Tantangan dan Solusi Membangun Gedung Ramah Lingkungan di Nigeria

Last Updated: 9 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 2

Banyak negara berkembang saat ini sedang tumbuh dengan sangat cepat. Kota kota baru muncul, pembangunan gedung meningkat, dan kebutuhan infrastruktur terus bertambah. Namun, di tengah laju pembangunan tersebut, ada satu pertanyaan besar yang perlu dijawab. Bagaimana cara memastikan bahwa pembangunan tidak merusak lingkungan dan tetap berkelanjutan? Di sinilah konsep green building atau bangunan hijau menjadi sangat penting.

Green building bukan sekadar gedung dengan tanaman di sekelilingnya. Green building adalah bangunan yang dirancang untuk menghemat energi, mengurangi limbah, meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, serta memanfaatkan sumber daya secara efisien. Konsep ini sudah berkembang pesat di banyak negara maju. Namun, di negara yang pertumbuhan ekonominya masih berkembang cepat, penerapan green building sering kali tertinggal. Salah satu contohnya adalah Nigeria.

Sebuah penelitian terbaru mencoba memahami bagaimana percepatan penerapan green building bisa dilakukan di negara yang sedang berkembang pesat, dengan menjadikan Nigeria sebagai studi kasus. Penelitian ini melihat kenyataan bahwa meskipun dunia semakin menyadari pentingnya pembangunan hijau, praktik green building di banyak negara Afrika masih sangat terbatas.

Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni

Penelitian ini menggunakan tiga sumber utama. Pertama, para peneliti menganalisis dokumen kebijakan yang terkait dengan green building di Nigeria. Kedua, mereka melakukan kajian pustaka terhadap puluhan penelitian sebelumnya. Ketiga, mereka mempelajari secara langsung enam belas proyek green building yang sudah ada di negara tersebut. Dari sini, mereka mencoba membangun gambaran besar tentang kondisi nyata di lapangan.

Menunjukkan berbagai opsi yang disarankan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Nigeria dalam urutan hierarkis (Ikudayisi & Adegun, 2025).

Upaya pemerintah Nigeria sebenarnya sudah mulai terlihat, tetapi sebagian besar masih berfokus pada efisiensi energi saja. Padahal, green building mencakup aspek yang jauh lebih luas, seperti kualitas lingkungan, kesehatan penghuni, pengelolaan air, dan penggunaan material ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang green building perlu diperluas.

Selain itu, penelitian menemukan sejumlah hambatan utama. Tingkat kompetensi tenaga kerja di bidang green building masih rendah. Banyak arsitek, kontraktor, dan pengembang yang belum memiliki pengetahuan mendalam tentang teknologi bangunan hijau. Investasi di sektor ini juga masih kecil karena banyak pihak menilai biaya awalnya terlalu tinggi. Teknologi pendukung pun masih terbatas, mulai dari material ramah lingkungan hingga sistem evaluasi kinerja energi bangunan.

Jumlah proyek green building yang sudah terealisasi juga masih sedikit. Akibatnya, pengalaman praktis di lapangan masih minim. Situasi ini diperparah oleh rendahnya partisipasi sektor publik. Pemerintah belum sepenuhnya menjadikan green building sebagai prioritas utama dalam program pembangunan.

Namun, penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi masalah. Para peneliti juga menawarkan jalan keluar melalui tiga jalur percepatan atau pathways. Tiga jalur ini meliputi jalur kebijakan, jalur penelitian, dan jalur praktik.

Pada jalur kebijakan, pemerintah diharapkan dapat mengembangkan standar bangunan hijau yang jelas dan menyeluruh. Regulasi perlu memasukkan unsur keberlanjutan, bukan hanya efisiensi energi. Pemerintah juga perlu menyelaraskan berbagai aturan agar konsisten dan mendukung penerapan green building. Selain itu, mekanisme pemantauan kinerja bangunan sangat penting agar green building tidak hanya menjadi label tanpa makna.

Pada jalur penelitian, universitas dan lembaga ilmiah memiliki peran vital. Mereka perlu mengembangkan model desain, teknologi, dan metode evaluasi green building yang sesuai dengan kondisi lokal. Setiap negara memiliki iklim, budaya, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang berhasil di negara lain belum tentu bisa diterapkan begitu saja. Pengetahuan lokal harus dikembangkan agar solusi yang dihasilkan lebih tepat sasaran.

Pada jalur praktik, kapasitas sumber daya manusia menjadi fokus utama. Arsitek, insinyur, kontraktor, dan tenaga lapangan perlu mendapatkan pelatihan mengenai konsep dan teknologi green building. Selain itu, pemerintah dan sektor swasta perlu meningkatkan investasi, baik dalam proyek percontohan maupun pengembangan pasar. Kolaborasi lintas sektor juga sangat penting, termasuk kerja sama antara pemerintah, pengembang, akademisi, dan masyarakat.

Green building tidak akan berkembang hanya dengan satu pihak yang bekerja sendirian. Semua pemangku kepentingan perlu bergerak bersama. Pemerintah menyediakan regulasi dan dukungan. Akademisi menyediakan pengetahuan. Industri menyediakan teknologi dan penerapan nyata. Masyarakat memberikan dukungan moral dan pilihan konsumsi yang lebih bijak.

Penelitian ini memberi gambaran bahwa percepatan green building di negara berkembang bukan sekadar masalah teknis. Ini juga merupakan tantangan sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Perubahan membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen. Namun, manfaat jangka panjangnya sangat besar. Kota menjadi lebih sehat. Udara menjadi lebih bersih. Konsumsi energi menurun. Kualitas hidup masyarakat meningkat.

Pelajaran penting dari penelitian ini dapat diterapkan di banyak negara berkembang lainnya, termasuk di kawasan Asia dan Afrika. Setiap negara bisa menemukan jalur terbaik sesuai kondisi masing masing, tetapi prinsip dasarnya tetap sama. Green building merupakan investasi untuk masa depan bumi.

Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar kecepatan dan keuntungan ekonomi. Pembangunan harus memikirkan dampaknya terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Green building memberi kita kesempatan untuk membangun kota yang indah, modern, dan sekaligus ramah bumi.

Jika negara negara berkembang berani mengambil langkah ini, dunia akan bergerak lebih dekat menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Pembangunan tidak lagi menjadi beban bagi lingkungan, tetapi justru menjadi bagian dari solusinya.

Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building

REFERENSI:

Ikudayisi, Ayodele Emmanuel & Adegun, Olumuyiwa Bayode. 2025. Pathways for green building acceleration in fast-growing countries: a case study on Nigeria. Built Environment Project and Asset Management 15 (3), 450-466.


About the Author: Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave A Comment