Kota Pintar yang Manusiawi: Pelajaran dari Transformasi Najran
Najran sedang membangun masa depan kotanya dengan cara yang berbeda. Kota di Arab Saudi ini tidak sekadar menambah bangunan baru atau membangun jalan yang lebih lebar. Najran ingin menjadi kota pintar yang berkelanjutan, kota yang mampu memanfaatkan teknologi, memberdayakan masyarakat, dan tetap ramah lingkungan meskipun urbanisasi terus meningkat.
Urbanisasi berarti semakin banyak orang pindah ke kota. Fenomena ini membawa banyak peluang, seperti pertumbuhan ekonomi, peluang kerja, dan perkembangan teknologi. Namun urbanisasi juga menghadirkan tantangan besar. Kota menjadi semakin padat, kebutuhan energi meningkat, lalu lintas semakin ramai, dan kualitas lingkungan berisiko menurun jika tidak dikelola dengan baik. Najran berada tepat di tengah situasi tersebut.
Baca juga artikel tentang: Mengintip Teknologi Bangunan Hijau Tercanggih di Dunia Tahun 2025
Para peneliti kemudian melihat bagaimana Najran berusaha menjawab tantangan itu melalui pembangunan kota pintar. Kota pintar bukan hanya tentang gedung tinggi dengan teknologi canggih. Kota pintar berarti sistem kota bisa bekerja lebih efisien, pelayanan publik lebih cepat, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih nyaman. Semua itu tetap harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan, yaitu menjaga lingkungan dan kualitas hidup jangka panjang.
Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa Najran mulai mengadopsi berbagai teknologi modern. Teknologi Internet of Things misalnya, memungkinkan berbagai perangkat terhubung dan mengirimkan data secara real time. Sensor kota dapat memantau kondisi lalu lintas, penggunaan energi, atau kualitas udara. Data itu kemudian membantu pemerintah dan pengelola kota membuat keputusan yang lebih cerdas. Misalnya, lampu jalan dapat diatur sesuai kebutuhan, sistem energi dapat dibuat lebih efisien, dan layanan darurat bisa merespons lebih cepat.

Kerangka penelitian yang menganalisis bagaimana elemen smart city, seperti smart mobility, smart economy, smart governance, smart building, dan smart living, mempengaruhi keberlanjutan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kualitas hidup di Kota Najran (Alotaibi, dkk. 2025).
Namun teknologi hanyalah satu bagian dari cerita. Kota pintar yang benar benar berhasil membutuhkan partisipasi warga. Najran menyadari bahwa masyarakat harus ikut terlibat dalam proses perencanaan kota. Pemerintah mulai mendorong model tata kelola yang partisipatif. Warga bisa menyampaikan masukan, kritik, dan ide. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Pendekatan ini menciptakan rasa memiliki pada warga kota. Mereka tidak merasa hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari proses pembangunan. Ketika masyarakat ikut terlibat, solusi yang dihasilkan menjadi lebih kreatif, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan. Kota pintar akhirnya menjadi kota manusiawi, bukan sekadar kota digital.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan konsep kota pintar membawa dampak positif bagi keberlanjutan kota. Teknologi membantu menghemat energi, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya. Hal ini sangat penting di wilayah seperti Arab Saudi yang memiliki lingkungan gurun dan tantangan ketersediaan air.
Namun peneliti juga memberikan peringatan. Teknologi yang digunakan secara berlebihan bisa menghadirkan risiko baru. Jika sebuah kota terlalu berfokus pada alat dan sistem digital, maka perhatian terhadap aspek kemanusiaan bisa berkurang. Kota bisa saja menjadi sangat canggih, tetapi warganya merasa terasing atau kehilangan interaksi sosial. Di beberapa kasus, teknologi malah memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat jika tidak digunakan dengan bijak.
Karena itu, keseimbangan menjadi hal yang sangat penting. Teknologi harus berperan sebagai alat bantu, bukan penguasa. Kota tetap harus berpusat pada manusia. Kebijakan yang dibuat perlu mempertimbangkan nilai budaya, kebutuhan emosional, dan kualitas hidup masyarakat. Kota pintar yang ideal bukan hanya cepat dan efisien, tetapi juga hangat dan peduli.
Pelajaran dari Najran ternyata relevan untuk banyak kota lain di dunia. Banyak negara menghadapi urbanisasi yang cepat, tekanan terhadap sumber daya, perubahan iklim, dan tuntutan untuk mengurangi emisi karbon. Kota kota ini membutuhkan pendekatan baru dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan perkotaan. Najran memberikan contoh bahwa teknologi dapat membantu, tetapi hanya jika digabungkan dengan partisipasi masyarakat dan visi keberlanjutan jangka panjang.
Penelitian ini menyimpulkan beberapa hal penting. Pembangunan kota pintar harus berorientasi pada manusia. Keberlanjutan tidak boleh diabaikan. Partisipasi masyarakat menjadi syarat utama. Selain itu, setiap kota memiliki karakter unik. Tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua tempat. Kota perlu menyesuaikan pendekatan sesuai kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan geografis masing masing.
Najran menunjukkan bahwa perjalanan menuju kota pintar bukan proses instan. Proses ini membutuhkan komitmen, inovasi, dan kemampuan belajar dari pengalaman. Perubahan teknologi akan terus terjadi, dan kota harus siap beradaptasi. Di saat yang sama, nilai nilai kemanusiaan perlu tetap dijaga agar kota tidak kehilangan jiwanya.
Kota pintar bukan tujuan akhir. Kota pintar hanyalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Selama teknologi tetap berada di tangan manusia yang bijaksana, kota kota masa depan dapat berkembang menjadi tempat yang lebih hijau, lebih efisien, dan lebih sejahtera. Najran kini sedang berjalan ke arah itu, dan perjalanannya memberi inspirasi bagi banyak kota lain di dunia yang sedang menghadapi tantangan serupa.
Baca juga artikel tentang: Focus Group Discussion Lintas Sektor Bahas Teknologi Prefabrikasi untuk Percepatan Hunian Layak dan Hijau di Indonesia
REFERENSI:
Alotaibi, Badr Saad dkk. 2025. Enhancing Najran’s sustainable smart city development in the face of urbanization challenges in Saudi-Arabia. Journal of Asian Architecture and Building Engineering 24 (4), 2905-2935.








