Smart Building Level Lanjut: Bagaimana Digital Twin Mengubah Cara Kita Merawat Gedung
Kita memasuki era ketika sebuah gedung tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga memiliki kembaran digital yang hidup di dalam komputer. Kembaran ini bukan sekadar gambar tiga dimensi. Ia menjadi sistem cerdas yang mampu memantau kondisi bangunan, menganalisis data secara terus menerus, dan membantu pengelola mengambil keputusan yang lebih tepat. Teknologi ini dikenal dengan nama digital twin. Dalam dunia smart building, digital twin mulai memainkan peran penting terutama pada tahap pengelolaan fasilitas atau facility management, yaitu kegiatan sehari hari untuk menjaga agar gedung tetap aman, nyaman, dan efisien.
Sebuah kajian ilmiah terbaru meninjau banyak penelitian tentang penggunaan digital twin di smart building, khususnya pada tahap facility management. Kajian ini bertujuan untuk memahami tiga hal utama. Pertama, faktor apa saja yang memungkinkan teknologi digital twin dapat berjalan dengan baik. Kedua, bagaimana teknologi ini digunakan dalam praktik pengelolaan gedung. Ketiga, tantangan apa yang masih dihadapi sehingga penerapannya belum maksimal. Jawaban atas ketiga hal ini sangat penting karena facility management berkaitan langsung dengan pengalaman para penghuni gedung. Jika pengelolaan gedung berjalan dengan baik, maka tingkat kenyamanan meningkat, biaya lebih terkendali, dan risiko kerusakan dapat ditekan.
Baca juga artikel tentang: Paradigma Thermodynamic Dalam Desain Bangunan Hijau: Kajian Eksploratif
Cara kerja digital twin berawal dari berbagai sensor yang dipasang di dalam gedung. Sensor ini mengukur suhu, kelembaban, penggunaan energi, getaran struktur, keadaan peralatan mekanikal dan elektrikal, serta banyak aspek lainnya. Semua data dari sensor mengalir ke sistem digital yang kemudian membentuk gambaran virtual tentang kondisi nyata gedung. Gambaran ini terus diperbarui secara real time. Pengelola bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam gedung kapan pun dibutuhkan. Jika muncul gejala kerusakan pada lift atau sistem pendingin, digital twin bisa memberikan peringatan dini sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum kerusakan bertambah parah.
Kajian tersebut menemukan bahwa ada enam kategori utama teknologi yang mendukung keberhasilan digital twin dalam pengelolaan gedung. Kategori pertama adalah teknologi sensor yang bertugas menangkap informasi dari lingkungan fisik. Tanpa sensor, tidak ada data yang dapat diproses. Kategori kedua adalah teknologi jaringan komunikasi yang memastikan semua data dapat dikirim dengan cepat dan aman. Kategori ketiga adalah teknologi penyimpanan data yang sanggup menampung informasi dalam jumlah besar. Data dari sebuah gedung saja bisa sangat banyak, apalagi jika mencakup ratusan ruangan. Kategori keempat adalah teknologi aplikasi yang menganalisis dan mengolah data tersebut. Kategori kelima adalah proses pembangunan pengetahuan yang mengubah data mentah menjadi informasi yang berguna. Kategori keenam adalah proses perancangan sistem agar digital twin sesuai dengan kebutuhan unik setiap gedung.

Kerangka konsep Digital Twin (DT) pada smart building, di mana bangunan fisik terhubung secara real-time dengan representasi digitalnya (BIM) dalam sistem siber-fisik untuk keperluan seperti pemantauan kondisi, analisis “what-if”, pemeliharaan prediktif, serta peningkatan operasi gedung (Ghansah, 2025).
Dengan fondasi teknologi tersebut, digital twin dapat diterapkan pada beberapa fungsi utama facility management. Fungsi pertama adalah pemantauan operasi gedung. Pengelola dapat memantau performa sistem listrik, air, pendingin ruangan, dan keamanan secara menyeluruh. Jika terjadi penyimpangan, sistem akan memberikan sinyal peringatan. Fungsi kedua adalah pemantauan kondisi bangunan. Digital twin membantu mendeteksi potensi kerusakan struktural atau risiko keselamatan sejak dini. Fungsi ketiga adalah perawatan berbasis prediksi. Alih alih menunggu kerusakan total, perawatan dilakukan pada saat paling tepat sehingga peralatan lebih awet dan biaya perbaikan lebih kecil.
Walaupun potensinya sangat besar, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Tantangan pertama adalah ketiadaan model acuan yang bersifat komprehensif. Setiap gedung mungkin membangun digital twin dengan pendekatan yang berbeda sehingga sulit menciptakan standar bersama. Tantangan kedua adalah integrasi data real time. Data datang dari beragam perangkat dan sistem yang sering kali tidak dirancang untuk saling terhubung. Tantangan ketiga adalah ketidakpastian kualitas data. Sensor bisa mengalami gangguan sehingga data yang dikirim tidak selalu akurat. Tantangan keempat adalah bagaimana menyajikan data dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Jika tampilan terlalu rumit, pengelola justru kesulitan mengambil keputusan.
Untuk menjawab tantangan ini, para peneliti menyusun kerangka kerja yang memetakan hubungan antara faktor pendukung, aplikasi, dan tantangan digital twin. Kerangka ini membantu para pengelola fasilitas, perancang sistem, dan pengambil kebijakan memahami gambaran menyeluruh sebelum menerapkan teknologi ini. Dengan demikian, risiko kegagalan dapat dikurangi sejak awal.

Jumlah metode penelitian yang digunakan dalam studi terpilih, di mana case study paling banyak digunakan (33 studi), disusul laboratory experiment (13 studi), sementara metode lain seperti mixed research, qualitative, quantitative, dan UCD jauh lebih sedikit (Ghansah, 2025).
Mengapa semua ini relevan bagi masyarakat luas. Jawabannya sangat jelas. Gedung yang dikelola secara lebih cerdas akan memberikan manfaat langsung bagi penghuninya. Penggunaan energi bisa ditekan sehingga biaya operasional turun dan dampak lingkungan berkurang. Kenyamanan meningkat karena suhu ruangan, kualitas udara, dan pencahayaan dapat diatur secara lebih stabil. Keselamatan juga meningkat karena potensi bahaya dapat terdeteksi lebih cepat. Bahkan kepuasan penghuni ikut naik karena masalah kecil bisa diatasi dengan lebih efektif.
Namun teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan digital twin juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia. Pengelola gedung perlu menguasai keterampilan baru, seperti membaca data, memahami analisis sistem, dan mengambil keputusan berbasis informasi. Dunia facility management mulai bergeser dari pekerjaan yang sepenuhnya manual menuju kombinasi antara kemampuan teknis dan kecerdasan analitis.
Perkembangan teknologi seperti Internet of Things, komputasi awan, big data, dan kecerdasan buatan semakin memudahkan penerapan digital twin dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding masa lalu. Meskipun begitu, investasi tetap dibutuhkan. Karena itu, kolaborasi antara peneliti, industri, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan menjadi kunci. Standar yang jelas dan dukungan regulasi akan mendorong adopsi yang lebih luas.
Jika kita melihat ke masa depan, sangat mungkin kota kota modern akan dipenuhi gedung yang memiliki kembaran digital yang saling terhubung. Setiap gedung tidak hanya berdiri sebagai struktur beton, baja, dan kaca, tetapi juga sebagai entitas digital yang terus belajar dari data. Ketika satu gedung menemukan cara baru untuk menghemat energi, pengetahuan tersebut dapat diterapkan di gedung lain. Kota pun berkembang menjadi lingkungan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Digital twin bukan sekadar konsep teknologi yang rumit. Ia merupakan langkah nyata menuju pengelolaan gedung yang lebih modern dan bertanggung jawab. Teknologi ini memberi manusia kemampuan baru untuk memahami bangunan secara mendalam. Jika tantangan yang ada dapat diatasi dengan baik, maka kehadiran kembaran digital akan menjadi mitra penting bagi para pengelola gedung di seluruh dunia, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal dan bekerja di dalamnya.
Baca juga artikel tentang: Lebih Sehat dengan Bangunan Hijau: Mengapa Desain Ramah Lingkungan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup
REFERENSI:
Ghansah, Frank Ato. 2025. Digital twins for smart building at the facility management stage: a systematic review of enablers, applications and challenges. Smart and Sustainable Built Environment 14 (4), 1194-1229.








