Tanpa Regulasi Kuat, Bangunan Hijau Sulit Terwujud di Afrika Selatan

Last Updated: 7 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 6

Sektor konstruksi memegang peran besar dalam membentuk wajah kota dan negara. Di Afrika Selatan, bangunan baru terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Namun, pembangunan ini membawa tantangan besar bagi lingkungan. Aktivitas konstruksi menyumbang emisi gas rumah kaca, menghasilkan limbah dalam jumlah besar, serta mengonsumsi energi dan sumber daya alam yang tidak sedikit. Karena itu, para peneliti dan pembuat kebijakan mulai mendorong konsep sustainable building construction, yaitu pembangunan yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.

Konsep ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan dan terus dipromosikan. Banyak pakar menyerukan agar setiap pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Namun kenyataannya, penerapan konstruksi berkelanjutan di banyak negara Afrika masih berjalan sangat lambat. Banyak proyek yang tetap menggunakan pendekatan lama yang boros energi dan sumber daya. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya terletak pada kebijakan dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung penerapan bangunan berkelanjutan.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Chijioke Emmanuel Emere dan rekan rekan dari Afrika Selatan mencoba menjawab pertanyaan penting ini. Mereka ingin mengetahui seperti apa karakteristik regulasi yang benar benar efektif untuk mendorong penerapan konstruksi berkelanjutan di Afrika Selatan. Mereka mengumpulkan data langsung dari para profesional yang bekerja di bidang konstruksi dan lingkungan binaan. Artinya, mereka tidak hanya melihat kebijakan di atas kertas, tetapi juga mendengar langsung pengalaman orang orang yang berada di lapangan.

Para responden diminta menjawab kuesioner yang dirancang secara terstruktur. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan berbagai metode statistik untuk memastikan hasilnya valid dan dapat dipercaya. Dari sinilah peneliti mulai menemukan pola yang menarik.

Grafik distribusi responden berdasarkan bidang profesi, dengan persentase tertinggi berasal dari manajemen konstruksi, teknik, dan quantity surveying, sementara kategori “lainnya” memiliki persentase paling rendah (Emere, dkk. 2025).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan yang sifatnya sukarela saja ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong perubahan besar. Banyak pelaku industri yang akhirnya tetap memilih cara lama jika tidak ada kewajiban hukum yang mengikat. Karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya regulasi yang bersifat wajib atau mandatory. Dengan kata lain, penerapan konstruksi berkelanjutan perlu menjadi kewajiban hukum, bukan hanya anjuran moral.

Beberapa bentuk regulasi wajib yang dianggap sangat penting antara lain adanya undang undang atau aturan jelas tentang pembangunan berkelanjutan, kewajiban melakukan penilaian berkelanjutan pada proyek konstruksi, sertifikasi bangunan berkelanjutan, serta program insentif yang juga diatur secara formal. Jika semua ini diterapkan, pelaku industri tidak hanya akan terdorong, tetapi juga merasa berkewajiban untuk mengikuti standar ramah lingkungan.

Namun, regulasi yang baik tidak hanya sebatas hukuman atau kewajiban. Peraturan yang efektif juga perlu menyediakan dukungan dan penghargaan. Misalnya, pemerintah dapat memberikan insentif pajak, bantuan pembiayaan, atau kemudahan perizinan bagi proyek yang menerapkan teknologi hijau. Dengan cara ini, perusahaan tidak hanya merasa terpaksa, tetapi juga melihat keuntungan nyata dari penerapan prinsip keberlanjutan.

Penelitian ini juga menyoroti satu hal penting lain. Regulasi wajib harus disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya setiap negara. Afrika Selatan memiliki karakteristik yang berbeda dari negara maju. Misalnya, tingkat ekonomi yang tidak merata, tantangan infrastruktur, serta kapasitas kelembagaan yang mungkin masih berkembang. Karena itu, kebijakan yang diambil tidak bisa sekadar meniru negara lain. Pemerintah perlu merancang aturan yang sesuai dengan realitas lokal agar tetap efektif dan adil.

Dampak positif dari regulasi berkelanjutan ternyata sangat luas. Jika aturan diterapkan dengan tegas, seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, perusahaan konstruksi, investor, hingga pengguna bangunan akan memahami pentingnya pembangunan berkelanjutan. Mereka juga akan memiliki panduan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan. Pada akhirnya, Afrika Selatan dapat bergerak lebih cepat menuju pembangunan yang selaras dengan tujuan keberlanjutan global.

Penelitian ini memberikan kontribusi besar bagi pembuat kebijakan. Temuan ini membantu pemerintah memahami elemen apa saja yang benar benar penting dalam desain regulasi. Tidak hanya itu, studi ini juga memberi pencerahan bagi pihak swasta agar lebih siap menghadapi perubahan regulasi di masa depan. Industri konstruksi tidak bisa menghindari arah perkembangan dunia yang semakin menekankan keberlanjutan. Karena itu, perusahaan yang lebih cepat beradaptasi akan memiliki posisi yang lebih baik.

Masyarakat luas pun ikut merasakan manfaatnya. Bangunan berkelanjutan biasanya lebih efisien energi, lebih sehat untuk dihuni, serta memiliki dampak lebih kecil terhadap lingkungan. Jika semakin banyak bangunan seperti ini berdiri, kualitas hidup masyarakat juga akan meningkat. Kota kota akan menjadi lebih hijau, lebih sejuk, dan lebih nyaman.

Namun tentu saja, penerapan regulasi ini tidak lepas dari tantangan. Pemerintah perlu memastikan pengawasan berjalan efektif. Kapasitas sumber daya manusia juga harus diperkuat. Industri konstruksi harus beradaptasi dengan teknologi baru. Semua ini memerlukan komitmen, waktu, dan investasi.

Meski begitu, penelitian ini memberikan sinyal jelas bahwa manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan tantangannya. Regulasi yang kuat dan tepat sasaran dapat menjadi kunci utama untuk mengubah wajah industri konstruksi Afrika Selatan menjadi lebih hijau dan bertanggung jawab.

Penelitian ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep abstrak. Keberlanjutan membutuhkan sistem, aturan, dan komitmen nyata dari semua pihak. Pembangunan yang ramah lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan bumi tetap layak dihuni oleh generasi mendatang.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Emere, Chijioke Emmanuel dkk. 2025. Critical regulatory characteristics for sustainable building construction in South Africa. Sustainability 17 (5), 1830.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment