Membangun Tanpa Merusak Alam: Peran Besar Green Building bagi Dunia
Dunia terus bergerak menghadapi tantangan besar seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta kesenjangan sosial dan ekonomi. Perserikatan Bangsa Bangsa merespons tantangan ini melalui Sustainable Development Goals atau SDGs yang terdiri dari 17 tujuan global. Seluruh tujuan ini saling berkaitan, mulai dari pengentasan kemiskinan, kesehatan masyarakat, pengelolaan energi, hingga perlindungan lingkungan. Di tengah berbagai upaya tersebut, sektor bangunan memegang peran sangat penting karena aktivitas konstruksi dan pengoperasian bangunan berkontribusi besar terhadap konsumsi energi dan emisi karbon.
Bangunan hijau atau green building hadir sebagai pendekatan yang mampu menjawab tantangan tersebut. Konsep ini tidak hanya berbicara tentang bangunan yang dipenuhi pepohonan. Green building mencakup seluruh proses kehidupan bangunan, mulai dari perencanaan, desain, pemilihan material, pembangunan, penggunaan, hingga pembongkaran di masa depan. Semua tahap ini dirancang agar memberi manfaat bagi manusia sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Apa yang membuat sebuah bangunan layak disebut hijau
Bangunan hijau memiliki sejumlah prinsip utama yang membedakannya dari bangunan konvensional. Pertama, bangunan hijau memanfaatkan energi secara efisien dan berupaya menggunakan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin. Kedua, material yang digunakan cenderung lebih ramah lingkungan, baik karena berasal dari sumber yang terbarukan, dapat didaur ulang, atau memiliki jejak karbon yang rendah. Ketiga, bangunan hijau menghemat penggunaan air melalui sistem pengelolaan air hujan dan daur ulang air.
Prinsip lainnya mencakup pengelolaan limbah selama konstruksi, penciptaan kualitas udara yang sehat di dalam ruangan, desain yang sesuai dengan iklim setempat, serta peningkatan kenyamanan dan produktivitas penghuni. Dengan kata lain, green building berupaya memberikan dampak positif secara menyeluruh bagi manusia, lingkungan, dan ekonomi.

Klasifikasi berbagai jenis phase change materials (PCM) berbasis hayati beserta sifat fisik, kimia, termal, dan faktor ekonomi yang diinginkan agar material tersebut efektif dan layak digunakan (Olabi, dkk. 2025).
Hubungan bangunan hijau dengan Sustainable Development Goals
Jika diperhatikan lebih dalam, hampir semua tujuan SDGs memiliki hubungan dengan konsep bangunan hijau. Misalnya, tujuan mengenai energi bersih dan terjangkau sangat relevan karena bangunan menyerap porsi besar konsumsi energi global. Ketika bangunan dirancang boros energi, penggunaan bahan bakar fosil meningkat dan emisi gas rumah kaca juga naik. Sebaliknya, penerapan teknologi hemat energi dan energi terbarukan pada bangunan mampu menekan konsumsi energi sekaligus mengurangi polusi.
Bangunan hijau juga berkaitan erat dengan tujuan kesehatan dan kesejahteraan. Kualitas udara yang baik, pencahayaan alami yang cukup, serta suhu ruangan yang stabil memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan fisik dan mental penghuni. Lingkungan yang nyaman bahkan dapat meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas hidup.
Selain itu, green building berkontribusi terhadap tujuan kota dan pemukiman yang berkelanjutan. Kota yang dipenuhi bangunan hemat energi, ramah lingkungan, dan dirancang dengan pendekatan ekologi akan memiliki tingkat polusi lebih rendah, emisi karbon yang terkendali, dan kualitas hidup warganya meningkat. Industri konstruksi hijau juga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja baru di bidang teknologi, rekayasa, dan manajemen lingkungan.
Tujuan lain yang sangat terkait adalah konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penggunaan material ramah lingkungan, desain modular, serta strategi daur ulang membantu mengurangi jumlah limbah konstruksi. Setiap bahan bangunan tidak lagi dianggap sekali pakai, melainkan bagian dari siklus yang terus berkelanjutan.
Tantangan dalam penerapan green building
Walaupun manfaatnya sudah jelas, penerapan bangunan hijau masih menghadapi berbagai kendala. Banyak pihak beranggapan bahwa biaya pembangunan green building lebih mahal dibandingkan bangunan biasa. Padahal, biaya awal yang sedikit lebih tinggi sering kali terbayar melalui penghematan energi dan perawatan dalam jangka panjang.
Beberapa wilayah juga masih mengalami keterbatasan akses terhadap teknologi ramah lingkungan dan material berkualitas. Di sisi lain, tidak semua pelaku industri memahami sepenuhnya konsep green building sehingga pendekatan ini belum selalu menjadi prioritas. Regulasi pemerintah dan standar bangunan pun belum merata. Kondisi tersebut membuat transisi menuju konstruksi hijau berjalan lebih lambat dibandingkan potensi yang sebenarnya.
Oleh karena itu, penelitian menekankan pentingnya peran pemerintah, sektor swasta, akademisi, serta masyarakat. edukasi menjadi langkah penting agar para arsitek, insinyur, pengembang, dan pengguna menyadari keuntungan jangka panjang pembangunan hijau. Kebijakan insentif dan standar wajib juga dapat mempercepat perubahan.
Dampak nyata bagi manusia dan lingkungan
Green building tidak hanya mengubah cara bangunan bekerja, tetapi juga secara langsung memengaruhi kehidupan sehari hari. Penghuni dapat merasakan udara yang lebih segar, pencahayaan yang lebih nyaman, serta suhu ruangan yang stabil tanpa ketergantungan berlebihan pada pendingin udara. Lingkungan kerja atau belajar yang sehat meningkatkan konsentrasi, mengurangi stres, dan menekan risiko penyakit.
Dari sisi lingkungan, bangunan hijau mengurangi emisi gas rumah kaca, menghemat air dan energi, serta meminimalkan limbah. Upaya ini berkontribusi pada perlindungan ekosistem dan keseimbangan alam. Pada tataran ekonomi, penerapan green building memicu inovasi industri, mendorong terciptanya teknologi baru, serta membuka peluang pekerjaan di sektor energi bersih dan teknik lingkungan.
Masa depan konstruksi berkelanjutan
Para peneliti menegaskan bahwa bangunan hijau tidak lagi sekadar tren arsitektur. Konsep ini sudah berubah menjadi kebutuhan global. Dunia akan semakin kesulitan menghadapi krisis iklim dan keterbatasan sumber daya jika masih mengandalkan model pembangunan lama yang boros energi dan tidak peduli lingkungan.
Bangunan yang berdiri hari ini akan digunakan hingga puluhan tahun ke depan. Karena itu, keputusan desain yang diambil saat ini akan mempengaruhi kondisi bumi di masa depan. Ketika arsitek menerapkan desain hemat energi, ketika pengembang memilih material yang ramah lingkungan, dan ketika pemerintah menyusun kebijakan yang mendorong keberlanjutan, dunia bergerak selangkah lebih dekat menuju tercapainya SDGs.
Masyarakat juga memiliki peran besar. Kesadaran untuk memilih hunian yang sehat, hemat energi, dan memperhatikan aspek lingkungan dapat mendorong pasar bergerak ke arah yang lebih hijau. Semakin banyak permintaan terhadap bangunan ramah lingkungan, semakin besar pula peluang industri untuk bertransformasi.
Bangunan hijau hadir sebagai jembatan antara kebutuhan manusia akan ruang hidup yang aman dan nyaman dengan tanggung jawab menjaga kelestarian bumi. Melalui penggunaan energi terbarukan, material ramah lingkungan, serta desain yang cerdas, green building membantu mewujudkan banyak tujuan dalam SDGs, mulai dari kesehatan, energi, ekonomi, hingga perlindungan lingkungan.
Masa depan dunia sangat bergantung pada keputusan yang diambil saat ini. Jika pembangunan terus bergerak menuju konsep hijau dan berkelanjutan, generasi mendatang akan mewarisi bumi yang lebih sehat, kota yang lebih nyaman, serta kehidupan yang lebih seimbang antara manusia dan alam.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Olabi, Abdul Ghani dkk. 2025. The role of green buildings in achieving the sustainable development goals. International Journal of Thermofluids 25, 101002.








