Ruang Hijau di Antara Bangunan: Resep Kota yang Lebih Sejuk dan Nyaman Ditinggali
Para peneliti terus mencari cara agar kawasan hunian terasa lebih nyaman, sehat, sekaligus ramah lingkungan. Kota yang semakin padat membuat ruang terbuka hijau di antara bangunan menjadi sangat berharga. Kehadiran pepohonan, taman kecil, atau jalur hijau ternyata bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga memengaruhi kenyamanan suhu, pencahayaan alami di dalam rumah, hingga suasana psikologis penghuninya. Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan penting: bagaimana cara merancang ruang hijau di antara gedung agar manfaatnya benar benar maksimal bagi manusia dan lingkungan.
Selama ini, banyak penelitian tentang ruang hijau lebih menekankan pada satu aspek saja. Misalnya hanya melihat bagaimana pepohonan menurunkan suhu udara. Padahal, ruang hijau juga memengaruhi cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah, arah angin, serta pemandangan yang terlihat dari jendela. Semua ini ikut memengaruhi kesehatan fisik dan mental penghuni. Cahaya alami yang cukup membantu menghemat listrik dan menjaga ritme biologis tubuh. Sementara pemandangan hijau dari jendela dapat mengurangi stres dan meningkatkan kenyamanan psikologis.
Baca juga artikel tentang: Dinamika Fluida Komputasional (CFD) untuk Optimalisasi Desain Ventilasi Bangunan Hijau
Karena itu, penelitian ini mencoba menyusun sebuah kerangka perancangan yang mempertimbangkan beberapa tujuan sekaligus. Fokusnya ada pada ruang hijau yang berada di antara bangunan tempat tinggal atau yang disebut Green Space Between Buildings atau GSBB. Tujuannya tidak hanya untuk menyejukkan udara di luar ruangan, tetapi juga untuk memperbaiki kondisi visual di dalam rumah. Dengan kata lain, ruang hijau dirancang agar nyaman dipandang, tidak menghalangi cahaya matahari yang dibutuhkan, dan tetap menjaga suhu lingkungan tetap bersahabat.
Para peneliti menggunakan pendekatan optimasi multi tujuan. Artinya, mereka mencari kombinasi desain yang mampu memberikan hasil terbaik di banyak aspek sekaligus. Beberapa indikator yang dinilai antara lain Universal Thermal Climate Index atau UTCI yang menggambarkan kenyamanan suhu di luar ruangan, Spatial Daylight Autonomy atau sDA yang menunjukkan seberapa besar bagian dalam rumah mendapatkan cahaya alami, Annual Sunlight Exposure atau ASE yang mengukur paparan sinar matahari yang terlalu berlebihan, serta Green View Index atau GVI yang mengukur seberapa banyak ruang hijau terlihat dari jendela.
Keempat indikator ini memiliki hubungan yang tidak selalu sejalan. Misalnya, semakin banyak pepohonan mungkin akan semakin menurunkan suhu di luar ruangan, tetapi terlalu rimbun bisa menghalangi cahaya alami masuk ke dalam rumah. Sebaliknya, jika area terlalu terbuka, cahaya memang masuk dengan baik, tetapi suhu bisa menjadi lebih panas. Di sinilah optimasi dibutuhkan agar desain yang dipilih tidak mengorbankan aspek penting lainnya.
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan bentuk pohon atau Tree Shape Surfaces untuk mensimulasikan bentuk dan susunan vegetasi. Selain itu, mereka memanfaatkan algoritma optimasi bernama NSGA II untuk mencari desain terbaik. Penelitian dilakukan pada kawasan hunian di Beijing sebagai studi kasus yang mewakili kondisi kawasan padat penduduk.

Denah kawasan permukiman dengan area penelitian luar ruang yang diapit bangunan bertingkat empat serta dilengkapi jalur pejalan kaki dan penataan pohon di ruang terbuka tengah (Wang, dkk. 2025).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain ruang hijau yang dioptimalkan mampu memberikan peningkatan nyata. Misalnya, indeks kenyamanan suhu luar ruangan atau UTCI bisa berkurang sekitar 1,31 persen. Artinya, lingkungan terasa lebih sejuk dan nyaman. Peningkatan cahaya alami dalam ruangan yang terukur melalui sDA naik sekitar 6,07 persen. Ini berarti lebih banyak ruangan mendapatkan pencahayaan alami yang cukup sepanjang hari. Meski terjadi sedikit penurunan pada indikator ASE yang menunjukkan paparan sinar matahari berlebih, hal ini justru positif karena mengurangi risiko silau atau ruangan menjadi terlalu panas. Di sisi lain, Green View Index meningkat hingga lebih dari 26 persen yang berarti penghuni semakin banyak melihat pemandangan hijau dari dalam rumah.
Angka angka tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya bagi kualitas hidup sehari hari cukup besar. Udara yang sedikit lebih sejuk, cahaya alami yang lebih merata, serta pemandangan hijau yang lebih luas dapat meningkatkan kesehatan mental, produktivitas, dan kenyamanan hidup. Selain itu, pencahayaan alami yang optimal dapat mengurangi ketergantungan pada lampu selama siang hari sehingga membantu penghematan energi.
Penelitian ini memberikan pesan penting bahwa desain ruang hijau tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Penempatan pohon, ketinggian tajuk, jarak antar bangunan, dan arah bangunan ternyata saling berkaitan. Desainer kota, arsitek, dan perencana lingkungan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kenyamanan termal, pencahayaan alami, dan kualitas visual penghuni.
Selain itu, studi ini juga menegaskan bahwa kota yang sehat bukan hanya soal bangunan megah atau jalan yang rapi. Kota yang sehat adalah kota yang memberi ruang bagi alam untuk hadir setiap hari di tengah kehidupan manusia. Ruang hijau yang ditempatkan dengan cerdas mampu menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
Penelitian seperti ini menjadi sangat relevan di era perubahan iklim. Suhu kota semakin meningkat akibat efek pulau panas perkotaan. Ruang hijau dapat menjadi pendingin alami sekaligus penyaring polusi udara. Namun, ruang hijau juga harus dirancang agar tetap mendukung kebutuhan manusia akan cahaya alami dan kenyamanan visual.
Dengan adanya kerangka optimasi ini, para peneliti berharap perancang kota dapat membuat keputusan yang lebih tepat. Perencanaan tidak lagi hanya berdasarkan intuisi, tetapi didukung oleh data dan simulasi ilmiah. Setiap desain dapat diuji terlebih dahulu untuk melihat dampaknya pada suhu, cahaya, dan kualitas pemandangan.
Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa ruang hijau di antara bangunan memiliki peran yang sangat besar bagi kualitas hidup penghuni. Desain yang tepat dapat memberikan keseimbangan antara kesejukan udara, cahaya alami yang cukup, dan pemandangan hijau yang menenangkan. Pendekatan ilmiah membantu memastikan bahwa setiap meter ruang hijau benar benar memberi manfaat maksimal bagi manusia dan bumi.
Kita bisa membayangkan masa depan kota yang lebih nyaman, di mana setiap jendela menghadirkan pemandangan hijau, udara terasa lebih sejuk, dan cahaya alami mengalir lembut masuk ke dalam rumah. Kota seperti itu bukan hanya indah, tetapi juga lebih sehat dan berkelanjutan. Penelitian ini memberi kita peta jalan untuk menuju ke sana.
Baca juga artikel tentang: Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Wang, Yuxiao dkk. 2025. A multi-objective optimization framework for designing residential green space between buildings considering outdoor thermal comfort, indoor daylight and Green View Index. Sustainable Cities and Society 119, 106045.








