Sertifikat Hijau Bukan Jaminan: Mengungkap Tantangan Bangunan Ramah Lingkungan

Last Updated: 6 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Bangunan hijau semakin sering dibicarakan sebagai salah satu solusi untuk menekan dampak perubahan iklim. Banyak negara mulai mendorong pembangunan gedung yang lebih ramah lingkungan karena sektor konstruksi menyumbang konsumsi energi dan emisi karbon yang sangat besar. Namun perjalanan menuju bangunan hijau yang benar benar berfungsi dengan baik ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada tahun 2025 menyoroti kenyataan bahwa banyak gedung masih kesulitan mendapatkan akreditasi bangunan hijau pada tahap operasional, yaitu saat gedung sudah digunakan sehari hari. Di sinilah tantangan sesungguhnya muncul.

Selama ini, sebagian besar sistem penilaian bangunan hijau lebih fokus pada tahap perencanaan dan konstruksi. Artinya, bangunan bisa saja mendapatkan sertifikat hijau sejak awal, tetapi tidak semua gedung dapat mempertahankan kinerja ramah lingkungan tersebut ketika sudah dihuni dan beroperasi bertahun tahun. Studi ini kemudian mencoba menggali akar masalahnya. Para peneliti membandingkan berbagai standar internasional seperti LEED, BREEAM, dan Green Star dengan pedoman penilaian bangunan hijau di Tiongkok. Mereka juga melakukan studi kasus pada gedung gedung yang sudah bersertifikat untuk melihat secara langsung kendala yang muncul dalam praktik operasional.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Hasilnya cukup menarik sekaligus membuka mata. Tantangan terbesar ternyata datang dari faktor regulasi pemerintah yang belum sinkron. Beberapa aturan sering tumpang tindih atau bahkan bertentangan, sehingga pengembang dan pengelola gedung kesulitan memenuhi semua persyaratan sekaligus. Kondisi ini membuat proses akreditasi terasa rumit dan memakan waktu.

Selain itu, tekanan pasar juga ikut memengaruhi. Banyak pengembang masih memprioritaskan keuntungan jangka pendek. Investasi untuk sistem ramah lingkungan sering dianggap mahal di awal, meskipun sebenarnya bisa menghemat biaya dalam jangka panjang. Jika tidak ada insentif finansial yang jelas, sebagian pelaku industri akhirnya enggan menerapkan standar hijau secara penuh.

Proses perkembangan ESGB di Tiongkok (Karamoozian & Zhang, 2025).

Tantangan berikutnya datang dari sisi teknologi. Bangunan hijau membutuhkan teknologi manajemen energi, sistem monitoring, serta peralatan berstandar efisien yang tidak murah dan butuh keahlian khusus dalam pengoperasiannya. Di banyak tempat, sumber daya manusia yang memahami teknologi ini masih terbatas. Alhasil, gedung yang sebenarnya dirancang sebagai bangunan hijau tidak selalu beroperasi sesuai target karena kendala teknis di lapangan.

Pengelolaan bangunan dalam jangka panjang juga menjadi isu penting. Sertifikat bangunan hijau seharusnya tidak hanya menjadi status di atas kertas. Sertifikasi tersebut idealnya merefleksikan kinerja nyata dalam hal efisiensi energi, pengelolaan air, kualitas udara dalam ruangan, serta kenyamanan penghuni. Namun jika pemeliharaan tidak konsisten, maka performa bangunan akan menurun seiring waktu.

Studi ini kemudian menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak. Pemerintah perlu menyelaraskan regulasi dan menyediakan kebijakan pendukung seperti insentif pajak, kemudahan perizinan, atau subsidi teknologi hijau. Pelaku pasar seperti pengembang dan investor perlu melihat bangunan hijau sebagai investasi masa depan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga secara sosial dan lingkungan. Sementara itu, peneliti dan pengembang teknologi harus terus menyempurnakan solusi yang lebih terjangkau dan mudah diterapkan.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar bangunan hijau tidak berhenti sebagai slogan. Ketika regulasi jelas, pasar siap beradaptasi, dan teknologi dapat diakses, maka bangunan hijau akan lebih mudah mendapat akreditasi tidak hanya saat dibangun tetapi juga selama masa operasionalnya.

Keuntungan dari penerapan bangunan hijau sebenarnya sangat besar. Gedung yang efisien energi dapat menekan biaya listrik dan operasional. Sistem ventilasi yang baik dapat meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan sehingga penghuni lebih sehat dan produktif. Penggunaan material ramah lingkungan membantu mengurangi dampak terhadap alam. Bahkan dalam skala besar, penerapan bangunan hijau dapat berperan penting dalam menurunkan emisi karbon nasional.

Namun semua manfaat ini baru terasa jika pengelolaan dilakukan secara konsisten. Di banyak kasus, konsep bangunan hijau hanya tampil pada tahap desain. Begitu gedung beroperasi, penghematan energi tidak tercapai karena kebiasaan pengguna dan pengelola tidak mendukung. Misalnya penggunaan pendingin udara yang berlebihan, kurangnya perawatan sistem energi, atau pengaturan yang tidak sesuai standar. Studi ini menyoroti bahwa edukasi kepada pengguna bangunan juga sangat penting.

Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi besar pada dunia pengetahuan mengenai praktik bangunan hijau. Hasilnya dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan, pengembang, konsultan, hingga masyarakat umum yang ingin memahami lebih jauh tentang tantangan nyata di lapangan. Dengan memahami hambatan yang ada, langkah perbaikan bisa dirancang lebih tepat sasaran.

Pada akhirnya, bangunan hijau bukan sekadar tren modern. Konsep ini merupakan bagian dari upaya global menuju pembangunan berkelanjutan. Dunia sedang menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, kenaikan suhu bumi, serta meningkatnya konsumsi energi. Sektor konstruksi memegang peran penting dalam menjawab tantangan tersebut. Jika bangunan hijau dapat dioperasikan dengan baik sepanjang siklus hidupnya, maka dampaknya terhadap lingkungan akan jauh lebih besar dan positif.

Studi ini mengajak semua pihak untuk tidak hanya bangga pada label hijau yang tertempel pada dinding gedung. Yang jauh lebih penting ialah memastikan bahwa setiap hari bangunan tersebut benar benar bekerja secara ramah lingkungan. Dengan cara ini, manfaatnya tidak hanya terasa oleh pemilik atau penghuni, tetapi juga oleh masyarakat luas dan bumi yang kita tinggali bersama.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Karamoozian, Masood & Zhang, Hong. 2025. Obstacles to green building accreditation during operating phases: Identifying challenges and solutions for sustainable development. Journal of asian architecture and building engineering 24 (1), 350-366.

About the Author: Maratus Sholikah

Penulis sains yang mengubah riset kompleks menjadi cerita yang jernih, akurat, dan mudah dipahami. Berpengalaman menulis untuk media sains, dan platform digital, serta berfokus pada konten berbasis data yang kuat, tajam, dan relevan.

Leave A Comment