Metaverse dan Arsitektur: Tempat Ide Dibangun Sebelum Menyentuh Tanah

Last Updated: 9 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Arsitektur selalu berkembang mengikuti teknologi. Beberapa dekade lalu, gambar bangunan masih digambar dengan tangan di atas kertas. Kini, arsitek menggunakan perangkat lunak tiga dimensi dan model digital. Perkembangan berikutnya muncul melalui konsep metaverse, yaitu dunia virtual yang bisa diakses melalui internet dan teknologi imersif seperti virtual reality. Dalam metaverse, seseorang dapat masuk ke ruang digital seolah olah berada di dalamnya secara nyata. Konsep ini mulai banyak diteliti, terutama dalam hubungannya dengan arsitektur.

Sebuah kajian ilmiah mencoba memetakan bagaimana penelitian tentang metaverse dalam arsitektur berkembang di dunia. Kajian ini tidak hanya membaca satu dua artikel, tetapi menganalisis lebih dari tiga ratus publikasi ilmiah yang terbit atau direncanakan terbit sejak tahun 2005 hingga 2024. Para peneliti menggunakan data dari Web of Science, yaitu salah satu basis data terbesar untuk publikasi ilmiah internasional. Tujuannya adalah melihat tren, tema utama, negara yang aktif meneliti, penulis yang paling sering dikutip, serta arah penelitian ke depan.

Baca juga artikel tentang: Teori Kompleksitas dan Adaptive Building Systems dalam Arsitektur Hijau

Hasil analisis menunjukkan bahwa penelitian tentang metaverse dalam arsitektur meningkat sangat pesat beberapa tahun terakhir. Hal ini wajar, karena perkembangan teknologi digital, terutama setelah pandemi, mendorong penggunaan ruang virtual untuk pendidikan, desain, kolaborasi, dan simulasi. Metaverse tidak lagi dianggap sebagai konsep fiksi, tetapi mulai dilihat sebagai alat kerja yang nyata dalam dunia arsitektur.

Salah satu bidang yang paling banyak memanfaatkan metaverse adalah pendidikan arsitektur. Mahasiswa dan dosen dapat memasuki ruang virtual untuk mempelajari desain, mengeksplorasi bangunan, atau mempresentasikan karya. Pembelajaran tidak lagi terbatas ruang kelas fisik. Dengan metaverse, seseorang bisa berdiskusi dan berjalan bersama di dalam model bangunan digital. Pengalaman ini jauh lebih interaktif dibanding hanya melihat gambar dua dimensi di layar.

Selain itu, penelitian juga banyak membahas bagaimana ruang dirasakan dalam dunia virtual. Pertanyaan penting muncul, misalnya apakah manusia merasakan skala, jarak, dan suasana ruang virtual dengan cara yang mirip dengan ruang nyata. Jika ya, maka metaverse dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk menguji desain sebelum dibangun. Arsitek bisa mengundang calon pengguna masuk ke ruang virtual untuk memberi masukan. Proses ini membantu mengurangi kesalahan desain yang mahal di tahap konstruksi.

Tema lain yang banyak muncul adalah hubungan antara metaverse dan bangunan pintar. Dalam konteks ini, metaverse dapat berfungsi sebagai platform pengawasan dan pengelolaan. Pengelola gedung dapat melihat model digital yang terhubung dengan data nyata, misalnya suhu, penggunaan energi, atau pergerakan orang. Teknologi ini sering disebut kembaran digital atau digital twin. Dengan cara ini, pengelolaan gedung menjadi lebih efisien dan prediktif.

Metaverse juga menyentuh bidang pelestarian budaya. Bangunan bersejarah yang rentan rusak bisa dipindahkan ke ruang virtual. Masyarakat tetap bisa mempelajarinya, berjalan di dalamnya, dan memahami nilai sejarahnya tanpa merusak bangunan asli. Ini sangat berarti bagi situs budaya yang sulit diakses atau berisiko tinggi.

Dalam bidang desain universal dan aksesibilitas, metaverse memberi peluang besar. Perancang dapat mensimulasikan pengalaman pengguna dengan kebutuhan khusus, seperti pengguna kursi roda atau penyandang disabilitas visual. Dengan begitu, desain yang inklusif bisa diuji lebih baik sebelum dibangun di dunia nyata.

Namun penelitian juga menunjukkan bahwa metaverse bukan tanpa tantangan. Pertanyaan besar muncul tentang etika, keamanan data, akses teknologi, dan kesenjangan digital. Tidak semua orang memiliki perangkat atau koneksi yang memadai. Selain itu, pengalaman digital tentu tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi fisik. Karena itu, metaverse lebih dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti total dunia nyata.

Diagram tiga bidang yang menghubungkan kata kunci yang digunakan penulis, kata kunci tambahan, dan nama penulis, sehingga kita bisa melihat topik apa yang paling sering diteliti oleh siapa dalam kajian metaverse di bidang arsitektur (Avinç & Yıldız. 2025).

Kajian ini juga memetakan negara, institusi, dan penulis yang paling aktif meneliti topik ini. Banyak publikasi muncul dari negara dengan kemajuan teknologi digital yang pesat serta universitas yang memiliki program arsitektur dan teknologi yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas bidang menjadi semakin penting. Arsitek perlu bekerja bersama ahli komputer, psikolog, desainer game, dan pakar data.

Dari sisi metode penelitian, banyak studi menggunakan pendekatan kualitatif, eksperimen pengguna, dan analisis bibliometrik yang melihat data publikasi secara statistik. Peta penelitian yang dihasilkan membantu ilmuwan lain memahami celah penelitian yang masih belum banyak disentuh. Misalnya, masih dibutuhkan lebih banyak studi mengenai dampak psikologis penggunaan ruang virtual dalam jangka panjang atau bagaimana metaverse dapat diintegrasikan dengan kota pintar secara etis.

Metaverse telah menjadi tema serius dalam dunia arsitektur dan desain, bukan lagi konsep hiburan semata. Teknologi ini membuka peluang bagi pendidikan, simulasi desain, pelestarian budaya, pengelolaan gedung, hingga pengembangan ruang yang lebih inklusif. Pada saat yang sama, para peneliti menekankan perlunya standar etika, perlindungan data, dan kesadaran akan dampak sosial.

Bagi orang awam, mungkin metaverse terdengar seperti dunia maya dalam film fiksi ilmiah. Namun sebenarnya, metaverse adalah evolusi lanjutan dari ruang digital yang sudah kita gunakan setiap hari. Bedanya, kini ruang tersebut semakin imersif dan interaktif. Kita tidak hanya melihat layar, tetapi benar benar merasa berada di dalam pengalaman digital.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi seperti metaverse mengingatkan kita bahwa arsitektur tidak hanya berbicara tentang dinding, beton, dan atap. Arsitektur juga berbicara tentang pengalaman ruang, baik fisik maupun virtual. Dunia sedang bergerak menuju masa di mana batas antara keduanya menjadi semakin tipis. Tugas para perancang, peneliti, dan pendidik adalah memastikan bahwa perkembangan ini membawa manfaat bagi manusia, bukan sebaliknya.

Jika teknologi digunakan dengan bijak, metaverse dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk memahami ruang, menguji ide, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik. Dengan kata lain, masa depan arsitektur mungkin tidak hanya berdiri di atas tanah, tetapi juga hidup di dunia digital.

Baca juga artikel tentang: Analisis dan Evaluasi Penggunaan Energi Bangunan Berbasis Data: Pelajaran Penting dari Inggris dan Strategi Penerapannya di Indonesia

REFERENSI:

Avinç, Güneş Mutlu & Yıldız, Aslı. 2025. A bibliometric and systematic review of scientific publications on metaverse research in architecture: web of science (WoS). International Journal of Technology and Design Education 35 (2), 825-849.

About the Author: Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave A Comment