Empat Jalan Menuju Hijau: Cara Perusahaan Bahan Bangunan Bertransformasi

Last Updated: 7 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 5

Kita semakin sering mendengar istilah pembangunan hijau. Istilah ini merujuk pada upaya manusia membangun rumah, gedung, dan infrastruktur dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Tujuannya jelas, yaitu mengurangi kerusakan alam, menekan emisi gas rumah kaca, dan menjaga keberlanjutan bumi. Namun, perjalanan menuju pembangunan hijau ternyata tidak sesederhana mengganti bahan bangunan biasa dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Di balik layar, perusahaan bahan bangunan harus melalui proses perubahan yang rumit.

Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal internasional menunjukkan betapa kompleksnya perubahan perilaku perusahaan bahan bangunan ketika beralih menuju praktik yang lebih hijau. Penelitian ini berfokus pada perusahaan bahan bangunan di Tiongkok yang terdaftar di pasar saham. Para peneliti ingin memahami mengapa ada perusahaan yang cepat berubah menjadi lebih ramah lingkungan, sementara yang lain berjalan sangat lambat.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Masalahnya tidak hanya datang dari sisi teknis atau biaya, tetapi juga dari tekanan sosial, regulasi pemerintah, pasar, hingga cara berpikir para pemimpin perusahaan. Dengan kata lain, keputusan untuk beralih ke pembangunan hijau adalah hasil dari banyak faktor yang saling terhubung.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yang disebut analisis kualitatif berbasis himpunan fuzzy. Bahasa sederhananya, metode ini membantu peneliti melihat berbagai kombinasi faktor yang mendorong perusahaan mau berubah. Bukan hanya melihat satu faktor tunggal, tetapi bagaimana beberapa faktor bekerja bersama sama.

Hasil konfigurasi perilaku pengembangan hijau perusahaan bahan bangunan (Li, dkk. 2025).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu syarat tunggal yang wajib ada agar perusahaan mau beralih ke pembangunan hijau. Artinya, perubahan tetap bisa terjadi melalui berbagai jalur. Namun, satu hal yang sering memainkan peran besar adalah cara berpikir dan kesadaran pimpinan perusahaan. Jika pimpinan benar benar melihat pentingnya pembangunan hijau, keputusan strategis perusahaan lebih mudah diarahkan ke sana.

Penelitian ini menemukan bahwa ada empat jalur utama yang mendorong perusahaan untuk mengadopsi praktik hijau.

Jalur pertama muncul ketika terjadi tekanan opini publik. Misalnya, masyarakat mulai marah karena aktivitas perusahaan merusak lingkungan. Media sosial dan pemberitaan bisa memperbesar tekanan itu. Untuk menyelamatkan citra, perusahaan akhirnya memperbaiki praktiknya dan mulai bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan.

Jalur kedua berhubungan dengan pengawasan dari pemerintah atau lembaga pengatur. Ketika pemerintah mengetatkan aturan lingkungan dan memperkuat pengawasan, perusahaan tidak punya banyak pilihan. Mereka harus mengikuti aturan jika ingin tetap beroperasi. Dalam jalur ini, hukum dan kebijakan menjadi pendorong utama perubahan.

Jalur ketiga datang dari insentif pasar. Misalnya, ada keuntungan finansial bagi perusahaan yang menerapkan praktik ramah lingkungan. Bisa berupa kemudahan akses pembiayaan, peluang proyek besar, atau meningkatnya minat konsumen terhadap produk hijau. Dengan kata lain, pembangunan hijau berubah dari beban biaya menjadi peluang bisnis.

Jalur keempat berkaitan dengan kerja sama antara perusahaan dan lembaga pemerintah dalam bidang lingkungan. Bentuknya bisa berupa program kemitraan, pedoman bersama, atau dukungan teknis. Di jalur ini, perusahaan tidak berjalan sendirian, tetapi mendapat bimbingan dan dukungan untuk berubah.

Menariknya, keempat jalur tersebut memiliki satu benang merah. Semuanya mengarah pada tujuan yang sama, yaitu perusahaan akhirnya mau menerapkan praktik pengembangan hijau. Jadi, meskipun jalannya berbeda, tujuannya tetap satu.

Penelitian ini juga menemukan hubungan menarik antara pengawasan sosial dan kebijakan pasar. Dalam beberapa kasus, pengawasan sosial yang kuat membuat kebutuhan akan kebijakan pasar menjadi lebih kecil. Namun, di situasi lain, kebijakan pasar justru lebih dominan. Dengan kata lain, tidak selalu semua alat harus digunakan bersamaan. Kombinasi faktor bisa berbeda antara satu perusahaan dan yang lain.

Apa makna temuan ini bagi dunia nyata?

Pertama, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan satu kebijakan. Misalnya, hanya membuat aturan tanpa pengawasan atau hanya mendorong kampanye publik tanpa dukungan ekonomi. Perubahan paling efektif terjadi ketika berbagai faktor dikombinasikan secara tepat sesuai kondisi.

Kedua, peran masyarakat ternyata sangat besar. Ketika masyarakat peduli dan bersuara, perusahaan bisa terdorong untuk berubah. Ini berarti kesadaran lingkungan tidak boleh berhenti pada level pribadi, tetapi juga perlu diwujudkan dalam tekanan sosial yang konstruktif.

Ketiga, pimpinan perusahaan memegang kunci penting. Walaupun tekanan dari luar besar, tanpa kesadaran internal perubahan bisa berjalan lambat. Itulah sebabnya pendidikan, sosialisasi, dan pembentukan cara pikir hijau di kalangan pengambil keputusan perusahaan menjadi sangat penting.

Namun perjalanan menuju pembangunan hijau tetap penuh tantangan. Banyak perusahaan masih melihat perubahan ini sebagai beban biaya. Ada ketidakpastian pasar, risiko investasi, serta ketakutan kehilangan keuntungan jangka pendek. Padahal, jika dilihat dalam jangka panjang, pembangunan hijau justru bisa menjadi peluang bisnis yang sangat besar.

Penelitian ini memberi pesan optimistis. Walaupun jalan menuju pembangunan hijau tidak selalu lurus dan mulus, tetap ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Setiap perusahaan mungkin akan melalui jalur yang berbeda. Ada yang terdorong oleh pasar, ada yang terpaksa oleh regulasi, ada yang tergerak oleh tekanan publik, dan ada yang tercerahkan oleh visi pemimpin mereka.

Yang paling penting, perubahan itu mungkin terjadi.

Dalam konteks krisis iklim global, hasil penelitian ini sangat relevan. Industri bahan bangunan adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Tanpa perubahan di sektor ini, mimpi mencapai pembangunan berkelanjutan akan sulit terwujud.

Jadi, pembangunan hijau bukan sekadar soal teknologi baru atau bahan bangunan ramah lingkungan. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan panjang yang melibatkan manusia, kebijakan, pasar, opini publik, dan cara berpikir. Jika semua faktor itu bergerak ke arah yang sama, masa depan pembangunan hijau bukan lagi sekadar wacana, tetapi kenyataan yang bisa kita lihat dan rasakan.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Li, Xingwei dkk. 2025. From dilemma to breakthrough: fuzzy-set qualitative comparative analysis of green development behavior pathways in construction materials enterprises. Humanities and Social Sciences Communications 12 (1), 1-13.


About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment