Standar Global, Iklim Lokal: Tantangan Nyata Penerapan Sertifikasi LEED

Last Updated: 5 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 5

Banyak orang kini mendengar istilah bangunan hijau atau green building sebagai solusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Salah satu standar bangunan hijau yang paling terkenal di dunia bernama LEED, singkatan dari Leadership in Energy and Environmental Design. Sertifikasi ini dikembangkan di Amerika Serikat dan sudah digunakan di banyak negara sebagai acuan dalam menilai seberapa ramah lingkungan sebuah bangunan. Namun pertanyaan penting muncul. Benarkah bangunan yang sudah bersertifikat LEED selalu lebih hemat energi dibanding bangunan biasa

Sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan mengulas berbagai penelitian yang membandingkan kinerja energi bangunan bersertifikat LEED dengan bangunan tanpa sertifikat. Hasilnya tidak sesederhana yang banyak orang bayangkan. Ada bangunan LEED yang benar benar jauh lebih efisien, tetapi ada juga yang konsumsi energinya tidak berbeda jauh, bahkan ada yang kurang efisien dalam kondisi tertentu.

Baca juga artikel tentang: Dinamika Fluida Komputasional (CFD) untuk Optimalisasi Desain Ventilasi Bangunan Hijau

Untuk memahami hal ini, kita perlu mengenal dulu bagaimana LEED bekerja. Sertifikasi LEED memberikan poin kepada bangunan yang memenuhi berbagai kriteria ramah lingkungan. Misalnya efisiensi energi, ventilasi yang baik, penggunaan air yang hemat, pengelolaan limbah, hingga pemilihan material. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi pula tingkat sertifikasinya. Secara umum, bangunan dengan sertifikasi lebih tinggi memang cenderung memiliki sistem energi yang lebih baik dibanding yang tidak bersertifikat.

Namun studi tersebut menunjukkan bahwa kinerja energi nyata di lapangan bisa sangat bervariasi. Beberapa faktor besar ikut mempengaruhi. Lokasi geografis misalnya, memiliki peran sangat penting. Bangunan di daerah beriklim panas tentu membutuhkan pendingin ruangan lebih sering dibanding bangunan di daerah sejuk. Jika desain dan insulasinya tidak tepat, bangunan yang seharusnya hemat energi justru bisa mengonsumsi listrik lebih banyak untuk pendinginan.

Perbedaan konsumsi energi (dalam persen) antara bangunan bersertifikat LEED dan bangunan konvensional dari berbagai studi, yang menunjukkan hasil bervariasi, sebagian studi melaporkan penghematan energi, sementara sebagian lainnya justru menunjukkan peningkatan konsumsi energi (Ribeiro, dkk. 2025).

Jenis bangunan juga berpengaruh. Bangunan perkantoran, hotel, rumah sakit, sekolah, atau pusat perbelanjaan memiliki pola penggunaan yang sangat berbeda. Jam operasional, jumlah penghuni, serta jenis peralatan listrik yang digunakan menentukan berapa banyak energi yang dibutuhkan. Sertifikasi LEED memang memberi pedoman umum, tetapi penerapan yang kurang sesuai dengan karakter bangunan bisa mengurangi efektivitasnya.

Perilaku pengguna bangunan ternyata juga menjadi faktor kunci. Sistem bangunan yang canggih tidak akan bekerja optimal jika penggunanya tidak memahami cara memakainya. Misalnya, jendela tetap dibuka ketika pendingin ruangan menyala, atau lampu tetap dibiarkan menyala di ruang yang tidak digunakan. Hal hal kecil seperti ini dapat meningkatkan konsumsi energi meskipun desain bangunannya sudah baik.

Selain itu, studi ini juga menemukan adanya perbedaan antara hasil simulasi energi saat perencanaan dengan konsumsi energi nyata setelah bangunan beroperasi. Simulasi komputer biasanya digunakan untuk memperkirakan efisiensi energi sebelum bangunan dibangun. Namun kenyataan di lapangan sering kali tidak sama dengan yang diprediksi. Perubahan fungsi ruangan, pertambahan jumlah pengguna, atau jam operasional yang lebih panjang bisa membuat konsumsi energi meningkat.

Salah satu temuan paling menarik datang dari wilayah beriklim panas. Banyak pedoman desain yang berasal dari standar negara beriklim sedang, seperti Amerika Serikat. Saat pedoman ini diterapkan di negara tropis atau gurun, hasilnya tidak selalu ideal. Misalnya, penggunaan insulasi tertentu memang mengurangi panas dari luar, tetapi di gedung dengan beban panas internal yang tinggi, seperti banyak peralatan elektronik dan penghuni yang padat, suhu dalam ruangan bisa terjebak dan sulit dilepas. Akibatnya, sistem pendingin bekerja lebih keras.

Studi ini tetap menegaskan bahwa sertifikasi LEED memiliki peran besar dalam mendorong praktik konstruksi berkelanjutan di seluruh dunia. Standar ini membantu industri bangunan bergerak menuju arah yang lebih ramah lingkungan dan mempertimbangkan dampak energi sejak tahap perencanaan. Banyak bangunan LEED yang terbukti jauh lebih efisien dibanding bangunan konvensional.

Namun para peneliti juga menyarankan agar sistem penilaian LEED terus diperbarui agar lebih peka terhadap kondisi iklim dan budaya lokal. Standar yang diterapkan di negara empat musim tidak bisa secara langsung disalin begitu saja ke negara tropis. Perlu adaptasi agar desain benar benar sesuai dengan kebutuhan energi di wilayah tersebut.

Selain itu, pendekatan yang lebih menyeluruh perlu diterapkan. Bukan hanya desain fisik yang diperhatikan, tetapi juga edukasi pengguna bangunan. Pengelola gedung dan penghuni harus memahami bagaimana cara memanfaatkan sistem yang ada agar kinerja energi tetap optimal. Perawatan bangunan yang baik juga sangat penting, karena kerusakan kecil pada sistem pendingin, isolasi, atau pencahayaan bisa berdampak besar pada konsumsi energi.

Secara sederhana, kita dapat membayangkan bangunan seperti tubuh manusia. Sertifikasi LEED adalah panduan gaya hidup sehat. Jika seseorang mengikuti panduan tersebut dengan benar, ia cenderung menjadi lebih sehat. Tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan sehari hari, dan bagaimana ia menjalankan panduan tersebut. Begitu pula dengan bangunan hijau. Sertifikasi membantu, tetapi bukan satu satunya penentu keberhasilan.

Bagi masyarakat umum, temuan ini memberikan pesan yang penting. Pertama, label ramah lingkungan memang patut diapresiasi, tetapi kita juga perlu memahami bahwa hasilnya bisa berbeda di setiap tempat. Kedua, perilaku pengguna memiliki peran besar. Menghemat energi tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu, mengatur suhu pendingin dengan bijak, dan memanfaatkan cahaya alami.

Bagi perencana kota, arsitek, dan pembuat kebijakan, studi ini mengingatkan bahwa standar global perlu dialog dengan konteks lokal. Setiap kota memiliki iklim, budaya, dan pola penggunaan ruang yang berbeda. Sertifikasi seperti LEED akan semakin efektif jika mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan tersebut.

Penelitian ini menegaskan bahwa perjalanan menuju bangunan yang benar benar hemat energi masih terus berjalan. Sertifikasi LEED menjadi langkah besar yang sudah membawa banyak perubahan positif, tetapi sistem ini tetap perlu diperbaiki. Dunia membutuhkan bangunan yang tidak hanya indah dan fungsional, tetapi juga bertanggung jawab terhadap planet yang kita tinggali bersama.

Baca juga artikel tentang: Gedung yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Ribeiro, Laura Michelle Leite dkk. 2025. LEED Certification in Building Energy Efficiency: A Review of Its Performance Efficacy and Global Applicability. Sustainability 17 (5), 1876.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment