Rumah yang Semakin Cerdas, Mengapa Penggunaannya Tidak Tumbuh Secepat yang Diharapkan?

Last Updated: 10 January 2026By
📖 ࣪ Banyaknya pembaca: 1

Orang Malaysia hidup di tengah dunia yang semakin terhubung oleh internet. Ponsel selalu di tangan, pembayaran bisa dilakukan lewat aplikasi, dan layanan publik mulai beralih ke platform digital. Namun, ada satu teknologi yang justru tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan, yaitu rumah pintar atau smart home. Padahal, teknologi ini menjanjikan kemudahan, keamanan, dan efisiensi energi. Penelitian terbaru dari Leong Yee Rock dan Farzana Parveen Tajudeen mencoba menjawab pertanyaan sederhana tetapi penting, mengapa adopsi smart home di Malaysia masih relatif rendah dibandingkan banyak negara lain.

Smart home berbasis Internet of Things atau IoT berarti berbagai perangkat di rumah terhubung ke internet dan dapat saling berkomunikasi. Lampu bisa menyala sendiri saat seseorang masuk ruangan, kamera keamanan dapat diakses dari ponsel, dan pintu bisa dikunci dari jarak jauh. Teknologi ini bukan lagi fiksi ilmiah karena produk semacam itu sudah dijual bebas di pasaran. Namun, kenyataannya banyak orang tetap enggan memasangnya di rumah mereka.

Baca juga artikel tentang: Arsitektur Cerdas Yang Bisa Mengurangi Emisi Dan Penggunaan Energi

Untuk memahami perilaku ini, para peneliti menggunakan Fogg Behavior Model. Model ini menyatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu tindakan jika tiga hal bertemu pada saat yang sama, yaitu motivasi, kemampuan, dan pemicu. Dalam konteks smart home, motivasi berarti keinginan seseorang untuk menggunakan teknologi tersebut, kemampuan berarti kemudahan dalam menggunakannya, dan pemicu adalah dorongan yang membuat orang benar benar mulai menggunakannya.

Para peneliti mengumpulkan data dari 425 pengguna nyata teknologi smart home di Malaysia. Mereka menjawab kuesioner yang dirancang berdasarkan penelitian sebelumnya dan wawancara awal. Data tersebut kemudian dianalisis dengan metode statistik yang canggih untuk melihat faktor mana yang paling berpengaruh terhadap penggunaan teknologi rumah pintar.

Model Struktural Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Teknologi Rumah Pintar (Rock & Tajudeen, 2026).

Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah peran besar dari apa yang disebut sebagai relative advantage atau keunggulan relatif. Orang cenderung mau menggunakan smart home jika mereka merasa teknologi itu benar benar memberi keuntungan nyata dibanding cara lama. Contohnya, kamera pintar yang bisa dipantau dari ponsel memberi rasa aman lebih besar dibanding kunci pintu biasa. Jika manfaat ini terasa jelas, orang lebih mau mengadopsinya.

Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah ancaman atau threats. Banyak orang membeli perangkat smart home bukan hanya karena tertarik pada teknologi, tetapi karena mereka merasa butuh perlindungan. Kamera keamanan, sensor gerak, dan kunci pintar menjadi populer karena kekhawatiran terhadap pencurian atau penyusupan. Dalam hal ini, rasa takut justru menjadi pendorong adopsi teknologi.

Selain itu, aspek kesenangan atau enjoyment juga memainkan peran penting. Menggunakan aplikasi untuk menyalakan lampu, mengatur suhu ruangan, atau melihat kondisi rumah dari jarak jauh bisa terasa menyenangkan dan modern. Rasa puas karena mengendalikan rumah sendiri lewat ponsel memberi pengalaman yang berbeda dibanding cara tradisional.

Faktor sosial juga tidak bisa diabaikan. Social presence atau kehadiran sosial berarti pengaruh dari orang lain di sekitar kita. Jika teman, keluarga, atau tetangga menggunakan smart home dan membicarakannya, seseorang akan lebih tertarik untuk mencoba. Teknologi sering menyebar bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena tekanan dan contoh dari lingkungan sosial.

Harga tetap menjadi pertimbangan penting. Walaupun perangkat smart home semakin murah, bagi banyak orang Malaysia biaya awal masih terasa tinggi. Selain membeli perangkat, pengguna juga harus memikirkan biaya pemasangan, perawatan, dan terkadang langganan layanan berbasis cloud. Jika manfaat yang dirasakan tidak sebanding dengan biaya, orang akan ragu untuk berinvestasi.

Kemudahan penggunaan atau usability juga sangat menentukan. Jika aplikasi sulit dipahami, perangkat sering bermasalah, atau pengaturannya rumit, orang cepat kehilangan minat. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi yang sederhana dan intuitif lebih mungkin dipakai secara rutin. Orang tidak ingin menghabiskan waktu lama hanya untuk menyalakan lampu atau memeriksa kamera.

Kondisi pendukung atau facilitating conditions seperti koneksi internet yang stabil dan dukungan teknis juga berpengaruh. Di daerah dengan jaringan internet yang tidak andal, perangkat smart home sering tidak bekerja optimal. Hal ini membuat pengguna frustrasi dan enggan melanjutkan pemakaian.

Kepercayaan terhadap penjual atau trust in vendors menjadi faktor yang semakin penting. Smart home berarti data pribadi seperti kebiasaan di rumah, jadwal keluar masuk, bahkan gambar dari kamera tersimpan di sistem perusahaan. Jika pengguna tidak percaya bahwa perusahaan akan menjaga data mereka dengan baik, mereka cenderung menolak teknologi tersebut.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa faktor trialability atau kesempatan untuk mencoba sebelum membeli justru kurang relevan. Di era belanja online dan ulasan digital, orang lebih banyak mengandalkan review dan rekomendasi daripada mencoba langsung di toko. Ini menunjukkan perubahan besar dalam cara konsumen mengambil keputusan.

Dari sisi demografi, penelitian menunjukkan bahwa perangkat IoT yang paling banyak digunakan adalah produk keamanan seperti kamera pintar dan kunci pintu pintar. Ini menguatkan temuan bahwa rasa aman menjadi alasan utama orang memasang smart home. Fitur hiburan atau kenyamanan seperti lampu otomatis dan speaker pintar juga digunakan, tetapi tidak sepopuler perangkat keamanan.

Secara lebih luas, temuan ini penting bukan hanya bagi peneliti, tetapi juga bagi perusahaan dan pembuat kebijakan. Jika ingin meningkatkan adopsi smart home, strategi pemasaran harus menekankan kemudahan penggunaan, manfaat nyata, dan rasa aman. Perusahaan juga perlu membangun kepercayaan dengan menjelaskan bagaimana data pengguna dilindungi.

Bagi pemerintah dan pengembang kota pintar, pemahaman ini membantu merancang program yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Smart home adalah bagian dari smart building dan smart city, di mana bangunan dan lingkungan hidup semakin terhubung dengan teknologi digital. Namun, teknologi hanya akan berhasil jika manusia mau dan mampu menggunakannya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya soal kecanggihan perangkat, tetapi juga tentang psikologi manusia. Orang butuh merasa aman, merasa mampu, dan merasa didorong untuk mencoba. Tanpa ketiga hal ini, teknologi secanggih apa pun akan tetap menjadi barang yang jarang digunakan.

Rumah pintar bukan sekadar kumpulan sensor dan aplikasi. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari hari. Ketika teknologi berhasil menyatu dengan kebiasaan manusia tanpa terasa rumit, barulah kita bisa melihat potensi penuhnya. Studi di Malaysia ini memberi pelajaran bahwa masa depan rumah pintar tidak hanya dibangun oleh insinyur, tetapi juga oleh cara manusia berpikir, merasa, dan memutuskan.

Baca juga artikel tentang: Bagaimana Machine Learning Mengubah Cara Gedung Menggunakan Energi?

REFERENSI:

Rock, Leong Yee & Tajudeen, Farzana Parveen. 2026. Exploring the adoption of iot-based smart home technology in malaysia: an empirical study using the fogg behavior model. Current Psychology 45 (2), 166.

About the Author: Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave A Comment