Mengapa Green Building Harus Berpihak kepada Masyarakat?

Last Updated: 24 July 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Masyarakat memegang peranan paling penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Selama ini banyak orang menganggap bahwa Green Building hanya berkaitan dengan bangunan hemat energi, penggunaan panel surya, atau pengurangan emisi karbon. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi masih belum menggambarkan tujuan sebenarnya dari pembangunan hijau. Sebuah bangunan dapat memperoleh berbagai sertifikasi lingkungan, namun keberhasilannya belum lengkap apabila masyarakat di sekitarnya tidak memperoleh manfaat ekonomi, kesempatan kerja, maupun peningkatan kualitas hidup. Penelitian terbaru yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Environmental Innovation and Societal Transitions menawarkan cara pandang yang lebih luas melalui konsep Community Wealth Building. Penelitian ini menjelaskan bahwa pembangunan hijau akan memberikan dampak yang jauh lebih besar apabila mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Dengan kata lain, Green Building tidak hanya harus menghasilkan bangunan yang ramah lingkungan, tetapi juga harus memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Perubahan iklim telah mendorong hampir seluruh negara untuk mempercepat upaya mengurangi emisi karbon. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan mengenai efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, pengurangan limbah, pembangunan rendah karbon, hingga target net zero emission. Berbagai sektor mulai melakukan perubahan, termasuk sektor bangunan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang konsumsi energi terbesar di dunia. Gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah, apartemen, hingga kawasan permukiman mulai menerapkan berbagai teknologi yang mampu menekan penggunaan energi sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Baca juga artikel tentang:

Walaupun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa proses transisi menuju pembangunan hijau tidak selalu memberikan manfaat yang sama kepada semua kelompok masyarakat. Perubahan teknologi dapat mengurangi kebutuhan terhadap beberapa jenis pekerjaan lama, sementara pekerjaan baru membutuhkan keterampilan yang berbeda. Biaya pembangunan hijau juga sering kali lebih tinggi pada tahap awal sehingga tidak semua masyarakat mampu memperoleh manfaatnya secara langsung. Apabila kondisi tersebut tidak diantisipasi, pembangunan hijau justru dapat memperlebar kesenjangan sosial meskipun berhasil menurunkan emisi karbon.

Penelitian ini memperkenalkan konsep Community Wealth Building atau pembangunan kekayaan masyarakat sebagai pendekatan untuk mengatasi persoalan tersebut. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi lokal. Tujuannya bukan hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa manfaat pembangunan tetap berputar di daerah tempat proyek berlangsung. Pendekatan ini mendorong penggunaan tenaga kerja lokal, pengembangan usaha kecil, peningkatan keterampilan masyarakat, serta penguatan berbagai institusi lokal agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.

Menurut para peneliti, konsep tersebut sebenarnya telah berkembang di beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Belanda. Namun penerapannya masih jarang dihubungkan secara langsung dengan pembangunan hijau maupun strategi pengurangan emisi karbon. Padahal kedua konsep tersebut memiliki tujuan yang saling melengkapi. Green Building berusaha menjaga lingkungan melalui efisiensi energi dan pengurangan emisi, sedangkan Community Wealth Building memastikan bahwa proses tersebut juga menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Hubungan antara kedua konsep tersebut menjadi sangat penting karena pembangunan Green Building membutuhkan rantai pasok yang sangat luas. Sebuah gedung hijau memerlukan material bangunan yang lebih ramah lingkungan, teknologi hemat energi, sistem pengelolaan bangunan modern, tenaga ahli, konsultan, hingga perusahaan pemeliharaan yang memiliki kemampuan khusus. Apabila seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi melalui industri lokal, pembangunan Green Building tidak hanya mengurangi emisi karbon tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian daerah.

Penelitian ini menawarkan empat arah utama agar pembangunan hijau mampu menghasilkan kesejahteraan yang lebih merata. Langkah pertama adalah melibatkan masyarakat serta para pekerja dalam proses pengambilan keputusan. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton ketika proyek pembangunan berlangsung. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan, memberikan masukan, dan ikut menentukan arah pembangunan di wilayahnya. Pendekatan seperti ini membuat pembangunan menjadi lebih adil sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan.

Langkah kedua adalah menggabungkan prinsip transisi yang adil ke dalam berbagai program pembangunan yang telah berjalan. Banyak pemerintah daerah sebenarnya sudah memiliki program pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan usaha kecil, maupun peningkatan keterampilan tenaga kerja. Penelitian ini menyarankan agar seluruh program tersebut mulai dihubungkan dengan pembangunan rendah karbon sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan emisi.

Langkah ketiga adalah memperkuat kerja sama antarlembaga. Selama ini kebijakan mengenai lingkungan, energi, pendidikan, industri, dan ketenagakerjaan sering berjalan secara terpisah. Padahal seluruh bidang tersebut saling berkaitan. Ketika pemerintah ingin mempercepat pembangunan Green Building, lembaga pendidikan perlu menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan baru. Industri harus mampu menghasilkan material yang lebih ramah lingkungan. Dunia usaha perlu menyediakan investasi yang mendukung pembangunan hijau. Tanpa koordinasi yang baik, tujuan pembangunan berkelanjutan akan sulit tercapai secara optimal.

Langkah keempat adalah memperkuat peran berbagai institusi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Universitas, rumah sakit, pemerintah daerah, lembaga penelitian, maupun perusahaan besar dapat menjadi pembeli utama berbagai produk dan jasa lokal yang ramah lingkungan. Langkah tersebut akan meningkatkan permintaan terhadap material bangunan hijau, teknologi hemat energi, serta layanan konstruksi berkelanjutan sehingga usaha kecil dan menengah memiliki kesempatan berkembang bersama perubahan menuju ekonomi hijau.

Perkembangan Smart Building memberikan peluang yang sangat besar untuk mendukung konsep tersebut. Bangunan pintar memerlukan sensor, perangkat Internet of Things, sistem otomatisasi, perangkat lunak manajemen energi, analisis data, hingga layanan pemeliharaan digital. Seluruh kebutuhan tersebut membuka peluang munculnya perusahaan rintisan baru, penyedia layanan teknologi, serta lapangan kerja dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Dengan demikian, Smart Building bukan hanya meningkatkan efisiensi bangunan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi.

Green Building dan Smart Building juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Bangunan yang hemat energi mampu menurunkan biaya operasional sehingga penghuni dapat menghemat pengeluaran setiap bulan. Kualitas udara yang lebih baik membantu menjaga kesehatan. Pencahayaan alami meningkatkan kenyamanan bekerja maupun belajar. Ruang hijau yang lebih luas memberikan manfaat bagi kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Seluruh manfaat tersebut menunjukkan bahwa pembangunan hijau bukan hanya investasi bagi lingkungan, tetapi juga investasi bagi kesejahteraan manusia.

Bagi Indonesia, hasil penelitian ini memiliki makna yang sangat penting. Indonesia sedang membangun berbagai kawasan industri, kota baru, pusat pendidikan, rumah sakit, kawasan permukiman, dan gedung perkantoran. Seluruh proyek tersebut memberikan kesempatan besar untuk menggabungkan konsep Green Building dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penggunaan material lokal yang ramah lingkungan, pelibatan tenaga kerja lokal, pengembangan usaha kecil, serta peningkatan keterampilan sumber daya manusia dapat berjalan seiring dengan target pengurangan emisi karbon nasional. Pendekatan seperti ini akan membuat manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh pemilik proyek, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.

Perguruan tinggi juga memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan tujuan tersebut. Penelitian dan inovasi dapat menghasilkan material bangunan yang lebih ramah lingkungan, sistem Smart Building yang lebih efisien, serta teknologi konstruksi yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Dunia pendidikan juga dapat menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi pada bidang Green Building, efisiensi energi, digitalisasi bangunan, dan pembangunan berkelanjutan sehingga kebutuhan tenaga kerja masa depan dapat dipenuhi oleh tenaga profesional dalam negeri.

Penelitian ini memberikan pelajaran yang sangat penting bahwa keberhasilan Green Building tidak cukup diukur dari besarnya pengurangan emisi karbon atau jumlah bangunan yang memperoleh sertifikasi hijau. Keberhasilan yang sesungguhnya muncul ketika pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, menciptakan kesempatan kerja yang lebih baik, serta memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Masa depan Green Building bukan hanya tentang membangun gedung yang lebih hijau, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih sejahtera, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim secara bersama.

Baca juga artikel tentang:

REFERENSI:

Lacey-Barnacle, Max dkk. 2026. Reframing Green Prosperity: integrating sustainability and just transitions into Community Wealth Building. Environmental Innovation and Societal Transitions 59, 101077.

About the Author: Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave A Comment