Apa Hubungan ESG dengan Gedung Ramah Lingkungan? Ini Jawabannya
Perusahaan di seluruh dunia kini semakin sering berbicara tentang keberlanjutan. Istilah seperti ESG atau Environmental, Social, and Governance mulai muncul di laporan tahunan, konferensi bisnis, hingga iklan perusahaan besar. Namun pertanyaan pentingnya adalah apakah komitmen keberlanjutan yang ditampilkan di atas kertas benar benar berubah menjadi tindakan nyata. Salah satu bentuk tindakan yang sangat berpengaruh bagi lingkungan adalah penerapan green building atau bangunan hijau.
Green building merujuk pada gedung yang dirancang dan dioperasikan agar ramah lingkungan, hemat energi, efisien air, serta nyaman dan sehat bagi penghuninya. Penerapan konsep ini sangat penting karena sektor bangunan menyumbang sebagian besar konsumsi energi global dan emisi karbon. Jika semakin banyak perusahaan beralih ke praktik pembangunan hijau, dampaknya terhadap lingkungan akan sangat besar.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Sebuah penelitian internasional terbaru mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong perusahaan untuk mengadopsi praktik green building. Penelitian ini tidak hanya melihat satu negara, tetapi menganalisis 2510 perusahaan dari berbagai belahan dunia selama lima tahun, dari 2018 hingga 2022. Para peneliti menggunakan data keuangan global dan metode statistik canggih untuk menilai hubungan antara laporan keberlanjutan perusahaan dan keputusan mereka berinvestasi pada bangunan hijau.
Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan yang serius melaporkan kinerja keberlanjutannya melalui ESG disclosure cenderung lebih besar kemungkinannya untuk mengadopsi green building. ESG disclosure adalah laporan yang menjelaskan sejauh mana perusahaan memperhatikan dampak lingkungan, kesejahteraan sosial, serta sistem tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab. Jadi, semakin jujur dan terbuka perusahaan mengenai praktik keberlanjutannya, semakin tinggi peluang mereka untuk benar benar bertindak, salah satunya melalui penerapan green building.

Persentase perusahaan di berbagai wilayah dan periode waktu yang melaporkan praktik green building (GB), sehingga terlihat bagaimana tingkat adopsi green building berbeda menurut lokasi dan tahun (Sahu, dkk. 2025).
Penelitian ini juga menemukan bahwa karakteristik perusahaan turut memengaruhi keputusan tersebut. Perusahaan besar, perusahaan yang stabil secara finansial, serta perusahaan yang memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap keberlanjutan, lebih mungkin berinvestasi pada pembangunan hijau. Alasannya cukup sederhana. Perusahaan yang lebih mapan biasanya memiliki sumber daya, akses teknologi, dan kesadaran reputasi yang lebih tinggi. Mereka ingin dilihat sebagai organisasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.
Namun adopsi green building tidak terjadi secara merata di seluruh dunia. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antar wilayah. Di Eropa, lebih dari 77 persen perusahaan melaporkan praktik green building. Sebaliknya, di wilayah Oceania, hanya sekitar 65 persen perusahaan yang melaporkan hal yang sama. Perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh faktor kebijakan pemerintah, kesiapan pasar, tingkat kesadaran masyarakat, hingga tekanan dari investor.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa sektor industri lebih aktif melaporkan green building dibanding sektor lain. Misalnya sektor consumer staples yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat, serta sektor consumer discretionary yang bergerak di bidang produk non esensial namun bernilai tinggi. Sektor sektor ini sangat dekat dengan konsumen sehingga reputasi perusahaan berperan besar. Ketika konsumen semakin peduli pada isu lingkungan, perusahaan pun terdorong untuk membangun citra positif melalui praktik nyata.
Namun, perjalanan menuju green building tidak selalu mulus. Banyak perusahaan yang masih memandangnya sebagai investasi mahal. Pembangunan atau renovasi gedung agar memenuhi standar ramah lingkungan memang membutuhkan biaya awal yang lebih tinggi. Tetapi banyak penelitian sebelumnya membuktikan bahwa dalam jangka panjang, biaya operasional bangunan hijau justru lebih rendah karena energi, air, dan perawatan gedung dapat dihemat secara signifikan. Selain itu, kenyamanan dan kesehatan penghuni juga meningkat, yang pada akhirnya berdampak baik pada produktivitas.
Penelitian ini memberi pesan penting bagi para pembuat kebijakan dan investor. Pemerintah dapat berperan besar dengan menciptakan regulasi, insentif, dan sistem penilaian yang mendorong perusahaan untuk melangkah lebih jauh dalam keberlanjutan. Misalnya melalui keringanan pajak, sertifikasi bangunan hijau, atau program pembiayaan ramah lingkungan. Di sisi lain, investor kini semakin mempertimbangkan aspek ESG sebelum menanamkan modal. Perusahaan yang memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan berpotensi lebih dipercaya dan dinilai lebih stabil dalam jangka panjang.
Bagi masyarakat umum, penelitian ini mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan hanya urusan pemerintah atau aktivis lingkungan. Perusahaan yang kita pilih sebagai penyedia jasa, produk, atau tempat bekerja juga berperan besar. Semakin banyak pihak yang menuntut transparansi dan tanggung jawab lingkungan, semakin kuat dorongan bagi perusahaan untuk bertindak nyata.
Green building bukan hanya tentang dinding yang hijau atau teknologi bangunan yang canggih. Intinya terletak pada bagaimana manusia membangun lingkungan hidup yang lebih sehat, efisien, dan selaras dengan alam. Keputusan perusahaan untuk beralih pada bangunan hijau berarti mereka sedang berinvestasi bukan hanya pada gedung, tetapi pada masa depan generasi mendatang.
Melalui penelitian ini, kita bisa melihat bahwa laporan keberlanjutan perusahaan bukan sekadar formalitas. Jika dilakukan secara jujur dan komprehensif, laporan tersebut dapat menjadi jembatan yang menghubungkan janji di atas kertas dengan tindakan nyata di lapangan. Dunia usaha memegang peran penting dalam perjuangan global menghadapi perubahan iklim. Dan green building adalah salah satu langkah konkret yang bisa membawa dampak besar bagi bumi yang kita tinggali bersama.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Sahu, Antarjyami dkk. 2025. Examining the role of ESG disclosure and firm characteristics in promoting global green building adoption: a panel probit approach. Socio-Ecological Practice Research 7 (1), 77-91.








