Jepang vs Cina: Siapa yang Lebih Siap Membangun Kampus Ramah Lingkungan
Kampus masa kini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin besar. Pertumbuhan jumlah mahasiswa, pembangunan gedung baru, serta meningkatnya penggunaan listrik dan air membuat kampus menjadi salah satu pengguna sumber daya yang cukup besar. Di sisi lain, kampus juga berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi. Karena itu, lingkungan kampus seharusnya menjadi contoh tempat yang ramah lingkungan, efisien energi, dan nyaman bagi penghuninya. Inilah yang melatarbelakangi munculnya konsep kampus berkelanjutan yang memanfaatkan prinsip bangunan hijau.
Sebuah penelitian yang membandingkan pengembangan kampus berkelanjutan di Jepang dan Cina memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana dua negara ini membangun model kampus yang lebih hijau. Penelitian ini menggunakan studi kasus Science and Research Park di Kitakyushu untuk mewakili pendekatan Jepang, lalu membandingkannya dengan karakteristik kampus berkelanjutan di Cina. Dari sini, peneliti mencoba melihat standar penilaian bangunan hijau di kedua negara, hasil evaluasinya, serta jalur pengembangan yang paling realistis di lingkungan kampus.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Secara sederhana, bangunan hijau berarti bangunan yang dirancang agar menggunakan energi dan sumber daya lain seefisien mungkin, menghasilkan limbah yang minim, serta tetap menciptakan ruang yang sehat dan nyaman. Di lingkungan kampus, bangunan hijau tidak hanya berbicara soal gedung kuliah atau laboratorium, tetapi juga mencakup transportasi, tata ruang, ruang terbuka, hingga hubungan kampus dengan masyarakat sekitar.
Penelitian ini menemukan bahwa Jepang dan Cina memiliki fokus yang sedikit berbeda dalam menilai keberlanjutan kampus. Di Jepang, perhatian utama jatuh pada tiga hal besar, yaitu kualitas lingkungan dalam ruangan, pemanfaatan energi, dan dampak lingkungan secara keseluruhan. Ini berarti kampus di Jepang sangat memperhatikan udara bersih di dalam gedung, pencahayaan alami, suhu yang nyaman, serta penghematan energi listrik terutama untuk pendingin udara dan penerangan.
Sementara itu, kampus di Cina juga menekankan efisiensi energi dan perlindungan lingkungan, tetapi sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar karena skala pembangunan yang cepat dan kebutuhan infrastruktur yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan kampus berkelanjutan di Cina banyak berfokus pada bagaimana bangunan dan sistem transportasi di dalam kampus dapat berfungsi lebih efisien sambil tetap mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan.
Penelitian ini kemudian menjelaskan bahwa ada tiga pengaruh utama bangunan terhadap keberlanjutan kampus. Pertama, pengaruh pada konstruksi. Ini mencakup pemilihan material, desain bangunan, dan cara pembangunan dilakukan. Material yang lebih ramah lingkungan, desain yang memungkinkan sirkulasi udara alami, serta proses pembangunan yang meminimalkan limbah menjadi poin penting.
Kedua, pengaruh pada transportasi. Kampus berkelanjutan tidak hanya memikirkan gedung, tetapi juga bagaimana orang bergerak di dalamnya. Penyediaan jalur pejalan kaki yang aman, area sepeda, dan koneksi transportasi umum yang baik dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor. Dengan begitu, emisi gas buang serta kemacetan di area kampus bisa dikurangi.
Ketiga, pengaruh pada lingkungan lokal. Kampus yang baik seharusnya tidak memisahkan diri dari kota atau wilayah di sekitarnya. Sebaliknya, kampus bisa menjadi bagian yang menyatu dengan lingkungan, memberi manfaat bagi masyarakat, sekaligus menjaga keseimbangan alam. Misalnya, dengan menyediakan ruang terbuka hijau, area rekreasi publik, dan program pemberdayaan masyarakat.
Dari studi kasus di Jepang, para peneliti menyimpulkan bahwa model pengembangan kampus berkelanjutan yang paling efektif menggabungkan beberapa prinsip utama. Bangunan hijau menjadi inti, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs menjadi arah tujuan, pendidikan sebagai penggerak utama, serta kolaborasi antara industri, lembaga penelitian, dan kampus sebagai ciri penting. Dengan kata lain, kampus tidak hanya membangun gedung yang hemat energi, tetapi juga menanamkan nilai keberlanjutan dalam kurikulum, penelitian, dan kerja sama lintas sektor.
Model ini kemudian disebut sebagai pembangunan terintegrasi antara bangunan, kawasan, dan lingkungan. Bangunan tidak berdiri sendiri. Kampus tidak terpisah dari kota. Semua saling terhubung dan saling mempengaruhi. Pendekatan seperti ini memungkinkan kebijakan kampus selaras dengan kebijakan kota dan nasional, sehingga dampaknya menjadi lebih luas.
Manfaat dari penelitian ini tidak hanya berhenti pada Jepang dan Cina. Kampus di negara lain bisa belajar dari pengalaman kedua negara ini. Banyak kampus di dunia yang sebenarnya ingin menjadi lebih hijau, tetapi masih bingung memulai dari mana. Melalui studi ini, kita bisa melihat bahwa keberlanjutan kampus tidak harus dilakukan sekaligus dalam satu langkah besar. Pendekatan yang terstruktur, berbasis data, dan mempertimbangkan kondisi lokal jauh lebih realistis.
Kampus juga perlu memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya urusan teknis. Ini juga menyangkut budaya, kebiasaan, dan kesadaran seluruh civitas akademika. Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan masyarakat sekitar harus ikut terlibat. Bila tidak, bangunan seefisien apa pun tetap akan boros energi jika penggunanya tidak peduli untuk mematikan lampu atau AC saat ruangan kosong.
Selain itu, penelitian ini mengingatkan bahwa investasi pada bangunan hijau bukan biaya yang hilang. Justru, dalam jangka panjang, kampus akan menghemat biaya listrik, air, dan perawatan bangunan. Kualitas udara di dalam ruangan yang lebih baik juga meningkatkan kesehatan dan kenyamanan pengguna kampus. Pada akhirnya, itu akan berdampak pada produktivitas belajar dan bekerja.
Penelitian ini juga memberi kontribusi pada dunia akademik karena menyajikan kerangka teoretis yang jelas untuk menilai keberlanjutan kampus. Kerangka ini bisa menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, kebijakan pemerintah, hingga panduan bagi kampus yang baru ingin memulai perjalanan menuju lingkungan yang lebih hijau.
Melalui semua temuan ini, terlihat bahwa masa depan kampus seharusnya bergerak menuju pembangunan yang lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan berorientasi pada manusia. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat hidup dan berkembang. Bila kampus berhasil menjadi contoh keberlanjutan, besar kemungkinan masyarakat luas akan ikut terinspirasi.
Upaya menjadikan kampus berkelanjutan bukan sekadar memenuhi tuntutan global tentang lingkungan. Lebih dari itu, kampus yang hijau menciptakan ruang hidup yang lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih bertanggung jawab terhadap bumi yang kita tinggali bersama.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Zhu, Bifeng & Liu, Gebing. 2025. The development model of sustainable campus based on green buildings: a systematic comparative study between Japan and China. Engineering, Construction and Architectural Management 32 (2), 805-823.








