Rahasia di Balik Sertifikasi Green Building yang Tidak Mudah Dipertahankan
Kesadaran tentang pentingnya bangunan ramah lingkungan terus meningkat di berbagai negara. Banyak gedung kini berlomba mendapatkan sertifikasi green building karena dinilai lebih efisien energi, lebih sehat untuk penghuninya, dan lebih baik bagi lingkungan. Namun, ternyata ada tantangan besar yang jarang disadari. Tantangan itu muncul bukan hanya saat gedung dirancang atau dibangun, tetapi juga saat gedung sudah beroperasi sehari hari.
Sebuah penelitian terbaru mencoba mengungkap masalah tersebut. Penelitian ini menyoroti hambatan yang membuat banyak gedung kesulitan mendapatkan atau mempertahankan sertifikasi green building pada tahap operasional. Tahap operasional adalah masa ketika gedung sudah ditempati, digunakan, dan dijalankan dalam kehidupan nyata.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Selama ini, banyak sistem penilaian green building lebih fokus pada tahap desain dan konstruksi. Artinya, penilaian lebih banyak melihat apakah gedung dibangun dengan material ramah lingkungan, apakah desainnya mendukung efisiensi energi, atau apakah teknologi hemat energi telah dipasang. Padahal, keberlanjutan sejati baru bisa terlihat saat gedung benar benar digunakan.
Gedung yang awalnya dinilai hijau mungkin saja berubah menjadi boros energi jika dioperasikan dengan cara yang salah. Misalnya, lampu hemat energi sudah dipasang, tetapi dipakai terus menerus walaupun ruangan kosong. Atau, sistem pendingin udara sudah dirancang efisien, tetapi suhu ruangan diatur terlalu rendah sehingga energi terbuang percuma. Hal inilah yang ingin ditelusuri para peneliti.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan membandingkan beberapa sistem sertifikasi green building internasional seperti LEED, BREEAM, dan Green Star dengan pedoman penilaian di Tiongkok. Mereka juga mempelajari kasus nyata dari sejumlah gedung yang telah mendapatkan sertifikasi. Dari situ, mereka mencoba menemukan pola hambatan yang sering muncul dalam tahap operasional.

Perkembangan standar dan pedoman evaluasi green building di Tiongkok dari tahun 2001 hingga 2015, yang semakin meluas ke berbagai sektor seperti perumahan, kesehatan, kampus, teknologi konstruksi, dan kota kecil (Karamoozian & Zhang, 2025).
Hasilnya menunjukkan bahwa hambatan terbesar justru datang dari faktor regulasi, pasar, dan teknologi. Banyak negara belum memiliki aturan yang konsisten dan selaras untuk mendukung operasional green building. Kebijakan pemerintah terkadang berubah atau tidak jelas sehingga pengembang dan pengelola gedung kebingungan menerapkannya.
Di sisi lain, tekanan pasar juga menjadi tantangan. Pengembang sering kali menghadapi keterbatasan biaya dan tuntutan keuntungan. Menerapkan sistem operasional yang benar benar hijau membutuhkan investasi untuk pelatihan staf, perawatan peralatan, hingga teknologi pemantauan energi. Tidak semua pengelola gedung siap mengalokasikan dana untuk itu, terutama jika manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang.
Tantangan berikutnya muncul dari sisi teknologi. Banyak sistem hijau yang membutuhkan keahlian khusus untuk dioperasikan. Misalnya, sistem otomasi gedung, sensor energi, atau sistem manajemen udara modern. Jika staf gedung tidak terbiasa dengan teknologi ini, penggunaan teknologi justru menjadi kurang optimal. Akibatnya, tujuan efisiensi energi sulit tercapai.
Penelitian ini juga menyoroti kurangnya keterlibatan pemangku kepentingan. Green building tidak hanya membutuhkan arsitek dan insinyur, tetapi juga dukungan dari pengelola gedung, penyewa, pemerintah, dan penyedia teknologi. Jika kerja sama tidak berjalan, maka sertifikasi green building menjadi sulit dipertahankan.
Padahal, sertifikasi operasional sangat penting untuk memastikan bahwa prinsip keberlanjutan benar benar diterapkan. Tanpa pemantauan berkelanjutan, green building hanya menjadi status di atas kertas.
Namun, penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi masalah. Para peneliti juga menawarkan solusi. Mereka menekankan perlunya kolaborasi yang kuat antara pembuat kebijakan, pelaku pasar, dan pengembang teknologi. Pemerintah diharapkan menyusun regulasi yang konsisten, memberikan dukungan finansial, serta menyediakan panduan yang jelas untuk operasional green building.
Di sisi pasar, pengembang dan pengelola gedung perlu melihat green building sebagai investasi jangka panjang. Pengurangan konsumsi energi berarti penurunan biaya listrik. Udara yang lebih sehat berarti produktivitas penghuni meningkat. Dengan kata lain, keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga keuntungan ekonomi.
Sementara itu, pengembang teknologi perlu merancang sistem yang lebih ramah pengguna. Teknologi green building sebaiknya mudah dioperasikan, memiliki panduan jelas, dan dilengkapi pelatihan. Dengan begitu, pengelola gedung tidak merasa teknologi hijau sebagai beban teknis.
Penelitian ini memberi gambaran bahwa keberlanjutan adalah perjalanan panjang. Sertifikasi green building tidak boleh berhenti saat gedung selesai dibangun. Prinsip hijau harus hidup dalam setiap aktivitas sehari hari di dalam gedung, mulai dari penggunaan listrik, pengelolaan air, hingga perawatan sistem.
Bagi masyarakat awam, pesan pentingnya sederhana. Ketika kita berbicara tentang bangunan ramah lingkungan, yang dimaksud bukan hanya bentuk atau materialnya. Cara gedung digunakan sama pentingnya. Jika penghuni dan pengelola tidak peduli terhadap efisiensi energi, maka teknologi canggih sekalipun tidak akan memberi dampak besar.
Penelitian ini memperluas wawasan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Bukan hanya arsitektur yang harus berubah, tetapi juga sistem, regulasi, perilaku, dan budaya kerja.
Dengan memahami tantangan ini, kita bisa melangkah lebih realistis. Dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak green building, tetapi juga membutuhkan green operation, yaitu cara pengelolaan gedung yang benar benar berkelanjutan.
Jika semua pihak mau bekerja sama, manfaat green building akan semakin besar. Udara kota menjadi lebih bersih, energi terpakai lebih efisien, dan generasi mendatang mewarisi lingkungan yang lebih sehat. Inilah tujuan utama pembangunan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Karamoozian, Masood & Zhang, Hong. 2025. Obstacles to green building accreditation during operating phases: Identifying challenges and solutions for sustainable development. Journal of asian architecture and building engineering 24 (1), 350-366.








