Teknologi Baru Ungkap Rahasia Hemat Energi di Bangunan Hijau
Bangunan hijau semakin sering menjadi bahan pembicaraan ketika masyarakat mulai menyadari bahwa bumi membutuhkan lebih banyak ruang tinggal dan tempat kerja yang ramah lingkungan. Banyak orang bertanya, apakah bangunan hijau benar benar lebih hemat energi dan lebih baik bagi lingkungan dibandingkan bangunan biasa. Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan ini dengan pendekatan yang sangat modern melalui teknologi yang disebut Building Information Modelling atau BIM.
Teknologi BIM memungkinkan para peneliti dan perancang bangunan membuat model digital tiga dimensi dari sebuah bangunan. Model ini tidak hanya menampilkan bentuk fisik, tetapi juga mampu memperkirakan kebutuhan energi, aliran udara, penggunaan listrik, hingga emisi karbon yang dihasilkan selama bangunan beroperasi. Dalam penelitian ini, para peneliti membuat model digital dari sebuah bangunan konvensional. Setelah itu mereka memodifikasi model tersebut agar memenuhi kriteria bangunan hijau, lalu membandingkan konsumsi energi dan emisi karbon keduanya.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Proses pengumpulan data bangunan dimulai dengan mengambil gambar menggunakan drone. Data tersebut diubah menjadi model tiga dimensi sehingga para peneliti bisa memahami kondisi bangunan secara menyeluruh. Model awal mewakili bangunan biasa yang tidak dirancang secara khusus untuk efisiensi energi. Kemudian para peneliti membuat versi lain dari model yang sama, namun kini dioptimalkan mengikuti prinsip bangunan hijau. Dengan begitu, perbandingan dapat dilakukan secara adil karena kedua model memiliki ukuran dan fungsi yang sama.
Bangunan hijau ternyata mampu menghemat energi hingga sekitar seperempat dari konsumsi energi bangunan biasa. Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan bangunan hijau turun hampir setengah dibandingkan bangunan konvensional. Data ini memberikan bukti kuat bahwa perubahan desain dan sistem operasional benar benar berdampak nyata terhadap lingkungan.
Mengapa bangunan hijau bisa lebih efisien. Rahasianya terletak pada berbagai strategi yang diterapkan sejak tahap perencanaan. Desain bangunan hijau biasanya memaksimalkan pencahayaan alami sehingga penggunaan lampu listrik berkurang. Dinding, atap, dan jendela menggunakan material yang mampu menahan panas secara lebih baik. Dengan begitu, sistem pendingin ruangan tidak perlu bekerja terlalu berat. Sistem ventilasi pun dirancang agar udara segar mengalir lebih lancar sehingga kualitas udara di dalam ruangan meningkat.
Bangunan hijau juga mengoptimalkan penggunaan peralatan listrik yang efisien energi. Lampu, pendingin ruangan, dan peralatan lain dipilih berdasarkan kemampuan mereka menekan pemakaian listrik tanpa mengurangi kenyamanan. Prinsip efisiensi ini pada akhirnya mengurangi beban energi total. Saat konsumsi energi turun, emisi karbon ikut menurun karena kebutuhan listrik dari pembangkit energi berkurang.
Selain memberi manfaat bagi lingkungan, bangunan hijau juga meningkatkan kenyamanan penghuni. Ruangan terasa lebih sejuk, udara lebih bersih, dan pencahayaan lebih nyaman bagi mata. Penelitian ini bahkan menyinggung bahwa penghuni bangunan hijau cenderung merasa lebih puas dengan kondisi tempat tinggal atau tempat kerja mereka. Biaya operasional pun menjadi lebih rendah karena tagihan listrik menyusut.
Teknologi BIM memainkan peran sentral dalam penelitian ini. Dulu, perhitungan efisiensi energi hanya bisa dilakukan setelah bangunan selesai dibangun. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, perbaikan akan menghabiskan banyak biaya. Kini perencana bangunan bisa melakukan simulasi sejak awal. Mereka dapat memprediksi berapa banyak energi yang akan dipakai, berapa besar emisi yang dihasilkan, serta bagian mana yang perlu diperbaiki sebelum pembangunan dimulai. Dengan cara ini, kesalahan dapat diminimalkan dan hasil akhirnya menjadi lebih baik.
Bangunan hijau juga memiliki nilai strategis bagi masa depan. Sektor bangunan menyumbang porsi besar konsumsi energi global. Jika seluruh bangunan tetap memakai sistem lama tanpa perubahan ke arah efisiensi, tekanan terhadap lingkungan akan semakin meningkat. Namun, jika semakin banyak bangunan menerapkan prinsip hijau, pengurangan emisi dapat terjadi dalam skala besar.
Tentu saja, penerapan bangunan hijau masih menghadapi sejumlah hambatan. Sebagian orang menganggap biaya awal penerapannya lebih tinggi dibanding bangunan biasa. Ada juga keterbatasan pengetahuan teknis di kalangan perencana dan pelaksana pembangunan. Selain itu, dukungan kebijakan di beberapa negara masih belum optimal. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa manfaat jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan hambatan yang ada. Penghematan energi dan penurunan emisi akan terus berlangsung selama bangunan berdiri, sehingga investasi awal sebenarnya akan kembali dalam bentuk efisiensi operasional.
Penelitian ini juga memberikan panduan bagi pemerintah, pengembang, arsitek, serta masyarakat umum. Dengan data ilmiah yang jelas, kebijakan pembangunan dapat lebih terarah pada standar yang ramah lingkungan. Pengembang bisa merancang proyek yang lebih hemat energi. Arsitek memperoleh dasar kuat untuk menerapkan desain hijau. Masyarakat pun semakin memahami bahwa rumah atau gedung tempat mereka beraktivitas dapat berperan dalam menjaga bumi.
Bangunan hijau tidak hanya bicara soal teknologi atau material canggih. Konsep ini mencerminkan cara baru dalam memandang hubungan manusia dengan lingkungan. Kita tidak lagi membangun sekadar untuk berdiri dan berfungsi, tetapi juga untuk hidup berdampingan secara lebih selaras dengan alam. Teknologi BIM membantu kita melihat masa depan tersebut dengan lebih jelas dan terukur.
Bangunan hijau terbukti mampu menghemat energi hingga sekitar 25 persen dan menurunkan emisi karbon hampir 50 persen dibanding bangunan konvensional. Teknologi BIM memungkinkan perbandingan ini dilakukan secara akurat dan memberi peluang besar bagi pengembangan desain yang lebih efisien di masa depan. Jika semakin banyak pihak mengadopsi pendekatan ini, maka dunia akan bergerak selangkah lebih dekat menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Kusi, Elijah dkk. 2025. Energy consumption and carbon emission of conventional and green buildings using building information modelling (BIM). International Journal of Building Pathology and Adaptation 43 (4), 826-854.








