Teknologi Pintar yang Mengubah Cara Gedung Menggunakan Listrik
Bangunan modern terus mencari cara agar bisa memakai energi secara lebih cerdas, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan. Para ilmuwan dan insinyur mulai menggabungkan Internet of Things atau IoT dengan kecerdasan buatan untuk mencapai tujuan itu. IoT berarti perangkat kecil seperti sensor suhu, sensor cahaya, dan meteran listrik yang terhubung melalui internet sehingga dapat mengirim data secara terus menerus. Kecerdasan buatan kemudian mempelajari data tersebut untuk membantu gedung mengambil keputusan yang lebih baik tentang cara memakai listrik, pendingin ruangan, atau sistem lainnya.
Bayangkan sebuah gedung perkantoran besar. Setiap ruangan memiliki sensor yang mencatat suhu, tingkat pencahayaan, jumlah orang di dalam ruangan, dan berapa banyak listrik yang dipakai. Semua informasi itu mengalir ke pusat data. Di sana, algoritma kecerdasan buatan mempelajarinya. Sistem ini bisa mengetahui pola pemakaian energi setiap hari. Misalnya, ia dapat melihat bahwa ruang rapat biasanya kosong pada sore hari, atau pendingin ruangan sering bekerja terlalu keras pada pagi hari padahal suhu udara masih sejuk. Dari pola ini, kecerdasan buatan memberi rekomendasi atau langsung melakukan penyesuaian agar energi tidak terbuang percuma.
Baca juga artikel tentang: Mengintip Teknologi Bangunan Hijau Tercanggih di Dunia Tahun 2025
Teknologi ini juga bisa bekerja bersama sumber energi terbarukan seperti panel surya atau turbin angin. Sistem IoT memantau berapa banyak energi yang dihasilkan dan berapa banyak yang dipakai. Jika ada kelebihan energi, bangunan bahkan bisa menyimpannya di baterai atau menjualnya kembali ke jaringan listrik pintar. Hal ini membantu menciptakan sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Selain itu, kecerdasan buatan dapat memprediksi kapan produksi energi terbarukan meningkat atau menurun sehingga pengelolaan pasokan listrik menjadi lebih stabil.
Salah satu manfaat besar dari gabungan IoT dan kecerdasan buatan dalam manajemen energi bangunan terletak pada kemampuan prediksi. Sistem dapat memperkirakan kebutuhan energi di masa depan berdasarkan pola penggunaan sebelumnya dan kondisi yang sedang berlangsung. Misalnya, saat cuaca panas mendadak, sistem sudah siap mengatur pendingin ruangan secara lebih halus agar penghuni tetap nyaman tanpa lonjakan pemakaian listrik yang berlebihan. Pendekatan ini jauh lebih efisien daripada hanya menyalakan dan mematikan sistem secara manual.
Teknologi ini juga mendukung pemeliharaan prediktif. Biasanya, perawatan perangkat seperti inverter, baterai, atau mesin pendingin dilakukan setelah kerusakan terjadi. Namun dengan bantuan kecerdasan buatan, sistem dapat mengenali tanda awal kerusakan dari perubahan kecil dalam data sensor. Operator gedung bisa segera melakukan pemeriksaan sebelum kerusakan besar terjadi. Cara ini tidak hanya menghemat biaya perbaikan, tetapi juga mencegah pemborosan energi akibat kinerja perangkat yang menurun.

Grafik hasil analisis statistik manajemen energi AI berbasis IoT (Rojek, dkk. 2025).
Penelitian yang menjadi dasar artikel ini menunjukkan bahwa sistem berbasis IoT dan kecerdasan buatan mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan biaya operasional. Dalam studi kasus yang diteliti, sistem mampu mengelola energi secara lebih akurat dengan tingkat efektivitas yang tinggi. Para peneliti juga mencatat bahwa solusi ini cocok untuk berbagai jenis bangunan mulai dari kantor hingga lingkungan industri. Hal ini memberi sinyal bahwa teknologi ini siap digunakan secara luas dan tidak lagi terbatas pada proyek percontohan.
Selain manfaat teknis, terdapat pula dampak ekonomi yang signifikan. Ketika bangunan memakai energi dengan lebih efisien, biaya listrik turun secara nyata. Jika sebuah gedung mampu menghemat sebagian besar konsumsi energinya setiap bulan, maka pengelola bisa mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan lain. Dalam jangka panjang, penghematan ini dapat mencapai jumlah yang sangat besar. Pada saat yang sama, bangunan yang mandiri secara energi juga mengurangi ketergantungan pada sumber listrik konvensional yang sering kali masih berbasis bahan bakar fosil.
Teknologi ini juga membawa manfaat lingkungan. Pengurangan konsumsi energi berarti pengurangan jejak karbon. Jika semakin banyak gedung yang menerapkan sistem ini, maka kota bisa menjadi lebih hijau. Bangunan yang dulunya hanya dianggap sebagai konsumen energi terbesar, kini dapat berubah menjadi bagian dari solusi keberlanjutan. Bahkan, beberapa sistem IoT dan kecerdasan buatan sudah mulai terhubung ke jaringan listrik pintar kota, sehingga kontribusi bangunan terhadap stabilitas energi semakin besar.
Untuk menjaga keamanan data, beberapa peneliti juga menjajaki penggunaan teknologi blockchain. Teknologi ini membantu memastikan bahwa data energi dan transaksi yang terjadi dalam sistem listrik pintar tetap aman dan transparan. Karena data energi terus bergerak antar perangkat, keamanan menjadi hal yang sangat penting. Dengan perlindungan yang tepat, sistem ini bisa berjalan tanpa mengganggu privasi atau keamanan operasional.
Meski begitu, penerapan teknologi ini tetap memiliki tantangan. Diperlukan investasi awal untuk memasang sensor IoT, jaringan komunikasi, server pengolahan data, dan perangkat pendukung lain. Selain itu, operator gedung perlu memahami cara kerja sistem agar bisa memanfaatkannya secara optimal. Namun, penelitian menunjukkan bahwa manfaat jangka panjang jauh lebih besar daripada biaya awal. Bahkan, banyak perusahaan mulai menganggap sistem ini sebagai investasi masa depan yang sangat strategis.
Teknologi ini juga mulai mempengaruhi cara kita memandang arsitektur dan perencanaan gedung. Desain bangunan masa depan tidak hanya memperhatikan bentuk, estetika, dan struktur, tetapi juga kecerdasan sistem yang tertanam di dalamnya. Gedung tidak lagi sekadar tempat tinggal atau bekerja, melainkan menjadi organisme digital yang mampu merasakan, belajar, dan menyesuaikan diri. Konsep ini membawa kita lebih dekat pada visi kota pintar yang berkelanjutan dan manusiawi.
Gabungan IoT dan kecerdasan buatan dalam pengelolaan energi gedung menawarkan harapan besar. Teknologi ini membantu mengurangi pemborosan energi, menekan biaya operasional, meningkatkan kenyamanan penghuni, dan melindungi lingkungan. Studi kasus yang dibahas membuktikan bahwa penerapan teknologi ini tidak hanya mungkin, tetapi juga sangat efektif. Jika semakin banyak bangunan yang mengadopsinya, masa depan kota akan menjadi lebih hijau, lebih efisien, dan lebih cerdas.
Baca juga artikel tentang: Focus Group Discussion Lintas Sektor Bahas Teknologi Prefabrikasi untuk Percepatan Hunian Layak dan Hijau di Indonesia
REFERENSI:
Rojek, Izabela dkk. 2025. Internet of Things applications for energy management in buildings using artificial intelligence—A case study. Energies 18 (7), 1706.








