Dari Gedung PBB hingga Laboratorium Sensor: Apa yang Dipelajari CeDSGreeB dari Vietnam?
Di kawasan Kim Ma, Hanoi Vietnam, Green One United Nations House (GOUNH) menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari nol. Dalam pengembangannya sebagai kantor bersama untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Vietnam, sekitar 94 persen struktur bangunan eksisting digunakan kembali untuk mengurangi kebutuhan material baru sekaligus menekan limbah konstruksi.
Keputusan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Tim Centre for Development of Smart and Green Building (CeDSGreeB) Universitas Gadjah Mada, yang berkunjung ke Vietnam pada 20–23 Juli 2026, pendekatan tersebut menyampaikan pesan penting: masa depan bangunan hijau tidak selalu dimulai dengan membangun sesuatu dengan material yang baru. Terkadang, masa depan justru dimulai dengan mempertanyakan apa yang sebenarnya perlu dibongkar.
Green One United Nations House di Hanoi hanyalah salah satu tempat yang dikunjungi CeDSGreeB dalam perjalanan benchmarking selama empat hari tersebut. Tim juga bertemu akademisi di Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT), mengamati pengembangan kampus British University Vietnam (BVU), serta menjajaki teknologi sensor dan bangunan cerdas bersama Hanoi University of Science and Technology (HUST).
Di balik perbedaan karakter keempat institusi itu, terdapat sebuah pola yang sama: bangunan hijau di Vietnam tidak berdiri sebagai teknologi tunggal. Bangunan tersebut berkembang melalui hubungan antara desain, data, pendidikan, sertifikasi, teknologi, dan perilaku manusia.
Bagi CeDSGreeB, perjalanan tersebut bukan sekadar kesempatan melihat gedung hemat energi. Kunjungan ini menjadi upaya mencari jawaban atas pertanyaan yang lebih besar: seperti apa ekosistem bangunan hijau dan cerdas yang dapat dikembangkan di Indonesia?
Dari ruang kuliah menuju kota yang lebih berkelanjutan
Perjalanan dimulai di Ho Chi Minh City pada 20 Juli.
Di Ho Chi Minh City University of Technology atau HCMUT, tim CeDSGreeB bertemu dengan Assoc. Prof. Dr. Arch. Lê Thị Hồng Na dari Faculty of Civil Engineering.
Keahlian Prof. Na mencakup arsitektur berkelanjutan, desain pasif, efisiensi energi, sertifikasi bangunan hijau, hingga bagaimana prinsip arsitektur tradisional dapat diterapkan pada bangunan modern. Namun pembicaraan tidak berhenti pada teori desain.
Salah satu gagasan yang muncul adalah menggunakan bangunan heritage sebagai ruang kerja sama antara Vietnam dan Indonesia.
Kedua negara memiliki banyak bangunan bersejarah di wilayah beriklim tropis. Tantangannya serupa: bagaimana mempertahankan karakter dan nilai sejarah sebuah bangunan sembari membuatnya lebih nyaman, lebih hemat energi, dan lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini?
Salah satu langkah awal yang dibahas adalah penyelenggaraan kuliah bersama mengenai efisiensi energi pada bangunan heritage. Dari sana, kerja sama dapat berkembang menjadi workshop simulasi energi, studio desain bersama, hingga penelitian menggunakan bangunan nyata sebagai studi kasus.
Ada pula pembagian peran yang cukup konkret. Tim di Vietnam dapat melakukan pengukuran temperatur, kelembapan, konsumsi energi, pencahayaan, kualitas udara, dan kenyamanan termal pada bangunan. Tim UGM kemudian dapat menggunakan data tersebut untuk membuat model simulasi energi dan menguji berbagai skenario retrofit.
Dengan cara itu, kolaborasi internasional tidak hanya menghasilkan pertemuan atau dokumen kerja sama, tetapi data, model, publikasi, dan rekomendasi desain yang dapat digunakan secara nyata.
Pertemuan tersebut juga membuka kemungkinan hubungan yang lebih luas dengan ekosistem bangunan hijau Vietnam, termasuk Vietnam Green Building Council dan GreenViet Green Building Consultancy.
Pelajaran yang dibawa pulang cukup jelas: universitas tidak dapat mengembangkan bangunan hijau sendirian. Hal tersebut membutuhkan hubungan dengan konsultan, lembaga sertifikasi, pemerintah, pemilik gedung, industri, dan para profesional yang bekerja langsung di lapangan.
Gedung lama yang mendapat kehidupan kedua
Sehari kemudian, perhatian tim berpindah dari ruang akademik menuju sebuah gedung perkantoran.
Green One United Nations House atau GOUNH di Hanoi memperlihatkan bagaimana prinsip keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi keputusan desain yang sangat konkret.
Bangunan tersebut memperoleh sertifikasi LOTUS Platinum dan menjadi kantor bersama berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Vietnam.
Tetapi mungkin angka paling menarik dari gedung ini bukanlah jumlah panel surya ataupun kapasitas sistem pendinginnya.
Angka itu adalah 94 persen.
Sekitar 94 persen struktur bangunan lama digunakan kembali ketika kompleks tersebut dikembangkan. Pendekatan ini dikenal sebagai adaptive reuse, yaitu memberikan fungsi baru kepada bangunan atau struktur lama daripada membongkarnya dan memulai konstruksi dari nol.
Dampaknya melampaui penghematan biaya material.
Setiap beton, baja, atau material konstruksi yang tidak perlu diproduksi kembali juga berarti menghindari sebagian energi dan emisi karbon yang semestinya muncul selama proses produksi serta konstruksi.
Bangunan tersebut juga menunjukkan bahwa keberlanjutan membutuhkan kombinasi banyak sistem.
Sebanyak 408 panel surya menghasilkan rata-rata sedikitnya 110.000 kWh listrik per tahun, atau sekitar 10–12 persen kebutuhan energi gedung. Sistem kelistrikan, pendinginan dan kenyamanan termal dipantau melalui Building Management System.
Sekitar 35 persen luas atap digunakan sebagai atap hijau. Perangkat sanitasi hemat air membantu menekan konsumsi air, sementara greywater atau air bekas dari penggunaan tertentu diolah kembali dan memenuhi lebih dari 92 persen kebutuhan air untuk irigasi lanskap.
Dalam penilaian operasional, sekitar 94,7 persen area yang ditempati memenuhi persyaratan pencahayaan alami, sedangkan sekitar 93 persen ruang memiliki akses pandangan ke luar.
Angka-angka itu mengungkap satu hal yang terkadang terlupakan ketika membicarakan bangunan hijau.
Gedung yang berkelanjutan bukan hanya gedung yang mengonsumsi sedikit listrik.
Ia juga harus mempertimbangkan air, material, kualitas lingkungan dalam ruang, kenyamanan manusia, emisi karbon, pemeliharaan, bahkan apa yang terjadi pada bangunan bertahun-tahun setelah seremoni peresmian selesai.
Bagi CeDSGreeB, prinsip ini memiliki implikasi langsung.
Bangunan eksisting di lingkungan kampus dapat menjadi objek penelitian retrofit. Fasilitas demonstrasi dapat dilengkapi sensor energi dan lingkungan. Data kinerjanya dapat ditampilkan secara terbuka sehingga sebuah gedung tidak sekadar menjadi tempat bekerja atau belajar, melainkan juga laboratorium yang terus menghasilkan pengetahuan.
Ketika seluruh kampus menjadi ruang belajar
Jika Green One United Nations House menunjukkan apa yang dapat dilakukan terhadap sebuah bangunan lama, British University Vietnam atau BUV memperlihatkan bagaimana prinsip keberlanjutan dapat dirancang dalam skala kampus.
Kampus BUV dikembangkan secara bertahap dalam tiga fase dengan total investasi yang direncanakan mencapai US$165 juta. Setelah seluruh fase selesai, kawasan tersebut dirancang untuk dapat melayani sekitar 10.000 mahasiswa.
BUV menjadi universitas pertama di Vietnam yang memperoleh sertifikasi EDGE untuk kampusnya. Fase keduanya kemudian memperoleh EDGE Advanced.
Menurut data yang disampaikan BUV, pengembangan kampus tersebut menghasilkan penghematan energi sekitar 43 persen, pengurangan penggunaan air sekitar 40 persen, dan pengurangan embodied carbon pada material sekitar 61 persen dibandingkan kompleks universitas konvensional.
Namun bagian yang menarik dari kampus ini justru terlihat di antara bangunan-bangunannya.
Hanya sekitar 20 persen kawasan yang menjadi tutupan bangunan. Ruang lainnya dapat dimanfaatkan untuk lanskap, jalur pejalan kaki, area terbuka dan vegetasi.
Koridor dan ruang transisi dirancang untuk memanfaatkan pencahayaan serta ventilasi alami. Ruang dalam terhubung dengan taman dan area duduk terbuka. Sistem pembelajaran paperless kemudian menambahkan dimensi digital pada konsep smart and green campus.
Di Student Hub dan area coworking, batas antara tempat belajar dan ruang sosial semakin kabur.
Mahasiswa dapat belajar sendiri, bekerja dalam kelompok, berdiskusi, menghadiri kegiatan, atau sekadar berinteraksi. Student Hub dan food court bahkan dapat menampung hampir 2.000 orang dan diubah untuk berbagai jenis kegiatan.
Bagi CeDSGreeB, pendekatan seperti ini memunculkan pertanyaan penting tentang masa depan kampus.
Apakah universitas membutuhkan lebih banyak ruangan, atau justru membutuhkan ruangan yang lebih fleksibel?
Apakah laboratorium bangunan hijau harus menjadi tempat eksperimental yang tertutup, atau dapat sekaligus menjadi ruang kuliah, coworking, workshop dan pameran teknologi?
BUV menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi dinding, kaca atau pendingin udara. Cara sebuah ruang digunakan juga menentukan efisiensinya.
Bangunan yang bisa “merasakan” lingkungannya
Perhentian terakhir membawa tim CeDSGreeB ke wilayah teknologi yang berbeda.
Pada 23 Juli, tim bertemu dengan perwakilan bidang teknik elektro dan elektronika Hanoi University of Science and Technology atau HUST.
Jika HCMUT membicarakan desain, GOUNH memperlihatkan pengelolaan gedung, dan BUV menunjukkan pengalaman kampus hijau, HUST memperlihatkan salah satu komponen penting masa depan smart building: sensor.
Bidang yang dibahas mencakup desain chip, semikonduktor, elektronika, sensor dan perangkat cerdas. HUST memiliki kemampuan dalam sensor berbasis material nano, Internet of Things, komunikasi nirkabel, edge artificial intelligence, dan pengolahan data.
Teknologi tersebut dapat memberikan semacam “indra” kepada sebuah gedung.
Sensor dapat mengukur temperatur dan kelembapan, tetapi juga kualitas udara, konsentrasi gas tertentu, pencahayaan, tingkat hunian hingga konsumsi energi.
Data itu kemudian dapat dihubungkan dengan dashboard atau Building Management System.
Konsekuensinya cukup besar.
Keputusan untuk menambah ventilasi, mengubah operasi pendingin udara, mematikan pencahayaan atau melakukan pemeliharaan tidak lagi hanya berdasarkan jadwal atau perkiraan. Bangunan dapat dikelola berdasarkan apa yang benar-benar sedang terjadi di dalamnya.
Dalam diskusi, muncul kemungkinan kerja sama dengan pembagian kompetensi yang saling melengkapi. HUST dapat berkontribusi pada desain sensor, chip, rangkaian elektronika dan komunikasi data. UGM dan CeDSGreeB dapat berperan pada pemodelan bangunan, analisis energi, integrasi sensor dan validasi kinerja di lapangan.
Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah menguji sistem sensor tersebut pada fasilitas CeDSGreeB atau bangunan di UGM sebagai living laboratory.
Bukan satu teknologi, melainkan sebuah ekosistem
Empat hari perjalanan di Vietnam menghasilkan empat gambaran yang berbeda tentang masa depan bangunan.
Di HCMUT, masa depan itu dimulai dari pendidikan, arsitektur dan jejaring profesional.
Di Green One United Nations House, ia tampak dalam keputusan mempertahankan bangunan lama, menghemat air dan energi, serta mengukur kinerja gedung selama masa operasi.
Di British University Vietnam, keberlanjutan hadir dalam skala kampus, melalui ruang terbuka, fleksibilitas fungsi dan integrasi teknologi dalam aktivitas pendidikan.
Sedangkan di HUST, masa depan itu muncul dalam bentuk sensor, chip dan data yang membuat sebuah gedung mampu mengetahui kondisi dirinya sendiri.
Jika seluruh pelajaran tersebut disatukan, ada satu kesimpulan yang menjadi semakin sulit diabaikan.
Bangunan hijau bukan sekadar gedung dengan panel surya.
Bangunan cerdas juga bukan sekadar gedung yang dipenuhi sensor.
Keduanya memerlukan desain yang baik, sistem pengelolaan yang dapat mengukur kinerja, teknologi yang tepat, lembaga sertifikasi yang kredibel, penelitian, pendidikan, dan manusia yang memahami bagaimana bangunan tersebut seharusnya digunakan.
Notulensi perjalanan CeDSGreeB menyimpulkan bahwa pengembangan bangunan hijau setidaknya membutuhkan tiga lapisan yang bekerja bersama: desain dan teknologi bangunan, sistem pengelolaan dan sertifikasi, serta pendidikan dan perubahan perilaku pengguna.
Bagi Indonesia, gagasan itu relevan karena transformasi menuju bangunan rendah karbon tidak akan berlangsung hanya melalui pembangunan gedung baru.
Sebagian jawabannya mungkin berada pada bangunan yang telah berdiri hari ini: kampus, kantor, sekolah, rumah sakit dan fasilitas publik yang dapat diukur, dipelajari, diperbaiki, dan pada akhirnya dijadikan laboratorium untuk menemukan cara membangun masa depan yang lebih efisien.
Perjalanan CeDSGreeB ke Vietnam dengan demikian bukan hanya tentang melihat apa yang telah dibangun negara lain.
Yang lebih penting adalah menentukan apa yang dapat dilakukan setelah kembali ke Indonesia.








