Mengapa Green Building di China Melambat dan Bagaimana Kebijakan yang Tepat Bisa Mengubahnya
Ketika kita mendengar istilah green building atau bangunan hijau, sebagian orang mungkin langsung membayangkan gedung yang penuh tanaman atau memakai cat warna hijau. Padahal, makna sebenarnya jauh lebih luas. Green building berarti gedung yang dirancang dan dioperasikan agar ramah lingkungan, hemat energi, mendukung kesehatan penghuninya, serta tidak membebani bumi secara berlebihan.
Di banyak negara, termasuk China, pemerintah mendorong pembangunan green building karena sektor konstruksi menyumbang energi dan emisi karbon dalam jumlah besar. Namun, pertanyaannya tidak berhenti pada “apa itu green building”, melainkan “bagaimana agar masyarakat dan pengembang benar benar mau membangun green building”. Di sinilah penelitian yang dibahas ini menjadi menarik.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Penelitian ini menyoroti masalah yang sering terjadi. Pengembang bangunan sering mempertimbangkan keuntungan finansial jangka pendek. Sementara itu, calon pembeli rumah atau penghuni mungkin belum paham manfaat green building atau masih memikirkan harga beli yang lebih murah. Jika kedua pihak sama sama tidak melihat keuntungan langsung, maka green building akan berjalan lambat, meski pemerintah sudah memberi imbauan.
Para peneliti di China kemudian mencoba mencari jawaban lewat pendekatan yang cukup unik, yaitu evolutionary game theory atau teori permainan evolusioner. Jangan langsung takut dengan istilahnya. Sederhananya, teori ini membantu menjelaskan bagaimana berbagai pihak bertindak dan mengambil keputusan dalam situasi tertentu, lalu bagaimana keputusan itu berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, jika pemerintah memberi subsidi, apakah pengembang akan membangun lebih banyak green building? Apakah masyarakat akan lebih tertarik membeli? Atau justru sebaliknya?

Kerangka strategi promosi bangunan hijau yang menggabungkan analisis pemangku kepentingan, model permainan evolusioner untuk menentukan strategi kebijakan, serta model SEIR untuk memodelkan perubahan perilaku konsumen terhadap adopsi bangunan hijau dari waktu ke waktu (Fan & Li, 2025).
Dalam penelitian ini, para peneliti membuat model yang menggambarkan hubungan antara pemerintah, pengembang, dan pembeli rumah. Mereka memasukkan berbagai faktor, seperti besarnya subsidi, kesadaran masyarakat tentang lingkungan, respon pengembang terhadap kerugian, hingga keuntungan jangka panjang. Setelah itu, mereka melakukan simulasi numerik, yaitu semacam percobaan di komputer untuk melihat apa yang terjadi jika kondisi tertentu diubah.
Hasil penelitian menunjukkan hal yang cukup jelas. Program subsidi akan bekerja paling efektif jika diberikan kepada dua pihak sekaligus, yaitu pengembang dan pembeli rumah. Mengapa begitu? Karena pengembang akan merasa risiko finansialnya menurun sehingga lebih berani membangun green building. Di sisi lain, pembeli rumah akan melihat harga yang lebih terjangkau, sekaligus manfaat kenyamanan dan efisiensi energi.
Namun, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa kebijakan subsidi tidak bisa diterapkan sembarangan. Sensitivitas setiap pihak terhadap subsidi berbeda pada setiap kondisi. Misalnya, ketika kesadaran masyarakat terhadap green building masih rendah, maka subsidi untuk pembeli rumah perlu lebih besar agar mereka mau beralih. Sebaliknya, ketika green building sudah cukup dikenal, besarnya subsidi bisa sedikit dikurangi tanpa menurunkan minat pasar.
Peneliti juga menemukan bahwa subsidi bagi pengembang sangat berkaitan dengan seberapa tinggi standar green building yang diterapkan. Ketika standar lebih tinggi, biaya pembangunan tentu lebih besar. Pada titik tertentu, peningkatan subsidi memang wajar untuk menjaga minat pengembang. Namun jika standar masih rendah, subsidi yang terlalu besar justru tidak efisien. Artinya, pemerintah perlu benar benar memahami kapan saatnya menambah atau mengurangi dukungan finansial.
Temuan ini sangat penting karena China sedang mengalami perlambatan dalam ekspansi green building. Padahal, pembangunan ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk menekan emisi karbon dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan memahami bagaimana kebijakan subsidi bekerja secara realistis, pemerintah bisa mempercepat kembali perkembangan green building.
Lebih jauh lagi, penelitian ini tidak hanya bicara soal uang. Peneliti menekankan bahwa kesadaran publik juga harus meningkat. Jika masyarakat mulai memahami bahwa green building bisa menghemat listrik, meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan memberi kenyamanan lebih, maka minat mereka akan tumbuh secara alami. Pada akhirnya, pasar akan ikut mendorong perkembangan green building tanpa harus selalu bergantung pada subsidi besar.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa regulasi jelas dan konsisten. Pengembang harus memahami standar yang berlaku dan mendapatkan dukungan teknis sehingga mereka mampu memenuhi persyaratan green building dengan efektif. Jika ekosistem ini terbentuk, maka green building tidak lagi menjadi proyek sesaat, melainkan budaya baru dalam dunia konstruksi.
Penelitian ini memberikan nilai tambah karena menggunakan model yang sesuai dengan kondisi nyata di China. Hasilnya dapat menjadi rujukan nyata bagi pembuat kebijakan, bukan sekadar teori di atas kertas. Selain itu, pendekatan ini juga bisa diterapkan di negara lain yang menghadapi tantangan serupa.
Green building bukan hanya soal teknologi canggih atau arsitektur modern. Ini tentang cara kita hidup di bumi tanpa merusaknya. Ini tentang anak cucu yang kelak masih bisa menikmati udara bersih dan lingkungan sehat. Kebijakan yang tepat, dukungan ekonomi yang seimbang, dan kesadaran masyarakat yang meningkat akan menjadi fondasi penting menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Jika semua pihak bekerja sama, maka green building tidak lagi menjadi pilihan alternatif, melainkan menjadi standar baru dalam pembangunan modern.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Fan, Chunmei & Li, Xiaoyue. 2025. Exploring effective incentive policies for sustainable development of green buildings in China: based on evolutionary game theory and numerical simulation analysis. Engineering, Construction and Architectural Management 32 (5), 3326-3348.








