pada listrik dari pembangkit berbahan bakar fosil.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa adopsi panel surya rumah tangga masih berjalan lambat di banyak negara, termasuk Yordania. Padahal teknologi ini sudah dinilai matang, efisien, dan mampu mengurangi biaya listrik dalam jangka panjang. Para peneliti lalu bertanya. Mengapa masyarakat belum secara luas beralih ke panel surya? Apakah ada hambatan yang berasal dari pengetahuan, persepsi, atau mungkin faktor ekonomi?
Baca juga artikel tentang: Dinamika Fluida Komputasional (CFD) untuk Optimalisasi Desain Ventilasi Bangunan Hijau
Sebuah penelitian yang dilakukan di Yordania mencoba menjawab hal ini. Studi tersebut melibatkan 420 responden yang tinggal di rumah tinggal. Para peneliti ingin mengetahui tingkat pemahaman masyarakat tentang panel surya, sejauh mana mereka menerima teknologi ini, apakah mereka puas dengan kinerjanya, dan faktor apa saja yang memengaruhi keputusan mereka untuk memasang atau tidak memasangnya.
Hasil pertama yang cukup menarik adalah ternyata hanya sedikit lebih dari setengah responden yang benar benar memahami apa itu panel surya. Sekitar 53 persen mengaku mengenal teknologi tersebut, tetapi hanya 32 persen yang merasa pengetahuannya sudah sangat baik. Artinya, banyak orang sudah pernah mendengar tentang panel surya, tetapi belum benar benar memahami cara kerjanya, manfaatnya, dan kebutuhan instalasinya.
Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa hanya sekitar seperempat responden yang benar benar memasang panel surya di rumah mereka. Padahal banyak yang menyatakan minat untuk menggunakan energi matahari. Dengan kata lain, ada jarak yang cukup besar antara minat dan tindakan nyata. Hal ini menjadi tanda bahwa ada hambatan yang belum terpecahkan.

Diagram batang yang membandingkan tingkat pengetahuan, kepedulian, familiaritas, dan kepuasan masyarakat terhadap teknologi panel surya (PV) berdasarkan faktor demografis seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, pendapatan, dan wilayah (Alnusairat & Qadourah, 2025).
Dari sisi kepuasan, responden yang sudah menggunakan panel surya cenderung merasa puas terhadap kinerjanya. Mereka menilai penghematan listrik sebagai manfaat terbesar. Faktor lingkungan juga menjadi pertimbangan penting karena mereka merasa ikut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu, nilai estetika dan penampilan panel di atap rumah juga cukup memengaruhi penilaian meskipun bukan menjadi alasan utama.
Namun penelitian ini juga menunjukkan bahwa adopsi panel surya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penghasilan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan berkaitan dengan seberapa besar kemungkinan seseorang memasang panel surya. Orang dengan pendapatan lebih tinggi lebih mampu menanggung biaya instalasi awal yang memang tidak kecil. Sementara itu, masyarakat dengan pengetahuan lebih baik tentang teknologi ini juga cenderung lebih percaya diri untuk mengadopsinya.
Hal menarik lainnya adalah persepsi risiko dan ketidakpastian. Sebagian orang masih ragu apakah panel surya benar benar tahan lama. Ada pula yang tidak yakin dengan efisiensi energi saat cuaca mendung atau saat musim dingin. Kekhawatiran terhadap biaya perawatan juga cukup besar, meskipun pada praktiknya panel surya relatif minim perawatan.
Selain itu, lokasi pemasangan menjadi isu teknis yang tidak kalah penting. Banyak responden yang lebih menyukai pemasangan panel surya di atap rumah dibandingkan di area lain. Hal ini terkait dengan estetika, kenyamanan, dan efisiensi penyerapan sinar matahari.
Bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan pelajaran penting. Jika ingin mempercepat penggunaan energi surya di sektor rumah tangga, maka strategi yang hanya fokus pada teknologi saja tidak cukup. Edukasi publik perlu diperkuat agar masyarakat memahami keuntungan nyata panel surya dalam jangka panjang. Mereka juga perlu merasa yakin bahwa investasi awal akan terbayar oleh penghematan energi dan peningkatan nilai rumah.
Subsidi atau insentif keuangan juga bisa menjadi alat yang efektif. Banyak negara sudah membuktikan bahwa insentif pajak atau bantuan pemasangan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk beralih ke energi terbarukan. Kejelasan regulasi dan kemudahan prosedur instalasi juga akan membantu.
Di sisi lain, para arsitek dan pengembang perumahan memiliki peran penting. Perencanaan bangunan sejak awal dengan mempertimbangkan panel surya sebagai bagian terintegrasi dari desain rumah akan mempermudah penggunaannya di kemudian hari. Panel surya tidak lagi dianggap sebagai tambahan, tetapi sebagai elemen standar dari rumah masa depan.
Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa transisi menuju energi hijau tidak hanya soal teknologi yang canggih. Perubahan tersebut juga sangat bergantung pada manusia, persepsi, budaya, ekonomi, dan kebijakan publik. Masyarakat perlu merasa siap, mampu, dan yakin bahwa energi surya memang membawa manfaat bagi kehidupan mereka.
Jika tantangan ini bisa diatasi, panel surya berpotensi menjadi bagian penting dalam sistem energi rumah tangga di masa depan. Bukan hanya di Yordania, tetapi juga di negara negara lain termasuk Indonesia. Dengan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, Indonesia sebenarnya memiliki peluang emas untuk memanfaatkan energi surya. Kuncinya terletak pada edukasi, kebijakan, dan keberanian masyarakat untuk mengambil langkah menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Alnusairat, Saba & Qadourah, Jenan Abu. 2025. Moving to green technologies: acceptance and perception of architectural solar photovoltaic technology for residential buildings. Architectural Engineering and Design Management 21 (2), 338-355.








