Value Engineering: Cara Cerdas Mewujudkan Green Building yang Terjangkau
Dunia konstruksi terus mencari cara agar pembangunan tetap berjalan tanpa merusak lingkungan dan tanpa membebani biaya. Para peneliti kini menyoroti satu pendekatan penting yang disebut value engineering. Pendekatan ini membantu proyek bangunan menemukan keseimbangan terbaik antara biaya, kualitas, kinerja, keberlanjutan, dan efisiensi energi. Dengan kata lain, value engineering membantu menghasilkan bangunan hijau yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tetap terjangkau.
Value engineering bukanlah cara untuk sekadar memangkas biaya. Banyak orang salah paham bahwa teknik ini hanya bertujuan mengurangi pengeluaran. Padahal, tujuan sebenarnya adalah meningkatkan nilai proyek. Nilai ini dilihat dari banyak aspek, seperti kenyamanan penghuni, daya tahan material, keamanan, dampak lingkungan, dan konsumsi energi. Jika sebuah bangunan hemat biaya tetapi boros energi atau tidak nyaman dihuni, maka nilainya tetap rendah.
Baca juga artikel tentang: Menghubungkan Kesehatan dan Lingkungan: Dampak Positif Bangunan Hijau terhadap Kesehatan Penghuni
Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menggabungkan konsep value engineering ke dalam proses perancangan green building. Mereka menggunakan kerangka teori yang membantu menyusun proses analisis secara sistematis. Melalui kerangka ini, tim peneliti mengevaluasi setiap elemen bangunan, mulai dari bahan yang digunakan, sistem yang dipasang, hingga desain keseluruhan. Tujuannya adalah menemukan pilihan terbaik yang memberikan hasil maksimal dengan biaya yang tetap masuk akal.
Salah satu langkah penting dalam value engineering adalah menilai kembali material yang dipakai. Banyak material bangunan konvensional ternyata kurang ramah lingkungan atau memiliki konsumsi energi besar dalam proses produksinya. Melalui analisis yang cermat, beberapa material bisa diganti dengan alternatif yang lebih hijau tanpa mengorbankan kualitas. Contohnya, bahan isolasi yang lebih efisien, material daur ulang, atau bahan yang membutuhkan energi lebih sedikit saat produksi.

Model struktur bangunan yang dianalisis dengan skema warna untuk menunjukkan tingkat kinerja atau efisiensi pada berbagai elemen bangunan dalam konteks inovasi green building (Kumara, dkk. 2025).
Pendekatan ini juga melihat bagaimana setiap komponen bangunan berfungsi secara keseluruhan. Sebuah sistem mungkin terlihat mahal di awal, tetapi jika mampu menghemat energi dalam jangka panjang, nilai keseluruhannya justru meningkat. Misalnya, pemasangan jendela berlapis khusus memang membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan kaca biasa. Namun, jendela ini mampu mengurangi panas yang masuk ke dalam ruangan, sehingga penggunaan pendingin udara berkurang. Dalam beberapa tahun, penghematan energi tersebut dapat menutup biaya awal pemasangan.
Value engineering membantu pengambil keputusan menghitung hal hal seperti ini secara terstruktur, bukan berdasarkan perkiraan semata.
Selain itu, value engineering juga menekankan pentingnya efisiensi energi sebagai bagian dari peningkatan nilai bangunan. Green building tidak hanya dilihat dari materialnya saja, tetapi juga dari cara bangunan menggunakan energi sepanjang masa pakainya. Penghematan energi akan mengurangi penggunaan listrik, mengurangi emisi karbon, dan memberi dampak ekonomi positif bagi pemilik bangunan.
Pendekatan ini memberikan manfaat besar bagi inovasi green building. Ketika arsitek, insinyur, dan pengembang menggunakan kerangka value engineering, mereka tidak hanya bertanya, “Berapa biaya membangun ini?” tetapi juga, “Apa manfaat jangka panjangnya?” dan “Apakah ada cara yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan?” Pertanyaan pertanyaan ini membuka ruang untuk kreativitas dan pengembangan teknologi baru.
Penelitian tersebut menemukan bahwa value engineering mampu mendorong terciptanya lingkungan binaan yang ramah lingkungan sekaligus layak secara ekonomi. Ini sangat penting, terutama di negara negara berkembang yang masih menghadapi tantangan biaya dalam pembangunan berkelanjutan. Green building sering dianggap mahal. Namun melalui pendekatan ini, pengembang dapat menemukan solusi yang efisien tanpa harus menaikkan biaya secara berlebihan.
Manfaat lain yang disoroti penelitian ini adalah kontribusinya terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Dunia kini sedang bergerak menuju masa depan yang lebih hijau. Setiap sektor diminta berpartisipasi, termasuk sektor konstruksi yang menyumbang emisi besar. Value engineering membantu proyek konstruksi menurunkan dampak lingkungan melalui pemilihan material yang tepat, desain yang efisien, serta pemanfaatan teknologi hemat energi.
Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa value engineering harus dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab. Jika hanya mengejar penurunan biaya tanpa memahami konsep keberlanjutan, maka hasilnya bisa merugikan. Karena itu, para ahli yang terlibat perlu memiliki pemahaman mendalam tentang green building, teknologi material, dan dampak lingkungan.
Bagi masyarakat umum, mungkin muncul pertanyaan sederhana. Apa hubungannya value engineering dengan kehidupan sehari hari? Jawabannya cukup jelas. Jika rumah, sekolah, kantor, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan dirancang menggunakan pendekatan ini, maka bangunan akan menjadi lebih nyaman, lebih hemat energi, dan lebih sehat untuk ditinggali. Biaya listrik menurun, dan lingkungan sekitar tetap terjaga.
Pendekatan ini juga membantu mengurangi limbah konstruksi. Setiap pemilihan material dipertimbangkan dari siklus hidupnya. Artinya, bukan hanya saat dipasang, tetapi juga saat sudah tidak digunakan lagi. Material yang dapat didaur ulang atau kembali ke alam tanpa mencemari lingkungan tentu memiliki nilai lebih tinggi.
Di sisi industri, value engineering mendorong perubahan cara berpikir. Perusahaan tidak lagi hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi melihat nilai jangka panjang dari inovasi hijau. Teknologi efisiensi energi, desain ramah lingkungan, dan pengelolaan sumber daya yang bijak menjadi fokus baru.
Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa inovasi green building tidak hanya bergantung pada penemuan material baru atau teknologi canggih. Inovasi juga bisa muncul dari cara kita berpikir tentang nilai dan fungsi bangunan. Dengan kerangka value engineering, setiap keputusan dalam proyek konstruksi menjadi lebih terarah, terukur, dan selaras dengan tujuan keberlanjutan.
Bumi membutuhkan lebih banyak bangunan yang ramah lingkungan. Namun, dunia nyata juga menuntut agar pembangunan tetap efisien secara ekonomi. Value engineering hadir sebagai jembatan yang menyatukan kedua kebutuhan tersebut. Jika pendekatan ini diterapkan secara luas, masa depan kota kota kita dapat menjadi lebih hijau tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Green building pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal cara kita melihat nilai kehidupan. Bangunan yang baik bukan hanya berdiri kokoh, tetapi juga memberi manfaat besar bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Value engineering membantu memastikan bahwa setiap batu, setiap material, dan setiap desain bergerak menuju tujuan tersebut.
Baca juga artikel tentang: Gedung Yang Bisa Berpikir: Standar Baru Mengukur Smart Building
REFERENSI:
Kumara, I Nyoman Indra dkk. 2025. Value Engineering in Enhancing Green Building Innovation. Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology 10 (1).








